Oleh: Dr. Erwin Permana
Globalisasi adalah penyatuan (integrasi) dan penundukan perekonomian lokal ke dalam perekonomian dunia. Caranya dengan memaksakan penerapan format korporasi (corporation) ke dalam struktur perekonomian dunia serta menjadikan eksport setiap negara ditujukan untuk pasaran dunia (world market).
Konsekuensinya adalah penghapusan seluruh batasan dan hambatan terhadap arus modal, barang dan jasa (services). Jadi pasaran dan perekonomian dunia bukanlah perekonomian tertutup atau terlindungi, melainkan perekonomian terbuka, atau apa yang disebut dengan pasaran yang terbuka terhadap segala kekuatan ekonomi.
Slogan nasionalisme yang selalu dipropagandakan oleh orang-orang bodoh menjadi tidak ada ertinya. Anehnya, mereka tidak sedikitpun berusaha menolak gagasan globalisasi. Dunia berubah menjadi satu wajah di bawah kawalan Kapitalisme global.
Seperti sarang labah-labah yang menyelimuti bumi, negara-bangsa dijadikan sebagai bebenang rajutannya. Walaupun tiap-tiap negara memiliki “garis sempadan” nasionalis, seluruh kekayaannya dikuasi oleh kapitalis global dalam bentuk jaringan perusahaan-perusahaan raksasa melalui undang-undang perintah di negara-negara tersebut.
Celakanya, negara-negara Dunia Ketiga sebaliknya mengundang para pelabur dan bangga dengan kedatangan pelabur yang banyak. Perusahaan multinasional secara besar-besaran menjalankan perniagaan. Mereka menghisap kekayaan terutama negeri-negeri Muslim yang kaya-raya. Mereka makin untung. Rakyat makin merugi.
Globalisasi bermaksud satu dunia untuk satu atau beberapa perusahaan. Berikut kenyataan yang menggambarkan satu perusahaan menguasai dunia seperti Unilever yang menjamah setiap jengkal permukaan bumi. (rujuk rajah)

Gambar 1. Unilever menguasai dunia
Gambar 1 merupakan satu kenyataan, yakni Unilever, yang menjamah setiap jengkal permukaan bumi. Perusahaan Unilever merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang pembuatan, pemasaran dan agihan. Selain Unilever, berbagai bidang perniagaan dunia mulai dari kewangan, tenaga, pembinaan, pelancongan dan perhotelan, dan restoran juga hanya dikuasai oleh satu atau beberapa perusahaan raksasa saja.
Ketika perusahaan raksasa `run over’ masyarakat dunia dengan kecepatan tinggi maka hasilnya sudah boleh dijangka, yakni jurang ekonomi yang semakin menganga. Mudah kita menemukan manusia super kaya yang kekayaannya melampaui kekayaan beberapa negara. Misalnya, kekayaan Bill Gates setara dengan akumulasi GDP negara Senegal, Republik Congo, Zimbabwe, Madagascar, Nigeria, Guinea, Tongo, Sierra Leone, Malawi dan Lesotho[4].
Di sisi lain ada 600 juta orang yang mengalami kemiskinan tegar yang tersebar di 36 negara di Sub- Afrika Sahara, Asia Timur dan Pasifik, Negara Arab dan Asia Selatan[5].
Di Indonesia, Sri Mulyani menyebut kekayaan 4 orang terkaya Indonesia sama dengan kekayaan 100 juta penduduk.
Kesenjangan pendapatan bukan saja terjadi di negara-negara membangun atau negara Dunia Ketiga. Jurang pendapatan bahkan lebih parah di negara yang menjadi tempat angin globalisasi ditiupkan, yakni Amerika Syarikat. Di AS jurang semakin terasa saat ini; 10 peratus teratas menguasai aset lebih dari 9 kali ganda pendapatan 90 peratus. Jika 10% pada bahagian atas tersebut dirincikan, maka gap kaya-miskin semakin terlihat; 1% orang terkaya memiliki pendapatan 39 kali lebih banyak daripada 90 peratus masyarakat bawah[6].
Kesenjangan lebih mengerikan jika kita membandingkan kelompok yang berada pada level 0.1 peratus teratas. Hasilnya, orang Amerika pada level ini menghasilkan 196 kali dibandingkan 90 peratus terbawah.
