Jauh dari Kata Sukar: Cara Islam Memandang Kemampuan Kita
Pernahkah anda merasa “burnout” secara spiritual kerana merasa tidak mampu menjadi Muslim yang sempurna? Di tengah tuntutan zaman yang serba cepat, banyak daripada kita terjebak dalam rasa bersalah, memandang syariat sebagai deretan beban yang mustahil dipikul sepenuhnya. Namun, jika kita menyelami Hadis ke-9 dalam Arbain Nawawiyah, kita akan menemukan sebuah paradigma yang membebaskan: bahawa Islam tidak dirancang untuk mematahkan pundak kita, melainkan untuk menata langkah sesuai kapasiti yang ada tanpa mengorbankan prinsip.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ صَخْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ، وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ مَنْ قَبْلَكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلاَفُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ . رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ
Dari Abu Hurairah ‘Abdurrahman bin Shakr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Apa saja yang aku larang, maka jauhilah. Dan apa saja yang aku perintahkan, maka kerjakanlah semampu kalian. Sesungguhnya yang telah membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah banyak bertanya dan menyelisihi perintah nabi-nabi mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 7288 dan Muslim, no. 1337]
Berikut adalah empat makna dari hadis tersebut yang akan mengubah cara anda memandang hubungan antara ketaatan dan kemampuan diri.
- Asimetri Ketaatan: Larangan Itu Mutlak, Perintah Itu Fleksibel
Satu perkara penting yang sering dilupakan adalah perbezaan redaksi yang digunakan Rasulullah SAW saat berbicara tentang larangan dan perintah. Baginda bersabda:
“Apa sahaja yang aku larang dari kalian, maka jauhilah, dan apa saja yang aku perintahkan maka lakukanlah semampu kalian.”
Di sini terdapat asimetri rahmah. Untuk larangan (nahyu), perintahnya bersifat total: jauhilah. Mengapa? Kerana secara teknikalnya, menjauhi dosa seringkali bersifat pasif—cukup dengan diam atau tidak bertindak. Menjauhi khamr (arak), zina, atau mencuri pada dasarnya tidak memerlukan kos atau tenaga ekstra; ia sebaliknya menjimatkan sumber daya (tenaga) kita.
Sebaliknya, perintah (amr) bersifat aktif dan memerlukan sumber daya—fizikal, harta, hingga waktu. Ini kerana melakukan sesuatu memerlukan “biaya” hidup, Islam memberikan klausa semampu kalian. Fleksibiliti ini adalah pengakuan syariat terhadap keterbatasan manusia; bahawa ketaatan tidak boleh menghancurkan eksistensi pelakunya.
- Paradoks Intelektualisme: Tatkala Pertanyaan menjadi Perisai Penundaan
Hadis ini berakar dari sebuah peristiwa (sababul wurud) yang sangat relevan dengan tingkah laku kita hari ini. Ketika Rasulullah SAW mewajibkan haji, seorang lelaki bertanya, “Adakah setiap tahun, ya Rasulullah?” Baginda diam hingga pertanyaan itu diulang tiga kali. Mengapa diam? Diamnya Nabi adalah bentuk kasih sayang. Baginda menjelaskan bahawa jika dia menjawab “Ya,” maka haji setiap tahun akan menjadi wajib, dan umat tidak akan pernah sanggup memenuhinya.
Inilah penyakit terlalu banyak bertanya pada hal-hal yang tidak perlu. Dalam konteks moden, “banyak bertanya” sering kali menjadi perisai intelektual untuk menunda ketaatan. Seperti Bani Israil yang memperincikan spesifikasi lembu yang hendak dikorbankan hingga sebaliknya memberatkan diri sendiri, kita sering terjebak dalam “over-analysis” terhadap hukum yang sudah jelas. Pertanyaan yang tidak lahir dari keperluan mendesak untuk beramal hanya akan berakhir pada perselisihan yang membinasakan peradaban.
- Kedaulatan di Tangan Syariat: Memimpin Peradaban, bukan Mengikuti Arus
Salah satu refleksi ideologi Islam paling tajam dalam hadis ini adalah konsep Kedaulatan Syariat. Dalam Islam, autoriti tertinggi untuk menentukan benar-salah bukanlah pada pandangan umum, trend sosial, atau logik manusia yang berubah-ubah.
Berbeza dengan sistem sekular (Rule of Law buatan manusia), Islam berdiri di atas kedaulatan wahyu. Ada hierarki epistemologi yang jelas:
- Allah dan Rasul-Nya: Sebagai sumber utama pengetahuan dan hukum.
- Akal Manusia: Sebagai alat untuk memahami dan mengimplementasikan wahyu, bukan untuk menciptakan standard kebenaran baru.
Syariat diturunkan untuk memimpin peradaban, bukan untuk mengikut arus peradaban yang sedang kacau. Ketika hukum Allah dianggap susah atau ketinggalan zaman, masalahnya bukan pada hukumnya, melainkan pada ekosistem kita yang telah menjauh daripada fitrah.
- Syariat Itu Compatible (Sesuai): Navigasi antara Keterpaksaan Nyata dan Pilihan Hidup
Realiti terakhir adalah sifat kemudahan yang melekat pada syariat. Islam mengenal rukhsah (kemudahan), namun kita perlu jujur dalam mendefinisikan “kemampuan”.
- Logik Keterpaksaan (Iqrah): Dalam kes dilema pekerjaan (seperti larangan berhijab di tempat bekerja), syariat membezakan antara kesukaran yang dirasakan dengan keterpaksaan nyata. Menurut kaedah ini, seseorang baru dianggap terpaksa jika seluruh pilihan pekerjaan halal di muka bumi tertutup baginya. Selagi masih ada pilihan untuk, misalnya, berniaga soto atau bekerja di tempat lain—walaupun dengan gaji lebih kecil—maka itu adalah lingkungan pilihan (mukhayyar) dan pengorbanan, bukan ketidakmampuan.
- Prinsip Bertahap: “Melakukan semampunya” bukan bermaksud menggugurkan atau meninggalkan kewajipan. Dalam konteks besar seperti penegakan hukum Islam secara kaffah (Khilafah), jika sistem saat ini belum memungkinkan penerapannya secara menyeluruh, maka “semampu kita” adalah dengan terus membina kesedaran dan kekuatan umat, bukan berdiam diri seolah-olah kewajipan itu tidak ada.
Syariat tetaplah standard ideal, sementara kemampuan kita adalah cara kita meniti jalan menuju keunggulan tersebut tanpa kehilangan arah.
***
Menata Bekal untuk Pulang
Syariat bukanlah alat untuk menyeksa, melainkan “nutrisi ruh” yang dirancang agar kita selamat hingga ke tujuan akhir (akhirat). Kesedaran bahawa kita wajib menjauhi larangan sepenuhnya dan menjalankan perintah sesuai kapasiti maksimal adalah kunci ketenangan hati. Islam tidak menuntut kesempurnaan tanpa celah, tetapi menuntut kejujuran dalam berusaha.
Jika syariat telah memberikan begitu banyak ruang bagi keterbatasan kita, langkah kecil apa yang akan kita ambil hari ini untuk kita menjadi lebih taat tanpa merasa terbeban?
Sumber: NgajiShubuh @ https://youtu.be/6VpNW3-n7I4
#hukumsyarak #muhasabah #muslimtaat #kesempurnaanislam #kemampuandalamberibadah