[Khilafah Rasyidah] Di Depan Pintu Khilafah (Bahagian 3/5)
Penulis: dr. Hamdan Fahmi
(Sambungan dari Bahagian 2/5)
Adapun perkara yang perlu disebutkan sebelum menjelaskan realiti umat saat ini, bahawa di sana terdapat parti politik yang berdiri tegak berdasarkan ideologi Islam, serta telah meraih kemuliaan yang tinggi dan kehormatan rabani yang agung. Bersama umat, parti politik yang berdasarkan ideologi Islam telah sampai pada posisi yang tinggi dan tempat yang baik. Posisi tersebut adalah posisi berdiri di depan pintu Khilafah untuk memasukinya, meskipun terdapat penderitaan dan rintangan yang sangat berat.
Sifat-sifat baik yang saya maksudkan di sini adalah apa yang telah dikerahkan oleh Hizb dan apa yang telah dipersembahkannya sejak sekitar 50 tahun lalu di jalan menuju arah memasuki pintu Khilafah. Pada hakikatnya, ada beberapa pemuda kaum muslim yang menuduh Hizb telah gagal merealisasikan target yang didengungkannya, iaitu tegaknya Khilafah setelah berjuang selama sekitar 50 tahun.
Perkataan tersebut tidak akan keluar, kecuali dari orang yang bodoh atau kecewa, kehilangan semangat atau memang bermaksud menikam keikhlasan Hizb dan perjuangannya. Sungguh, Hizb telah meraih keberhasilan di jalannya menuju terealisasikan targetnya dengan keberhasilan yang nyata. Melalui umat, Hizh telah berhasil sampai pada pintu kemuliaan, setelah sebelumnya umat tersesat dan berjalan menuju target yang fatal, iaitu kematian dan tidak mampu kembali lagi. Benar, Hizb dengan perjuangan dan pertarungan yang panjang dan kuat, selama 50 tahun telah berhasil membebaskan umat dari kemunduran di parit kubur (kematian) yang digali oleh kaum kafir untuk umat.
Bukan hanya itu, Hizb bahkan berhasil membawa umat ke martabat yang menjadikan kaum kafir bimbang terhadap nasib diri dan ideologi mereka akan jatuh di kuburan kematian disebabkan Islam politik. Tuntutan akan Khilafah akhirnya menjadi tuntutan umum yang diadopsi umat. Banyak pemuda-pemuda umat di berbagai penjuru dunia bergerak untuk merealisasikan tuntutan tersebut.
Ketika kita membicarakan tentang Khilafah yang berjalan berdasarkan metode kenabian, pada masa yang sama kita juga membicarakan tentang umat yang dahulu tersesat. Pada masa yang sama, kita juga membicarakan tentang kekuatan permusuhan yang memiliki segenap potensi.
Dengan demikian, anda akan memahami keagungan perjuangan dan prestasi yang telah berhasil diraih oleh Hizb. Negara-negara itu dengan segenap potensi yang dimilikinya tidak mampu menghalanginya. Semua karunia itu hanya kerana Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Berikut ini beberapa sifat yang dijadikan pegangan oleh Hizb dan telah ditempuh selama bertahun-tahun hingga berhasil meraih kemuliaan luhur dan kehormatan tinggi.
Pertama, keikhlasan kerana Allah SWT semata. Hizb tidak meletakkan sesuatu pun di depan pandangannya, kecuali keredhaan Allah SWT sejak hari pertama. Hal itu tetap dilakukan Hizb walaupun banyak serangan keji yang dideritanya dari penentangan para penguasa, kaki tangan penguasa dari kaum intelektual, dan orang-orang yang menyerukan tsaqafah permusuhan terhadap Islam, meskipun kecenderungan dan arahan-arahan mereka berbeza-beza. Juga meskipun berbagai pujukan ditawarkan kepada para pemimpin Hizb sejak awal pendiriannya dan sepanjang perjalanannya.
