Ramadhan, Bulan Turunnya Al-Quran (Bahagian 1/3)
Di bulan Ramadhan yang mulia, rasa kebajikan muncul pada diri kaum muslimin. Mereka menghadap Allah dengan mengharapkan pahala dan redha-Nya. Kita berharap kepada Allah, agar Dia memberikan hidayah dan taufik-Nya kepada kita dan seluruh umat Islam agar dapat melakukan amal soleh serta memuliakan kita dengan pertolongan-Nya yang agung. Kita juga berharap agar semua amal kita diterima sebagai ketaatan dan ikhlas semata-mata mencari keredhaan-Nya.
Wahai kaum muslimin, kalian selalu mendengarkan pelajaran dan nasihat tentang puasa, solat, haji, zakat, zikir, istighfar, akhlak, dan beberapa muamalah. Namun, amat sedikit dari kalian yang mendengarkan aspek tertentu dari ajaran Islam. Saat kalian mendengarkannya pun, ianya sudah tercemar dengan pernyataan-pernyataan yang bercanggah, penuh interpretasi, atau bahkan terpesong dari kebenarannya. Sisi tertentu dari ajaran Islam itu adalah yang terkait dengan aktiviti penguasa (yang sedang memerintah). Dalam pembahasan ini, kami ingin menyatakan sisi tertentu itu dengan memohon pertolongan Allah agar memberikan petunjuk kepada kita suatu kebenaran.
Allah SWT berfirman, وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْكَٰفِرُونَ “Barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan, maka mereka adalah orang-orang kafir.” (TMQ Al Maidah [5]: 44)
Jadi, pembahasan ini sangat penting, sebab persoalannya boleh mengeluarkan seseorang dari agama Islam menjadi kufur. Lalu siapakah penguasa yang dimaksudkan dalam ayat ini? Dalam keadaan bagaimana dia boleh menjadi kafir?
Sesungguhnya kata “yahkumu” dalam ayat tersebut, serta ayat-ayat lain yang terkait dengan konteks yang sama seperti firman Allah,
وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ
“Barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan, maka mereka adalah orang-orang zalim.” (TMQ Al Maidah [5]: 45)
Juga firman Allah,
وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ
“Barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah, maka mereka adalah orang-orang fasik.” (TMQ Al Maidah [5]: 47)
Kata tersebut mencakup siapa saja yang memiliki autoriti dan kekuasaan untuk memutuskan suatu masalah serta menerapkannya, baik sebagai ketua negara, atau salah satu perangkatnya, seperti menteri atau orang-orang yang mendapatkan kekuasaannya dari mereka.
Setiap orang yang memiliki kuasa untuk memutuskan dan menerapkan masalah tersebut, termasuk dalam pengertian kata “yahkumu” dalam ayat di atas dan berbagai ayat lainnya. Siapa pun yang memutuskan dan memberlakukan suatu masalah dengan cara yang tidak diizinkan oleh Allah, maka dia adalah orang yang berhukum dengan selain yang diturunkan oleh Allah; baik kerana lupa dan bodoh, atau kerana tahu tetapi sengaja melakukannya; baik menghalalkan kerana ada uzur, ataupun memberlakukan selain syariat Allah dengan rasa puas dan tenteram (tidak merasa bersalah). Bila orang yang berhukum dengan selain dari apa yang diturunkan oleh Allah secara sengaja dan membenarkan apa yang dilakukannya, jelas dia telah kafir dan telah keluar dari agama Islam.
Namun, bagaimana seorang muslim mengetahui bahawa seorang penguasa itu menerapkan hukum selain yang diturunkan oleh Allah dengan suatu kepuasan atau tidak? bahawa seorang muslim memiliki bentuk lahir dan tidak wajib untuk menyelami yang tersimpan (dalam benaknya). Bila di depan Anda terdapat bukti serta indikasi bahawa seorang penguasa itu berbuat dengan kepuasan serta redha, di samping itu dia memilih selain syariat Allah, maka Anda boleh menghukum bahawa orang itu kafir. Kemudian Anda umumkan kepada orang lain dengan kesaksian dan bukti-bukti yang ada tersebut bahawa orang tersebut adalah kafir. Lalu Anda mengambil langkah-langkah untuk melawannya iaitu langkah yang diperintahkan syarak untuk diambil dalam menentang penguasa kafir. Namun, kesaksian dan indikasi-indikasi dalam persoalan kekufuran (pengkafiran) ini berbeza dengan persoalan-persoalan lain. Sebab, dalam persoalan-persoalan lain kesaksian cukup mencapai tingkat ghalabatuzh zhan. Sedangkan dalam persoalan pengkafiran jelas mesti ada kesaksian yang mencapai tingkat yakin, qath’iyy. Ini berdasarkan sabda Rasulullah saw.,
“Kecuali jika kalian melihat kekufuran yang nyata, yang kalian punya bukti di hadapan Allah.”
