Penulis: Arief B. Iskandar
Bohong, kata Raghib al-Ashfahani, pangkalnya adalah dalam ucapan. Dinamakan bohong kerana ucapan seseorang menyelisihi apa yang ada di dalam hatinya. (Al-Asqalani, Fath al-Bâri, 10/623).
Imam an-Nawawi menuturkan bahawa bohong juga boleh bermaksud mengkhabarkan sesuatu yang menyelisihi kenyataannya. (An-Nawawi, Al-Adzkâr, hlm. 326)
Bohong atau dusta termasuk perbuatan tercela. Umat telah sepakat bahawa bohong/dusta itu haram. Banyak dalil atas keharaman berbohong/berdusta ini (An-Nawawi, Al-Adzkâr, hlm. 324).
Di antara dalilnya, pertama, firman Allah SWT, “Janganlah kamu mengikuti apa saja yang tidak kamu ketahui. Sungguh pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.” [TMQ al-Isra’ (17): 36].
Menurut Imam asy-Syinqithi, dalam ayat ini Allah SWT telah melarang manusia mengikuti apa yang tidak diketahuinya. Di dalamnya termasuk perkataan orang, “Saya telah melihat” padahal dia tidak melihat. “Saya telah mendengar” padahal dia belum mendengar. “Aku tahu” padahal dia tidak tahu. Demikian pula orang yang berkata atau beramal tanpa ilmu, tercakup dalam ayat ini.” (As-Sinqithi, Adhwâ’ al-Bayân, 3/145).
Kedua, firman Allah SWT, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang benar (jujur).” [TMQ at-Taubah (9): 119].
Ayat ini memang memerintahkan agar kita berlaku benar (jujur). Namun demikian, ayat ini bererti melarang hal sebaliknya, iaitu berbohong/berdusta.
Ketiga, sabda Rasulullah SAW, “Sungguh jujur itu membawa kebaikan dan kebaikan mengantarkan ke dalam syurga… Bohong itu membawa kejelekan dan kejelekan itu mengantarkan ke dalam neraka.” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Keempat, sabda Rasulullah SAW, “Celakalah orang yang berbohong agar orang lain tertawa. Celakalah dia. Celakalah dia.” (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, ad-Darimi, dan Ahmad).
Hadis ini diperkuat oleh pernyataan Abdullah bin Mas’ud ra., “Bohong tidaklah dibenarkan baik serius atau sekadar main-main.” (Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, 2/363).
Kelima, sabda Rasulullah SAW, “Pada suatu malam aku bermimpi didatangi dua orang lelaki. Lalu keduanya membawaku ke sebuah tempat yang suci. Di tempat itu aku melihat dua orang yang sedang duduk dan dua orang yang sedang berdiri. Di tangan mereka ada sebatang besi. Besi itu ditusukkan ke tulang rahangnya sampai menembus tengkuknya. Kemudian besi itu ditusukkan pada tulang rahang lainnya hingga dipenuhi dengan besi.” Akhirnya, Nabi SAW bertanya, ‘Kalian telah mengajakku berkeliling. Sekarang khabarkan kepadaku peristiwa demi peristiwa yang telah aku lihat.’ Keduanya berkata, “Orang yang engkau lihat menusuk rahangnya dengan besi adalah seorang pendusta, suka berkata bohong hingga dosanya itu memenuhi penjuru langit. Apa yang engkau lihat akan terus demikian hingga Hari Kiamat.” (HR al-Bukhari dan Ahmad).
Itu adalah dusta/bohong secara umum kepada sesama manusia. Apalagi jika dusta/bohong itu dilakukan oleh seorang pemimpin kepada rakyatnya. Dosanya pasti lebih besar. Ini kerana, mangsa atas kebohongan pemimpin adalah semua rakyat yang jumlahnya puluhan juta bahkan boleh ratusan juta orang.
Yang lebih parah adalah membuat kedustaan/kebohongan terhadap agama ini. Ertinya, mendustakan Allah SWT dan Rasul-Nya. Hal ini pun tegas tercela dan haram.
Sangat banyak ayat Allah SWT yang mengancam orang yang mendustakan Allah SWT dan Rasul-Nya. Di antaranya firman Allah SWT, “Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan? Sungguh Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” [TMQ al-An’am (6): 144].
Menurut Imam ath-Thabari, termasuk juga ke dalam ayat ini tindakan mengharamkan apa yang tidak Allah haramkan dan menghalalkan apa yang tidak Allah halalkan (Tafsir ath-Thabari, 8/68).
Firman Allah yang lain,
“Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan berpaling darinya? Kelak Kami akan memberikan balasan kepada orang-orang yang berpaling dari ayat-ayat Kami dengan seksaan yang buruk disebabkan mereka selalu berpaling.” [TMQ al-An’am (6): 157].
“Janganlah kalian mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lisan kalian secara dusta, ‘Ini halal dan ini haram’, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sungguh orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiada beruntung.” [TMQ an-Nahl (16): 116].
Kerana itu tidak layak seseorang berkata tentang halal dan haram tanpa ilmu (Ibn al-Qayyim, I’lâm al-Muwaqqi’în, 1/47).
Sabda Rasulullah SAW, “Janganlah kalian berbuat dusta terhadapku. Sungguh orang yang berdusta terhadapku, ia masuk ke dalam neraka.” (HR al-Bukhari dan Muslim).
“Siapa saja yang berdusta atas namaku, hendaklah ia mengambil tempat duduknya di neraka.” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata,
“Berdusta atas Rasulullah SAW adalah dosa besar…Kerana itu tidaklah sama ancaman bagi yang berdusta atas Rasulullah SAW dan atas selain baginda.” (Al-Asqalani, Fath al-Bâri, 1/267).
Dengan seluruh paparan singkat di atas, orang-orang yang berakal tentu akan takut untuk berbohong/berdusta. Apalagi mendustakan Allah SWT dan Rasul-Nya. Azab di akhirat amat besar bagi pelakunya. Apalagi jika pelakunya seorang pemimpin.
Mereka yang suka berbohong terkategori munafik. Jika dia seorang pemimpin, bererti dia pemimpin munafik. Pelakunya boleh jadi Muslim, tetapi memiliki sifat-sifat orang munafik. Demikian sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Ada tiga tanda orang munafik: jika berkata, berdusta; jika berjanji, ingkar; jika dipercaya, khianat.” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Selain itu, dalam salah satu kitabnya, ‘Aid Abdullah al-Qarni menyebutkan beberapa sifat kaum munafik yang disebutkan dalam Al-Quran, di antaranya, dusta, khianat, ingkar janji, mencela orang-orang taat dan soleh, mengolok-olok Al-Quran, as-Sunnah, dan Rasulullah SAW, bersumpah palsu, tidak peduli terhadap nasib kaum muslim, suka menyebarkan khabar bohong (hoax), mencaci-maki kehormatan orang-orang soleh, membuat kerosakan di muka bumi dengan dalih mengadakan perbaikan, tidak ada kesesuaian antara lahiriah dan batiniah, menyuruh kemungkaran dan mencegah kemakrufan, sombong dalam berbicara, menentang Allah SWT dengan terus berbuat dosa, dsb.
Sayang, hampir semua ciri kemunafikan di atas, ada pada rezim penguasa saat ini, di negeri ini. Wal ‘iyâdzu bilLâh!
Sumber: https://www.muslimahnews.com/2021/11/19/nafsiyah-bohong/