[Fikrul Islam] Berpegang kepada Syariat yang Dicontohkan
Penulis: Ahmad Mahmud
Tidak ada salahnya menyebutkan kaedah-kaedah dan pemikiran-pemikiran yang terikat dengan dalil-dalil syarak yang wajib menguasai benak kaum muslim untuk mengatur arah dan cara pandang mereka agar mereka bertindak sesuai syariat.
Contohnya,
حيثما يكون الشرع تكون المصلحة وليس العكس
“Di mana ada hukum syarak, di situ ada maslahat, dan bukan sebaliknya.”
الأصل في الأفعال التقيد بالحكم الشرعي
“Asal suatu perbuatan terikat dengan hukum syarak.”
الأصل في الأشياء الإباحة ما لم يرد دليل التحريم
“Asal segala sesuatu (benda-benda) adalah mubah selama tidak terdapat dalil yang mengharamkannya.”
الحسن ما حسنه الشرع والقبيح ما قبحه الشرع
“Kebaikan (hasan) itu adalah apa-apa yang dikatakan baik oleh syarak, dan keburukan (qabih) itu adalah apa-apa yang dikatakan buruk oleh syarak.”
الخير هو ما أرضى الله والشر هو ما أسخطه
“Kebaikan (khair) itu adalah apa-apa yang diredhai Allah, dan keburukan (syarr) itu adalah apa-apa yang dibenci Allah.”
لا حكم قبل ورود الشرع
“Tidak ada hukum sebelum datangnya syariat.”
من أعراض عن ذكر الله فإن له معيشة سنكا
“Barangsiapa yang berpaling dari hukum Allah, maka baginya kehidupan yang sempit.”
ان الأمة الإسلامية هي أمة واحدة من دون الناس
“Sesungguhnya umat Islam adalah umat yang satu, tidak seperti umat yang Iain.”
ان الإسلام لا يقل الوطنية ولا القومية ولا الاشتراكية ولا الديمقراطية
“Sesungguhnya Islam tidak mengakui wathaniyah (nasionalisme), qaumiyah (kebangsaan), isytirakiyyah (sosialisme), dan demokrasi.”
ان الإسلام طراز معين في العيش يختلف عن غيره كل الاختلاف
“Islam adalah gaya hidup yang unik, yang berbeza dengan gaya hidup yang lain secara diameter.”
Jika sebahagian nas-nas syarak diperhatikan dengan saksama, maka akan menunjukkan dengan jelas tentang pentingnya keterikatan terhadap apa yang telah dipegang oleh generasi salafus shalih. Kita tidak boleh keluar dari keterikatan tersebut dengan membuat sesuatu yang baru (bid’ah), kerana berlaku bid’ah dalam agama adalah pebuatan yang tercela.
Rasulullah SAW. bersabda,
“Sungguh aku telah meninggalkan bagi kalian suatu perkara yang jika kalian berpegang teguh kepadanya, maka kalian tidak akan tersesat selamanya, sesuatu yang telah jelas, (iaitu) Kitabullah dan Sunah Rasul-Nya.” (Sirah lbnu Hisyam)
Lafaz abada (selamanya) juga mencakup kita semua.
