[Khilafah Rasyidah] Di Depan Pintu Khilafah (Bahagian 2/5)
Penulis: dr. Hamdan Fahmi
Dengan tali yang dilemparkan oleh aktivis mukhlis ke tengah umat itu, umat dapat menentukan arahnya di tengah lautan yang penuh ombak dan gelap gelita tanpa cahaya. Akhirnya umat menjadi lawan bagi kafir penjajah. Umat mula berdiri menghadapi pemikiran-pemikiran dan strategi-strategi politik kafir penjajah itu. Umat yang sebelumnya bingung dan tersesat tidak mengetahui arah dan jalan, akhirnya menaiki bahtera Islam yang berlayar menuju pintu kemuliaan, keistiqamahan, dan cahaya.
Rintangan ketiga yang telah dilalui oleh umat dan dicampakkan dari jalannya adalah idea-idea yang menghancurkan dan slogan-slogan palsu. Hal ini berupa gerakan-gerakan kemerdekaan yang dijadikan kenderaan oleh umat untuk membebaskan diri dari penjajahan, hingga slogan-slogan nasionalisme, patriotisme, sosialisme, dan lainnya. Akhir nasib sosialisme adalah kepala dan jantungnya dipukul oleh Allah, lalu mati. Sosialisme tidak kembali lagi dan terkubur dalam sejarah.
Semua bahtera dan perahu yang menjadikan slogan-slogan dan idea-idea itu sebagai kompas untuk memandu arahnya dan sebagai penggerak bagi kemajuan dan pergerakannya, semuanya telah tenggelam. Umat mula melaknatnya, melaknat para pemimpinnya, dan orang-orang yang mempromosikan idea-ideanya. Semua ini setelah umat menemui berbagai bencana, musibah, dan kekalahan yang silih berganti.
Rintangan keempat yang berjaya dilalui umat adalah ideologi sosialisme antarabangsa. Ideologi ini tersebar di sebahagian besar dunia dan memikat banyak anak muda kaum muslim. Ideologi ini juga telah menciptakan kekuatan menentang Islam, ideanya, dan akidahnya.
Ideologi tersebut tidak kuat meneruskan perjalanan di tengah hentaman ombak. Anak-anak panahnya dari ideologi tersebut telah patah dan perahunya telah hancur. Sayangnya, sebahagian besar pengikutnya berpindah ke perahu kapitalisme atau terus berjalan tanpa ideologi.
Dahulu, ideologi sosialisme itu telah menjadi musuh berat yang menghadang jalan perjuangan. Orang-orang mukhlis dari umat ini mendapat kelelahan yang luar biasa dalam menentang orang-orang yang mempromosikan idea sosialisme dan dalam menjelaskan kepalsuannya. Namun segala puji hanya bagi Allah yang telah menghentam sosialisme dan menghilangkannya dari muka bumi.
Rintangan kelima yang masih ada–atas izin Allah—dan bahayanya masih terus mengancam di jalan dakwah menuju pintu Khilafah adalah usaha membongkar topeng para penguasa boneka yang telah mengelabui umat dengan berbagai kedustaan dan pembohongan mereka secara politik. Mereka berjalan selaku ejen menggunakan topeng nasionalisme, patriotisme, sosialisme, dan penipuan-penipuan politik, serta pemikiran lainnya.
Telah terjadi berbagai peristiwa fizikal dalam kehidupan kaum muslim yang menyebabkan tersingkapnya aurat para penguasa itu. Seperti terlepasnya Baitulmaqdis di tangan Yahudi dengan bantuan makar para penguasa tersebut dan tuan-tuan mereka. Kemudian seruan mereka untuk melepaskan diri dari tanah Baitulmaqdis melalui perdamaian dengan Yahudi. Demikian pula diamnya para penguasa kaum muslim terhadap kejahatan Amerika menginvasi tanah Afghanistan dan Iraq, dan aktiviti Amerika yang menyembelih leher kaum muslim, serta menghancurkan dan meluluhlantakkan negeri mereka.
Bahkan juga dukungan para penguasa ejen itu kepada Amerika dalam perang melawan keganasan (terorisme). Perang itu padahal merupakan perang terhadap Islam, penganutnya, dan para pengemban dakwah di seluruh muka bumi. Demikian juga kedekatan mereka dengan musuh-musuh umat, seperti orang-orang Hindu (India) melalui penguasa Pakistan, serta seruan mereka untuk berdamai terhadap masalah Kashmir yang muslim dan penduduknya yang dizalimi.
Demikian pula pengumuman perang pemerintah Pakistan terhadap kaum muslim mujahid yang menentang Amerika, keburukan dan kesombongannya di Afghanistan, khususnya di kawasan Waziristan, serta penghancuran masjid Merah di depan mata kaum muslim di Pakistan. Di antara kehinaan para penguasa itu adalah seruan yang diserukan oleh penguasa Iran untuk melakukan pendekatan dan membuka diri terhadap Barat, setelah sebelumnya penguasa Iran menyifatkan Barat (Amerika) sebagai syaitan paling besar.
Termasuk juga berlepasnya penguasa Iran dari sebahagian nilai-nilai Islam yang diserukan oleh Khomeini semasa revolusi. Begitu juga terbongkarnya tindakan para pemimpin nasionalis dan Islami yang keduanya berjalan untuk membebaskan tanah Baitulmaqdis, bermula dari laut hingga sungainya. Hal ini berlaku setelah kesepakatan ditandatangan melalui kaum kafir dan para penolong kaum kafir dari kalangan para penguasa. Kesepakatan terakhir adalah kesepakatan Mekah.
Masih banyak sandiwara para penguasa—muslihat yang direka oleh penjajah—yang telah dibongkar oleh umat. Hakikat perbuatan para penguasa itu akhirnya menjadi jelas bagi setiap orang yang berakal, sejelas matahari di tengah hari.
Rintangan terakhir yang mula berjalan di jalan dakwah adalah terbongkarnya jati diri demokrasi, hak-hak asasi manusia, dan kebebasan yang didendangkan oleh para pengikut sistem kapitalisme dari negara-negara Barat dan ditiru berulang-kali seperti burung belatuk oleh para pemuda kaum muslim di belakang mereka. Hal ini sampai ke tahap sebahagian dari pemuda kaum muslim mengaitkan kemajuan ilmu pengetahuan dan kemakmuran ekonomi di negeri-negeri Barat dengan idea-idea beracun tersebut.
Perkara idea-idea tercela itu telah terbongkar. Aibnya secara pemikiran dan amalan di dalam kehidupan telah menjadi jelas. Akhirnya banyak pemuda kaum muslim yang memahami berbagai penipuan Barat dalam seruan slogan-slogan demokrasi, serta kebebasan dan hak asasi manusia. Para pemuda umat akhirnya mengetahui target-target dan maksud-maksud Barat yang busuk di sebalik berbagai slogan itu.
Mereka akhirnya memahami hakikat demokrasi di negeri-negeri Barat. Mereka juga memahami hakikat slogan-slogan kebebasan, serta berbagai keburukan yang dihasilkan di tengah masyarakat kapitalis di Amerika dan negara-negara Eropah.
Tidak berlebihan jika kami mengatakan bahawa rintangan-rintangan berat itu hampir lenyap secara total dari tengah jalan kaum muslim, khususnya setelah perang fizikal zalim yang direkayasa Amerika dan negara-negara Eropah di negeri-negeri kaum muslim.
Sumber: dr. Hamdan Fahmi, Khilafah Rasyidah.
#KhilafahRasyidah #CabaranTegakDaulah