Adapun kesenjangan pendapatan diseluruh dunia, menurut penerbitan yayasan amal dari Britain, Oxfam (2020), 1% orang terkaya di dunia memiliki lebih dari dua kali ganda kekayaan 99% manusia lainnya[7].
Jadi pelaburan asing yang dibawa oleh perusahaan multinasional tersebut tidak membawa apa-apa selain menyisakan malapetaka bagi umat manusia dan kerosakan lingkungan. Tidak ada yang tersisa selain dari nasionalisme usang, pemimpin oportunis dan penganggur dari mengurus rakyatnya, nasib rakyat yang semakin merana serta potret kehidupan dunia yang semakin liar.
Instrumen Kapitalis Menjadi Kartel Global
Untuk menjalankan idea globalisasi tersebut, Amerika menebar sejumlah jejaring beracun sebagai instrumen untuk menguasai dunia dan menciptakan kartel global yakni deregulasi (de-regulation), multinasional corporation, bank dan pasaran modal, pemaksanaan demokratisasi.
1.Deregulasi
Perdagangan bebas merupakan salah satu asas ekonomi pasar dan salah satu landasan globalisasi. Oleh kerana itu tidak boleh ada campur tangan siapapun terhadap pasaran, termasuk intervensi negara, dalam bentuk regulasi yang dianggap menimbulkan penyimpangan terhadap pasaran.
Deregulasi merupakan pandangan yang menganggap bahawa negara adalah lembaga yang tugasnya hanya melaksanakan kegiatan diplomasi, yang semuanya bergerak untuk melayani kepentingan sektor swasta dan pasaran.
Jika pemerintah hendak menjalankan suatu usaha perniagaan, maka dia wajib diperlakukan sama dengan lembaga mana pun yang lain. Akibatnya, terjadi penswastaan besar-besaran dengan alasan kurang efisyennya sektor awam, produktiviti yang rendah, dan prestasi pengelolanya yang payah.
Hingga kini proses penswastaan berjalan makin rancak. Di Indonesia, misalnya, melalui berbagai undang-undang yang semuanya beraroma liberal seperti UU PMA, UU Minerba dan yang mutakhir adalah UU Omnibuslaw. Menyedihkan dan penuh percanggahan. Di satu sisi regulasi dipandang berbahaya terhadap ekonomi. Di sisi lain negara membuat regulasi untuk kepentingan korporasi.
2. Multinasional corporation
Multinasional corporation merupakan perusahaan perniagaan raksasa yang menguasai ekonomi global secara nyata. Kini terdapat ribuan perusahaan raksasa di dunia yang mendominasi sebahagian besar perekonomian dunia. Tahun 2021, Forbes The Global 2000 menyiarkan senarai perusahaan internasional publik terbesar, terkuat dan paling berharga di dunia. Secara regional, perusahaan Amerika Syarikat terbanyak dalam senarai, mencapai 590. Diikuti China sebanyak 350. Kemudian Jepun 215, UK 66 dan Korea Selatan dengan 62 perusahaan[8].
Pemerintah masing-masing negara menjadi kaki tangan yang bertugas membantu perusahaan-perusahaan ini untuk menembus dan menguasai perekonomian internasional baik dengan diplomasi mahupun melalui jalan perang. Maraknya perang pada abad-20 dengan korban jutaan manusia tidak lain kerana kerakusan Kapitalisme yang ingin menguasai kekayaan dunia. Mesin-mesin perang digerakkan oleh negara dengan sponsor dari multinasional corporation.
Menurut Forbes The Global 2000 pendapatan total perusahaan 2021 menyumbang pendapatan USD 39.8 trillion, profit USD 2.5 trillion, aset USD 223.4 trillion, dan kapitalisasi pasaran USD 79,7 trillion[8].
Walaupun dua tahun ke belakang masyarakat dunia dihantui pandemik Covid-19, yang membawa pada kelesuan perekonomian, perusahaan raksasa tetap mampu meraih untung yang fantastik. Bahkan menjadikan musibah pandemik sebagai peluang perniagaan untuk mengaut keuntungan besar tanpa peduli dengan nasib jutaan manusia. Di Indonesia, misalnya, ketika masyarakat ditimpa kesulitan sekadar untuk bertahan hidup, kelompok oligarki sebaliknya menjadikan Polymerase Chain Reaction (PCR) sebagai kesempatan perniagaan dengan keuntungan besar. Menurut Indonesia Corruption Watch (ICW) keuntungannya mencapai Rp 10 Trillion lebih.
