[Nafsiyah] Penghapus Dosa
Apabila kita menjumpai berbagai persoalan kehidupan yang dapat menjadi sebab gugurnya dosa, hal itu merupakan salah satu bentuk rahmat Allah Taala. Allah memberikan berbagai kafarah atas semua perkara. Ternyata, terhapusnya dosa-dosa kita bukan hanya kerana taubat, tetapi juga dari ujian rasa sakit.
Jika kita betul-betul ikhlas dan bersabar atas rasa sakitnya, Allah akan menghapuskan dosa kerana kemaksiatan yang dilakukan. Inilah bahasa cinta Allah pada hamba-hamba-Nya. Betapa besar rahmat Allah pada kehidupan manusia. Tidakkah kita bersyukur?
Allah memudahkan manusia untuk bertaubat dan beristighfar. Selain itu, Allah datangkan lagi sebab-sebab yang dapat menghapuskan dosa-dosa kita. Kalaulah setiap manusia mengetahui, betapa banyaknya perkara yang Allah syariatkan untuk menghapuskan dosa kita, maka pasti kita semakin jatuh cinta pada Rabb kita.
Para ulama mengatakan, “Manusia yang paling buruk ialah manusia yang tidak pernah mengenal betapa besar ampunan Allah Taala pada hamba-Nya.” Begitu juga kasih sayang Allah kepada manusia lebih besar daripada sayangnya seorang ibu kepada anaknya.
Ada sebuah kisah tentang Fudhail bin Iyad yang melihat seorang anak dimarahi ibunya, kemudian anak tersebut dibawa keluar rumah. Lalu, ibunya mengunci rumah mereka, sementara si anak berada di luar rumah. Anak tersebut terus mengetuk-ngetuk pintu rumahnya, berharap ibunya akan membukakan pintu dan memberi maaf kepadanya.
Berulang kali anak tersebut mengetuk pintu, tetapi ibunya tidak kunjung membuka pintu. Pada akhirnya ibunya membukakan pintu rumah, lalu merangkul anaknya dan memamaafkannya. Fudhail menangis tersedu-sedu menyaksikan ibu dan anak tersebut. Sembari dia berkata, “Seorang ibu saja dengan kasih sayangnya memberi maaf pada anaknya yang telah melakukan kesalahan dan merangkulnya kembali. Inikan pula Allah Taala, yang sudah pasti memiliki kasih sayang yang lebih besar, kerana Allah ialah Pencipta para ibu di dunia ini.”
Oleh kerana itu saudariku, adakah keberuntungan yang lebih besar daripada keberuntungan kita kerana beriman kepada Allah SWT.?
Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah menimpa seorang mukmin berupa rasa sakit (yang terus menerus), rasa lelah, kekhuatiran (pada fikiran), sedih (kerana sesuatu yang hilang), kesusahan hati, atau sesuatu yang menyakiti sampai duri yang menusuknya melainkan akan dihapuskan dosa-dosanya.” (HR Muslim)
Kemudian Rasul SAW. juga mengingatkan kita, “Janganlah kamu mencaci maki penyakit demam, kerana sesungguhnya (dengan penyakit itu) Allah akan menghapuskan dosa-dosa anak Adam sebagaimana tungku api menghilangkan kotoran-kotoran besi.” (HR Muslim)
Rasa sakit pada manusia justeru akan menyingkirkan dosa-dosa seperti pohon di musim luruh. Saat kita menggoyangkannya, daunnya akan jatuh. Begitu juga penyakit akan menyingkirkan dosa-dosa kita.
Mengapa penyakit boleh menjadi penghapus dosa? Kerana saat Allah menguji manusia dengan suatu penyakit, saat itu baru dia merasakan kelemahan, kehinaan, dan ketidakmampuan di hadapan-Nya. Dia menjadi ingat atas kelalaiannya sehingga dia kembali kepada Allah dengan penyesalan dan kepasrahan diri. Inilah yang menjadi salah satu tabiat manusia.
Sebagaimana firman Allah, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (para rasul) kepada umat-umat sebelummu, kemudian Kami seksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri.” [TMQ Al-An’am (6): 42]
Yakni supaya mereka mahu tunduk kepada-Ku, memurnikan ibadah kepada-Ku dan hanya mencintai-Ku, bukan mencintai selain-Ku. Caranya dengan taat dan pasrah kepada-Ku (Tafsir Ibnu Jarir).
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Seandainya kita dapat menggali hikmah Allah yang terkandung dalam ciptaan dan urusan-Nya, tidak kurang dari ribuan hikmah (yang dapat kita gali). Namun, akal kita sangatlah terbatas, pengetahuan kita terlalu sedikit, dan ilmu semua makhluk akan sia-sia jika dibandingkan dengan ilmu Allah. Sebagaimana sinar lampu yang sia-sia di bawah sinar matahari.”
Dengan demikian, marilah kita sentiasa memperbaharui iman kepada Allah, merendahkan diri, serta meyerahkan diri kepada-Nya. Allahlah sebaik-baik pengurus manusia. Orang yang beriman memiliki seni tahap tinggi. Dia mampu menghadapi rasa sakit yang dideritanya menjadi suatu kebaikan yang akan dipetik pada kehidupan di akhirat.
Semestinya juga kita mempersiapkan diri dan mempelajari ilmunya, jika suatu saat Allah uji dengan rasa sakit. Kita mesti redha terhadap segala ujian dari Allah, bahkan menghargai berkah saat jatuh sakit dan ditimpa musibah. Sebab hal itu semua dapat menjadi kafarah atas dosa-dosa kita. Wallahualam.
Sumber: https://muslimahnews.net/2022/10/30/13572/
#Nafsiyah #dosa #taubat #sakit #kafarah