Dari Umar bin Khathab RA bahawa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya tiap-tiap orang akan memperoleh balasan dari apa yang diniatkannya. Barang siapa yang hijrahnya menuju keredhaan Allah dan rasul-Nya maka hijrahnya itu ke arah keredhaan Allah dan rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya kerana harta, kemegahan dunia, atau kerana seorang wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu ke arah yang ditujunya.” (HR Bukhari)
Allah juga berfirman, “Iaitu pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” [TMQ As Syu’ara(26): 88-89]
Kedua-dua dalil di atas menerangkan bahawa hati adalah pusat amal yang diniatkan. Oleh sebab itu, jagalah hati kita dari virus-virus yang meracuninya. Virus-virus yang merosakkan amal soleh kita.
Apa yang menyebabkan hati manusia dijangkiti virus-virus? Jawapannya adalah sikap berlebihan. Firman Allah SWT., “Wahai Ahlu Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan dalam agama kamu dengan cara yang tidak benar. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dan mereka telah menyesatkan banyak (orang) dan mereka sesat dari jalan yang lurus.” [TMQ Al Maidah(5): 77]
Dalam Islam, kebaikan dan ketaatan memiliki ukurannya. Setiap muslim wajib memahami ukuran-ukurannya agar tidak melampaui batas (ghuluw) malah merosak amal. Firman Allah SWT, “Janganglah kamu melampaui batas dalam agamamu.” [TMQ An-nisa(4): 171]
Rasul SAW turut mengingatkan kita untuk tidak berlebih-lebihan, “Jauhkanlah diri kalian daripada ghuluw (berlebih-lebihan) dalam agama kerana sesungguhnya sikap ghuluw itu membinasakan orang-orang beriman sebelum kalian.”
Marilah kita fahami perkara-perkara yang termasuk sikap berlebihan (ghuluw). Pertama, berlebihan dalam bicara. Berlebihan ketika berbicara menyebabkan hati semakin keras. Inilah sebabnya Rasul mengaitkan antara keimanan dan menjaga lisan. Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR Bukhari dan Muslim)
Tahukah Anda, ada dua lubang yang dapat menjerumuskan manusia ke dalam neraka? Dua lubang tersebut adalah mulut dan kemaluan. Oleh sebab itu, seorang muslim hanya akan berbicara yang bermanfaat. Sabda Rasul SAW, “Sebahagian dari kebaikan keIslaman seseorang ialah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Kedua, berlebihan dalam makan. Rasul mengingatkan kita, “Tidaklah ada wadah yang diisi anak Adam yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika tidak boleh, maka hendaklah sepertiga dari perutnya diisi dengan makanannya, sepertiga dengan minumannya dan sepertiga untuk bernafas.” (HR Ahmad, Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah)
Inilah yang menjadi alasan bahawa Rasul mengajarkan para pemuda yang belum mampu menikah untuk berpuasa. Kerana sedikit makan akan menjadikan seseorang mampu melawan syahwat.
Ketiga, berlebihan dalam bergaul. Peringatan Allah SWT dalam firman-Nya, “Teman-teman akrab pada hari itu sebahagiannya menjadi musuh bagi sebahagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” [TMQ Az-Zukhruf(43): 67]
Dengan demikian, kita wajib memilih teman dan memilih dalam bergaul. Rasul SAW bersabda, “Seseorang itu bergantung kepada agama sahabatnya. Kerana itu, perhatikanlah setiap seorang di antara kalian dengan siapa dia bersahabat.” (Hadis riwayat Abu Dawud)
Pilihlah teman yang mendekatkan diri kepada kebaikan, teman yang mengingatkan pada Allah dan rasul-Nya, teman yang menjaga kita dari pelanggaran hukum syarak. Ikatlah tali persahabatan dengan sebaik-baik tali, yakni akidah Islam. Teman yang soleh boleh memberi syafaat di akhirat dan menolong kita dari bahaya api neraka.
Berdoalah kepada Allah agar diberikan teman yang baik, “Allahumma waffiqni limuwafaqatil abrar, wa jannibni murafaqatal asrar, wa awini birahmatika ila daril qarar bi ilahiyyatika ya ilahal ‘alamin.” (Ya Allah, bimbinglah aku untuk bersahabat dengan orang-orang yang membuat kebajikan. Jauhkanlah aku dari persahabatan dengan orang-orang yang membuat kejahatan. Curahkanlah kepadaku rahmat-Mu sampai hari Kiamat, dengan Ilahiyah-Mu wahai Tuhan semesta alam).
Keempat, berlebihan dalam memandang. Firman Allah SWT, “Katakanlah kepada lelaki yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” [TMQ An Nur(24): 30]
Pandangan bak panah beracun di antara panah-panah iblis (lihat HR Thabrani dan Hakim) jika memandang sesuatu yang bukan haknya (diharamkan untuk dipandang).
Keempat-empat perkara di atas merupakan virus-virus yang membahayakan hati. Hati menjadi hitam ternoda hingga dapat merosakkan amalan. Semoga kita dapat menjaga diri dari sikap berlebihan dalam empat perkara tersebut. Kita juga memohon kepada Allah agar terus berada dalam jalan kebaikan bersama orang-orang soleh dan solehah. Aamiin.