3. Bank dan Pasaran Modal
Bank merupakan penyokong perusahaan, terutama perusahaan raksasa, dan merupakan sekutu perusahaan untuk menguasai perekonomian negara-negara lemah. Bank sebenarnya juga suatu perusahaan. Bahkan perusahaan terbesar dunia saat ini adalah sektor perbankan, yakni Industrial and Commercial Bank of China (ICBC).
Selain perbankan, pasaran modal juga menjadi alat jenayah para pelabur raksasa untuk mengaut keuntungan besar tanpa usaha nyata dan tanpa investasi yang real. Kegiatan perekonomiannya adalah sektor ekonomi non-real. Ia bertumpu pada persaingan tidak-seimbang yang mirip dengan perjudian undian dan penipuan.
Pasaran-pasaran modal ini sangat penting untuk mengglobalkan perekonomian regional. Pembukaan pasaran modal dan surat berharga sudah menjadi persyaratan bagi bantuan luar negeri terutama yang berasal dari IMF. Melalui pasaran modal yang sudah terbuka maka pelabur raksasa dunia dengan mudah mengambil-alih perusahaan lokal.
Akibat sistem perbankan dan pasaran modal yang licik, dunia selalu dihantui oleh berbagai penyakit ekonomi seperti inflasi, recession dan depresi ekonomi secara berulang.
4. Pemaksaan Demokratisasi
Pemaksaan ini terjadi tatkala negara-negara Barat mensyaratkan penerimaan demokrasi terhadap negara-negara di dunia, baik secara total mahupun tidak sebagai syarat mendasar untuk memasuki era globalisasi. Idea-idea tersebut antara lain adalah sekularismne, ekstremisme dan radikalisme beragama, kesefahaman/perdamaian antarbangsa, moderasi beragama, hak asasi manusia, kesetaraan gender, kerukunan rakyat pelbagai kaum/agama, pluralisme, perubahan kurikulum pendidikan hingga sekolah pondok/agama, dan sebagainya.
Semua idea ini tak lain adalah nilai dan gaya hidup peradaban Barat yang dianggap sebagai budaya luhur yang dipandang lebih unggul berbanding semua ideologi dan peradaban lain. Pemikiran tersebut tampak jelas dipropagandakan oleh para penguasa di kebanyakan negara-negara yang lemah, seperti negeri-negeri Dunia Islam. Misalnya, Kementerian Agama Republik Indonesia mengutamakan program-program terkait pengarus-utamaan moderasi beragama. Untuk menjayakan program ini tahun 2021, Pemerintah memperuntukkan belanjawan Rp 400 juta. Tahun 2022 belanjawannya meningkat lapan kali ganda menjadi Rp 3.2 Trillion.
Dalam rangka menanamkan demokratisasi, Amerika berusaha menyelesaikan masalah-masalah separatisme dan melakukan campur tangan untuk memecah-belah sebuah negara menjadi dua negara atau lebih jika memungkinkan, seperti yang sudah terjadi di Bosnia, Iraq, Sudan, Afghanistan, dan lain-lain. Dalam waktu dekat sangat mungkin akan segera muncul negara Papua sebagai negara baru, setelah sebelumnya berjaya mengeluarkan Timor Timur dari Indonesia.
Tujuannya adalah untuk membuat kekacauan nasional, pertentangan antara suku dan kelumpuhan kawasan, yang semuanya merupakan alasan-alasan kuat bagi AS untuk intervensi. Pada saat yang sama memaksakan idea Demokrasi-Kapitalis Amerika sebagai suatu kekuatan yang tak dapat ditolak lagi. Globalisasi akhimya dianggap sebagai kereta api cepat untuk memasuki masa-masa mendatang. Siapa saja yang tidak menaikinya, dia akan terisolasi, terpinggirkan, atau akan menjadi hina-dina dan mengalami kehancuran.
