#SyiarHariRaya
Saling Mengucapkan Selamat
Dalam sebuah riwayat disebutkan,
عن جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ، قَالَ : كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا الْتَقَوْا يَوْمَ الْعِيدِ يَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك .
Dari Jubair bin Nufair, dia berkata: Jika para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumpa pada hari ‘eid (Aidilfitri atau Aidiladha, pen), satu sama lain saling mengucapkan, “Taqabbalallahu minna wa minka (Semoga Allah menerima amal kami dan amalmu).
Hadis di atas, tepatnya disebut dengan atsar. Ada juga yang menyebutnya hadis mauquf dan juga khabar. Atsar tersebut boleh kita temukan dalam Kitab Fath Al-Bari’ Juz 2 pada Kitab Al-Idain, Bab Sunnah Al-Idain li Ahli Al-Islam. Al Imam Ibn Hajar Al-Asqallani, penyusun kitab ini menilai bahasa sanad atsar tersebut adalah hasan (baik).
Jika merujuk atsar di atas, inilah tradisi yang dilakukan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika memberikan ucapan selamat Hari Raya. Begini redaksinya :
تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك
“Semoga Allah menerima amal kami dan amalmu.”
Redaksi tersebut diucapkan oleh kita kepada orang kedua tunggal. Jika orang kedua jamak, sebaiknya dengan redaksi :
تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
“Semoga Allah menerima amal kami dan amal anda sekalian.”
Lalu bagaimana dengan tradisi yang sudah semarak dan umum dengan ucapan :
Minal ‘Aidin wal Faiziin. Mohon Maaf Zahir Batin?
Jika dikaji dari tata bahasa Arab, kalimat di atas kurang tepat sebetulnya. Apalagi dikaitkan dengan mohon maaf zahir batin. Tapi kerana sudah sangat umum, penulis tidak bijak jika harus menyalahkan. Jika kita diberikan ucapan selamat tersebut dari teman atau kawan kita, biarkan saja, jangan disalahkan. Untuk kita yang sudah tahu, sebaiknya menggunakan redaksi di atas kerana mengikuti tradisi para sahabat Nabi.
Penulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyalahkan tradisi yang sudah biasa berjalan di negeri kita. Penulis hanya mengkritis “redaksi” ucapan selamat Hari Rayanya saja. Adapun kebiasaan saling mendoakan kebaikan, saling bermafaan, apalagi memberikan wang kecil kepada anak-anak tentu sangat baik dan tidaklah masalah. Wallahu A’lam. (Sumber: Pusat Kajian Hadis)
🔴 Pusat Pendidikan Hadits Ma’had Khadimus Sunnah Bandung