[Nafsiyah] Mengingati Allah Kunci untuk Bersyukur, Ketaatan Sepenuhnya Wujud Rasa Syukur
Bersyukur atas nikmat yang diberikan merupakan salah satu kewajipan seorang mukmin, sedangkan kufur nikmat adalah perkara yang diharamkan. Banyak dalil yang membahas terkait kewajipan bersyukur, di antaranya adalah firman Allah SWT.,
“Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhan kalian memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian; dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’” [TMQ Ibrahim (14): 7]
“Ingatlah kepada-Ku, nescaya Aku ingat kepadamu, bersyukurlah kepada-Ku, dan jangan kufur (dari nikmat-Ku).” [TMQ al-Baqarah (2): 152]
Sentiasa bersyukur atas kurnia nikmat yang dilimpahkan Allah SWT. bukan mudah. Perlu dorongan dan kesedaran kuat untuk membiasakannya. Dalam nasihat Baginda kepada Muadz bin Jabal, Rasulullah SAW. memberikan contoh kepada kita agar sentiasa memohon pertolongan kepada Allah SWT. agar sentiasa mengingat-Nya, selalu bersyukur, dan memperbaiki ibadah,
أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ تَقُولُ : اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
“Aku pesankan kepadamu wahai Muadz, jangan pernah engkau tinggalkan di belakang setiap solat membaca, Allaahumma a’innii ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatika (Ya Allah, tolonglah aku untuk menyebut nama-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah yang baik untuk-Mu).” (HR Abu Dawud, Al-Nasai, dan Ahmad)
Selari dengan nasihat Nabi SAW. kepada Muadz, Nabi Sulaiman pun berdoa pada Allah supaya diberi ilham untuk bersyukur atas nikmat dan dimudahkan dalam ketaatan yang akan mendatangkan keredhaan Allah SWT., “Ya Tuhanku anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan untuk mengerjakan amal soleh yang Engkau redhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang soleh.”[TMQ An-Naml (21): 19)
Hadis di atas juga doa Nabi Sulaiman as. memberikan pengajaran bahawa orang yang mengingati Allah, menyebutkan nama-Nya, mengenal sifat-sifat-Nya, merasakan limpahan kenikmatan-Nya, maka dia akan mampu bersyukur. Sedangkan puncak dari wujud syukur adalah memperbaiki kualiti ibadah dan ketaatan selari dengan petunjuk syariat demi untuk meraih keredhaan-Nya.
Bukti nyata kesyukuran dalam bentuk ketaatan turut disampaikan Ibnu Qudamah rahimahullah, “Syukur (yang sebenarnya) adalah dengan hati, lisan, dan anggota badan. (Minhajul Qosidin, hal. 305). Syukur dari hati dalam bentuk rasa cinta dan taubat yang disertai ketaatan. Adapun secara lisan, rasa syukur akan muncul dalam bentuk pujian dan sanjungan. Dan syukur juga akan muncul dalam bentuk ketaatan dan pengabdian oleh segenap anggota badan.” (Al Fawa’id, hal. 124-125)
Melawan syukur nikmat adalah kufur nikmat. Kufur nikmat itu juga boleh terjadi apabila menggunakan kenikmatan yang telah Allah berikan pada jalan yang tidak diredhai Allah dan enggan mengucapkan “Alhamdulillah”, demikianlah pendapat Imam Ghazali.
Oleh yang demikian, umat Islam perlu berwaspada dengan penggunaan istilah agama yang disampaikan dengan maksud yang tidak sesuai, di antaranya tuduhan “kufur nikmat”. Semoga Allah SWT. sentiasa menjaga kita semua agar mempunyai kefahaman yang betul mengikut apa yang dicontohkan Rasulullah SAW, menjadi orang yang bersyukur, dan tidak terjerumus ke dalam perangkap para pembenci Islam. Amin. Wallahualam.
Sumber:
https://muslimahnews.net/2022/09/05/10901 (https://muslimahnews.net/2022/09/05/10901/)/