Sebagai contoh, keharaman riba jelas qath’i. Sebab sumber dan maknanya qath’i. Bila ada seorang penguasa membuat undang-undang yang membolehkan riba, maka dia sebenarnya telah mengambil syariat selain syariat Allah serta menerapkan hukum selain yang diturunkan oleh Allah dan menghalalkan apa yang jelas diharamkan Allah. Bila dia mengakui, bahawa dialah yang telah membuat undang-undang tersebut dan mengadopsinya serta mengangkat polisi untuk melindunginya, maka ia jelas-jelas telah mengukuhkan kekufurannya.
Masalahnya bukan masalah ijtihad, tetapi masalah yang boleh diambil secara langsung dari nas tersebut,
وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْكَٰفِرُونَ
“Dan barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka adalah orang-orang kafir.” (Al Maidah: 44)
Seperti halnya pembolehan riba, adalah pembolehan khamar, judi, zina, murtad dari Islam, meninggalkan solat, menghilangkan hudud, kemudian membuat undang-undang pengganti pemotongan tangan, mencambuk penzina, atau merejamnya, serta membunuh orang murtad, mencambuk penuduh berbuat zina, dan peminum khamar, dan sebagainya. Di sini memang ada perbezaan antara orang yang melakukan riba dengan meyakini bahawa riba itu haram, dan orang yang melakukan riba dengan pernyataan bahawa riba tidak haram. Orang pertama adalah orang yang telah melakukan maksiat, sedangkan yang kedua adalah kafir. Sebab, yang pertama mengakui hukum syarak sekalipun menyeleweng, maka dia hanya maksiat.
Sedangkan yang kedua mengingkari hukum syarak yang qath’iyy, yang ma’lumun minad dini bidh dharurat (persoalan agama yang jelas diketahui urgensinya), maka dia adalah kafir. Ini adalah keadaan individu yang melakukan. Adapun keadaan penguasa yang membuat undang-undang, dengan hanya meninggalkan hukum syarak yang qath’ie serta membuat selain hukum syarak dengan prasangka bahawa ini lebih baik dari itu, sebenarnya ia adalah kafir dan tidak ada perlu dakwaan yang lain.
Mari kita perhatikan penguasa-penguasa di negeri Islam. Apakah mereka meninggalkan hukum-hukum syarak yang qath’ie kemudian mereka membuat hukum-hukum Barat atau Timur yang lain?
Jelas. Apakah mereka mengakui bahawa mereka meninggalkan hukum-hukum syarak kemudian membuat yang lain, dengan penuh kemahuan mereka dan dengan sikap qana’ah (rasa menerima) mereka? Jelas. Maka mereka adalah kafir, tidak mungkin didakwa yang lain. Hanya saja, mungkin segelintir mereka boleh terhindar dari kekufuran, tetapi jelas tidak dapat terhindar dari kefasikan dan kemaksiatan.
Mari kita perhatikan anggota-anggota dewan perwakilan—yang mereka sebut dengan dewan legislatif. Mereka telah menggunapakai undang-undang dan hukum-hukum yang jelas bertentangan dengan nas-nas Islam yang qath’ie, baik sumber mahupun ertinya. Mereka jelas-jelas mengadopsi kekufuran yang sebenar. Maka, setiap anggota yang mendedahkan dengan bangga dan redha tindakan-tindakannya tersebut, serta mendorong pengambilan hukum dan perundangan kufur, jelas dia kafir dan tidak dapat diklaim selainnya.
Kemudian, mari kita amati sekelompok ulama salathin, ulama penguasa di tiap-tiap negara kaum muslimin. Kita akan mendapati penguasa mendekati masyarakat dan penguasa menonjolkan ulama salathin bahawa mereka adalah orang-orang ahli ilmu. Kemudian penguasa tersebut merujuk kepada mereka dalam persoalan penafsiran agama serta meminta mereka untuk mengeluarkan fatwa sesuai dengan keinginan penguasanya. Mereka adalah orang-orang yang menjadi kepercayaan penguasa atau bahagian dari sistem, serta salah satu corongnya. Mereka ini adalah kelompok yang paling berbahaya di tengah-tengah umat.
Bersambung ke bahagian 2/3
Sumber: Haditsu Al Shiyam