Khilafah Islamiyah Rumah Bersama Dunia
Kapitalisme Global sebenarnya sudah gagal dan terbukti mendatangkan musibah terhadap dunia. Kepercayaan pada Kapitalisme Global juga sudah sangat memudar di berbagai tempat. Namun, tanpa ada satu alternatif yang secara nyata menggantikan, konsep ini dianggap akan terus bertahan atau berganti wajah.
Perlu diingat bahawa Globalisasi merupakan rupa manis hasil transformasi dari imperialisme/kolonialisme, namun asas/intipatinya (essence) sama, yakni penjajahan. Jika mata dunia hari ini sudah terbuka akan keburukan globalisasi, sangat mungkin negara kapitalisme akan menawarkan resepi baru yang lebih manis sebagai pengganti globalisasi. Oleh kerana itu tidak sepatutnya manusia khususnya kaum Muslim dunia tertipu berkali-kali. Resepi peradaban apapun yang ditawarkan Barat adalah racun bersalut madu.
Satu-satunya konsep sahih yang setara (untuk perbandingan) dengan Kapitalis Global adalah Islam dengan sistem pemerintahan Khilafah. Khilafah bukanlah sistem pemerintahan diktator mahupun demokrasi yang sudah terbukti sama-sama rosak dan berbahaya. Tidak ada sistem kehidupan lain yang secara jelas akan mampu menghapus dan menggantikan kewujudan Kapitalisme global selain dari Khilafah Islamiyah.
Jika Kapitalis Global merupakan konsep kehidupan yang sistem aturan hukumnya berasal dari manusia maka Khilafah Islam hanya menjalankan aturan perundangan yang bersumber dari hukum al-Quran dan as-Sunnah, Ijmak Sahabat dan Qiyas. Aturannya tidak berasal dari manusia baik suara majoriti, suara pemodal ataupun hawa nafsu Khalifah. Jika Kapitalisme itu merupakan ideologi yang berasal dari mahkluk bumi untuk menjajah sesame mereka, Khilafah Islamiyah pula merupakan konsep bernegara yang berasal dari Rabb untuk mensejahterakan semua manusia. Perbandingan keduanya seperti langit dan bumi.
WalLâhu a’lam.
Rujukan:
[1] Jackson, I., & Xidias, J. (2017). The end of history and the last man. In The End of History and the Last Man. https://doi.org/10.4324/9781912282135
[2] Wilkinson, D. (1995). From Mesopotamia through Carroll Quigley to Bill Clinton: World Historical Systems, the Civilizationist, and the President. Journal of World-Systems Research. https://doi.org/10.5195/jwsr.1995.59
[3] Khatib, A. Al. (1998). Sebab-sebab Kegoncangan Pasaran modal. Pustaka Thariqul Izzah.
[4] Apinino, R. (2015). Harta Bill Gates Setara Kekayaan 10 Negara. https://www.liputan6.com/perniagaan/read/2157387/harta-bill-gates-setara-kekayaan-10-negara
[5] Nations, U. (2021). Global Multidimensional Poverty Index 2021; Unmasking disparities by ethnicity, caste and gender.
[6] Saez, E., & Zucman, G. (2021). Trends in Us Income and Wealth Inequality: Revising after the Revisionists. SSRN Electronic Journal. https://doi.org/10.2139/ssrn.3709611
[7] Oxfam. (2021). The Inequality Virus Bringing together a world torn apart by coronavirus through a fair, just and sustainable economy.
[8] ANDREA MURPHY, ELIZA HAVERSTOCK, ANTOINE GARA, C. H. A. N. V. (2021). How The World’s Biggest Public Companies Endured The Pandemikc.
[9] Kent, J. P. and N. O. (2020). The Global Divide on Homosexuality Persists But increasing acceptance in many countries over past two decades.
[10] Globalisation: Anthony Giddens. (2020). In Understanding Business Environments. https://doi.org/10.4324/9780203992265-8
[11] Stiglitz, J. E. (2003). Globalization, technology, and Asian development. Asian Development Review, 20(2). https://doi.org/10.7916/D8JD56MK
[12] Hertz, N. (2005). The Debt Threat: How Debt is Destroying the Developing World. Democracy Now!
[13] Ohmae, K. (2008). The Next Global Stage-Challenges and Opportunities in our Borderless World. NHRD Network Journal, 2(1). https://doi.org/10.1177/0974173920080125
Sumber: Media Alwaie (Jun 2022)