[Khilafah Rasyidah] Memerangi Realiti Rosak Warisan Sistem Lama (Bahagian 4/6)
Penulis: dr. Hamdan Fahmi
(Sambungan dari Bahagian 3/6)
- Pegawai administratif dan para pemegang tugas sensitif
Realiti yang diwariskan oleh sistem sebelumnya merupakan realiti yang sudah terinfeksi oleh idea-idea dan orang-orang yang menganut berbagai pemikiran. Juga terinfeksi oleh kerosakan dan orang-orang rosak yang mengeksploitasi kedudukan administratif atau kepemimpinan dalam berbagai urusan negara dan militer atau berbagai institusi pemerintahan.
Ketika sampai ke tampuk pemerintahan, maka perlu aktiviti pembersihan yang dilakukan berdasarkan rombakan dan pertanggungjawaban, serta mengembalikan pelbagai urusan sesuai ketentuan syariat dalam segenap urusan negara. Di antara urusan yang memerlukan pembersihan dan solusi adalah masalah orang-orang yang memanfaatkan berbagai kedudukan (jawatan) sensitif di dalam negara dan tidak selamat dari sisinya, baik secara pemikiran mahupun praktikal.
Aktiviti pembersihan dan rombakan itu diperhatikan dari empat aspek:
Pertama, urusan pemerintahan dan berbagai tugas administratif, kewangan, atau lainnya yang terkait dengan urusan pemerintahan.
Kedua, posisi-posisi sensitif seperti kepemimpinan militer dan urusan-urusan peradilan, serta posisi-posisi lainnya yang memiliki sensitiviti dan pengaruh dalam kehidupan masyarakat dan keselamatan negeri.
Ketiga, urusan-urusan kewangan di peringkat pusat, seperti penganggaran dan perbelanjaan negara, pengagihan harta, pemungutannya, penjagaannya, serta pemantauan pelaksanaannya dalam segenap urusan.
Keempat, urusan administratif yang sensitif, seperti ketua-ketua direktorat yang berkaitan dengan pemerintahan, kewangan, atau urusan-urusan penting lainnya. Juga urusan yang tidak sensitif, seperti perjawatan dan tugas lainnya.
Masalah-masalah ini perlu diperhatikan secara menyeluruh dan mendalam kerana akan mempengaruhi pelaksanaan dan perjalanan berbagai urusan di dalam negara. Bertahannya orang-orang yang menjadi ejen asing pada posisi ini mungkin akan dimanfaatkan oleh negara-negara kafir atau pemerintah-pemerintah yang menjadi kaki tangan kafir di dunia Islam.
Urusan pemerintahan dan urusan-urusan yang terkait langsung dengannya, baik urusan-urusan administratif atau kewangan, maka tidak akan ditempatkan, kecuali orang-orang yang berkemampuan (profesional) dan ikhlas. Demikian juga urusan-urusan militer peringkat tinggi dan urusan kewangan yang sensitif.
Dalam urusan-urusan tersebut, individu yang “aman” (tiada ancaman) dipilih, yakni daripada kalangan aktivis senior dari pelbagai institusi atau daripada mereka yang mempunyai kemampuan dalam kalangan umat. Namun, dengan syarat seorang pengawas dilantik bagi mereka pada peringkat awal. Langkah ini diteruskan sehingga negara berupaya menyiapkan barisan individu yang amanah dalam pelbagai bidang dengan lebih kukuh dan lebih terjamin berbanding mereka yang sebelumnya, yang dikekalkan pada posisi masing-masing.
Demikian juga urusan-urusan negara lainnya dalam masalah administratif dan institusi-institusi yang ada di bawah negara, peradilan, dan lainnya. Pada urusan-urusan tersebut ditempatkan orang-orang yang berkemampuan (profesional) dari mereka-mereka yang “aman”. Mereka bukan termasuk orang-orang lama, yang diragukan, dan memiliki hubungan dengan sistem lama atau dengan negara-negara kafir.
Seiring dengan hal itu, ditetapkan para pengawas terhadap semua institusi hingga tercapai kekokohan. Negara telah menjadi kuat sehingga mampu untuk menancapkan kakinya di antara negara-negara lain di dunia.
Adapun orang-orang yang tidak aman (berisiko) dari sisinya atau terdapat keraguan terhadap mereka dalam hubungan mereka dengan sistem lama atau dengan negara-negara jiran Daulah Islamiah atau negara-negara kafir, maka mereka diberhentikan dan dilucutkan dari posisi mereka. Mereka yang terbukti melakukan penyimpangan, khususnya dalam masalah kewangan, akan diminta pertanggungjawaban, seperti yang akan kami sebutkan ketika membicarakan tentang masalah-masalah dan sisa masalah-masalah masyarakat peninggalan sistem lama.
Pada hakikatnya, masalah dalam pemilihan dan pembersihan ini dahulu telah dilakukan oleh Rasulullah SAW ketika baginda meraih tampuk pemerintahan dan kekuasaan di Madinah al-Munawwarah. Baginda memilih orang-orang yang berkemampuan dari mereka yang lebih dahulu memeluk Islam dan menolong dakwah, seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan selain mereka.
Baginda juga memilih orang-orang yang berkemampuan dalam masalah militer, seperti Khalid bin Walid dan Usamah bin Zaid. Demikian juga baginda memilih para wali, sedangkan urusan-urusan negara lainnya dari orang-orang terbaik di antara mereka yang kompeten. Dinyatakan di dalam hadis bahawa ketika Abu Dzar ra. meminta jawatan, Rasulullah SAW menolak untuk mengangkat Abu Dzar. Baginda bersabda, “Sesungguhnya engkau seorang yang lemah. …”
Padahal Abu Dzar adalah seorang yang bertakwa, bersih, amanah, dan keras dalam urusan kebenaran, tetapi dia adalah orang yang lemah. Di dalam dirinya terdapat keterbatasan yang tidak sesuai dengan tugas pemeliharaan dan hukum-hukumnya.
Adapun orang-orang lama seperti Abdullah bin Ubay bin Salul dan orang-orang lain yang sebelumnya memiliki kedudukan, mereka dijauhkan oleh Rasulullah SAW dan baginda tidak mempertimbangkan mereka sama sekali.
Sumber: dr. Hamdan Fahmi, Khilafah Rasyidah.
#KhilafahRasyidah #DaulahIslam #IslamKaffah #CabaranTegakDaulah #strukturkepimpinan #strukturadministrasidaulah