Rasulullah SAW. bersabda,
“Dan umatku akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya berada di neraka, kecuali satu.” Dan mereka (para sahabat) bertanya, “Siapa orang-orang yang termasuk golongan yang selamat itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab. “(Iaitu) yang mengikuti jalanku dan jalan para sahabatku sekarang ini.” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hanbal)
Rasulullah SAW. bersabda,
“Telah aku tinggalkan bagi kalian hujah-hujah yang putih bersih yang tidak akan menyimpang darinya sesudahku kecuali orang-orang yang sesat.” (HR Ibnu Majah dan Ibnu Hanbal)
Sabda Rasulullah SAW.,
“Sebaik-baik manusia adalah yang hidup pada zamanku, kemudian orang-orang sesudah mereka, kemudian orang-orang sesudah mereka…..” (HR Muslim)
Sabda Rasulullah SAW.,
“Barangsiapa di antara kalian yang diberi umur panjang, maka dia akan melihat perbezaan yang banyak. Dan berhati-hatilah kalian dari membuat perkara yang baru. Sesungguhnya setiap perkara itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah berada di neraka. Kalian wajib mengikuti sunnahku dan sunnah khulafa ar-rasyidin yang telah mendapat petunjuk. Dan berpegang teguhlah kepadanya seperti menggigit dengan gigi geraham.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)
Beliau SAW. juga bersabda,
“Setiap perbuatan yang tidak kami perintahkan sesungguhnya (perbuatan itu) tertolak.” (HR Bukhari dan Muslim)
Hadis-hadis tersebut menyerukan untuk mengikuti yang hasan (baik) dan peringatan agar menjauhi perkara bid’ah. Dari sistematik kebaikan yang disebutkan oleh Rasulullah SAW. menunjukkan bahawa keterikatan akan semakin melemah setiap kali zaman bertambah jauh dari masa Rasulullah SAW.. Hal ini menunjukkan bahawa semakin jauh suatu zaman dengan masa Rasulullah SAW., maka kita dituntut agar memiliki keterikatan yang lebih kuat, lebih konsisten, dan lebih banyak lagi proses pencarian kebenaran, juga memerlukan keikhlasan yang lebih besar.
Apabila yang diseru atas kita adalah berpegang teguh kepada sunnah Nabi SAW. dan sunnah khulafa ar-rasyidin yang mendapat petunjuk, dan mesti meIaksanakan apa pun yang Rasulullah SAW. dan para sahabat lakukan, maka kita tidak boleh membuat-buat bid’ah dalam agama dan tidak keluar lalu terperangkap pada perkara bid’ah.
Yang demikian itu tertolak. Lalu, bagaimana jalan yang perlu kita tempuh agar kita dapat memperoleh keselamatan pada masa sekarang ini?
Kita hendaklah menjaga akidah Islam agar tetap bersih dan suci di daIam jiwa kita sehingga tidak ada satu pun faktor yang dapat mengeruhkannya. Kita hendaklah mengambil sumber-sumber Islam yang bersih dan suci. Kita juga hendaklah menjaga metod istidlal (pengambilan dalil) yang tepat, yang dapat mencegah pengaliran hawa nafsu dan pendapat manusia ke dalam hukum-hukum syarak.
Kita hendaklah menjadikan Islam sebagai perkara yang paling penting dalam kehidupan kita; lebih penting dari diri kita sendiri, anak-anak dan keluarga kita; lebih penting dari segala perkara yang mengikuti hawa nafsu kita dan kalimat Allah-Iah yang tertinggi di dalam jiwa kita. Kita tidak boleh melalaikan perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya sehingga keadaan kita menjadi seperti keadaan salafush shalih.
Kita hendaklah menanggalkan pemikiran-pemikiran kufur dan segala kotorannya dari jiwa dan akal kita, serta membuang jauh-jauh segala keburukan dan bekas-bekasnya sebagaimana para sahabat RA. yang telah membuang segala kotoran jahiliyah di depan tangga IsIam, Ialu mereka memasukinya dengan penuh kesucian dan ketakwaan.
Semua ini mewajibkan kita untuk memulai segalanya dari awal kerana umat pada masa akhir ini tidak akan baik kecuali dengan (menggunakan) perkara yang menjadikan umat pada masa awal itu baik. Ini merupakan suatu kewajipan yang kaum muslim mesti memilikinya pada setiap fasa kehidupan mereka. Dekat atau jauhnya mereka dari perkara tersebut amat menentukan kuat atau lemahnya keadaan mereka.
Sumber: Ahmad Mahmud, Dakwah Islam
#fikrulislam #pemikiranislam #backtoislam #akidahislam