Walaupun terdapat permusuhan yang jelas dan berbagai pujuk rayu, Hizb terus saja mencari keredhaan Allah Taala. Hal itu sama sebagaimana Rasulullah SAW yang ditemui penduduk Mekah, lalu mereka menawarkan harta agar baginda menjadi orang Arab terkaya, mengahwinkan baginda dengan wanita mereka yang paling cantik jelita, serta akan menjadikan baginda sebagai raja mereka. Semua ini sebagai imbalan agar Rasulullah SAW meninggalkan aktiviti mencela tuhan-tuhan mereka.
Namun, Rasulullah SAW menjawab mereka, “Katakanlah (wahai Muhammad): “Hai orang-orang kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak mahu menyembah (Allah) yang aku sembah. Dan aku tidak akan beribadat secara kamu beribadat. Dan kamu pula tidak mahu beribadat secara aku beribadat.Bagi kamu agama kamu, dan bagiku agamaku”. (TMQ Al-Kaafiruun [109]:6)
Hizb telah menolak untuk berinteraksi dengan sistem jahat apa pun di antara ejen-ejen penjajah. Hizb juga menolak kedudukan apa pun atau rekonsiliasi dengan negara-negara di dunia Islam selama 50 tahun, bahkan lebih.
Kedua, kesucian dan kemurnian pemikiran yang membezakan Hizb dengan gerakan-gerakan Islam lainnya di dunia Islam. Hizb telah mengehadkan idea-ideanya dengan had atau pembatasan yang mendalam dan jelas, baik idea yang berkaitan dengan fikrah atau thariqah (metode) menuju target yang diperjuangkan atau pun berkaitan dengan idea-idea lainnya.
Untuk hal itu, Hizb telah menetapkan tsaqafah yang terpenuhi dari segala sisinya, baik tsaqafah itu berkaitan dengan garis perjalanan sebelum Daulah berdiri atau sesudah Daulah berdiri selama serah terima kekuasaan dan penerapan Islam. Termasuk juga segala yang diperlukan untuk menentang dan melawan berbagai rintangan yang menghadang pada tahapan mana pun pada saat sebelum atau sesudah Daulah berdiri.
Pada hakikatnya, kedalaman dan pembatasan ini tidak diadopsi oleh jemaah lainnya di dunia Islam. Sebahagian besar gerakan di dunia Islam berjalan di jalan yang terbuka tanpa pembatasan, baik fikrah mahupun thariqah, dan tidak pula hingga target yang diperjuangkan.
Ketiga, keteguhan dan keberlanjutan berada di atas metode perjuangan menuju target. Ini merupakan kenikmatan yang besar dari Allah SWT yang telah dikurniakan kepada Hizb. Meskipun perjuangan keras telah berlalu selama 50 tahun, mengalami penentangan terhadap berbagai rintangan, penjara, penyeksaan, dan kesyahidan, Hizb tetap berpegang teguh. Kegoncangan keras dan pukulan dahsyat di dalamnya tidak berpengaruh sedikit pun.
Bahkan Hizb makin berpegang teguh dan kuat. Persiapan-persiapannya makin bertambah hari demi hari. Pintu yang tertutup rapat di hadapannya mulai terbuka. Ikatannya makin kuat, tsaqafah makin bertambah luas, bersih, murni, dan mendalam dari hari ke hari.
Ini merupakan kemuliaan dari Allah yang telah berhasil diraih oleh Hizb tersebab keikhlasannya kerana Allah SWT semata. Hal itu berlawanan dengan berbagai gerakan lain yang terpecah dalam lebih dari satu negeri, hingga di dalam satu negeri.
Hal tersebut di antaranya kerana pengaruh mencari keselamatan dan bergabung di bawah ketiak negara-negara ejen di dunia Islam. Di antaranya ada yang menjauhi kebenaran di jalan perjuangannya. Sesuatu yang menyebabkan sampainya gerakan itu pada poin menarik diri dari seluruh idea-ideanya dan berbalik arah 180 darjah dari metodenya, seperti yang terjadi akhir-akhir ini.
Sumber: dr. Hamdan Fahmi, Khilafah Rasyidah.