[Fikrul Islam] Wawancara Media
Penulis: M. R. Kurnia, dkk.
Wawancara adalah bentuk komunikasi yang paling umum melalui media. Kerana berurusan dengan reporter (wartawan) yang telah terlatih dalam melakukan wawancara, maka kita sedikit banyak perlu mendapatkan latihan tersebut.
Wawancara tersebut hendaklah menyatakan pesan dakwah, memperkuat, menggambarkan, serta menjelaskannya secara tertib. Jawapan awal terhadap pertanyaan pembuka mestilah ringkas, jangan terperinci. Ini akan mendorong wartawan untuk mengajukan pertanyaan selanjutnya. Kemudian jawablah dengan huraian dan bukti yang kuat mengenai tindakan dan program dakwah tersebut.
Sekali lagi, sebaiknya menggunakan kata-kata untuk merangsang pertanyaan-pertanyaan selanjutnya. Tiba waktunya untuk memperdalam penjelasan kerana wawancara tersebut akan disunting untuk dijadikan bahan berita, kalimat yang pendek ringkas dan kutipan-kutipan yang tepat kemungkinan besar akan mampu menyampaikan pesan dakwah yang diinginkan daripada pernyataan yang panjang.
Untuk pengumuman yang bernilai berita, cara paling baik ialah dengan mengadakan suatu sidang media yang telah disiapkan dengan baik. Sejumlah berita yang meliputi bahan tentang latar belakang dan diserahkan kepada wartawan ketika mereka tiba akan sangat membantu. Untuk kepentingan ini, lantiklah seorang ketua untuk menyampaikan kata pendahuluan, mengarahkan pertanyaan-pertanyaan, dan mengakhiri sidang.
Mulakan dengan memberikan pernyataan ringkas berisi kalimat yang mudah dikutip. Kalimat ini boleh diulang sewaktu sidang media berlangsung. Jika memungkinkan, dapat juga menggunakan audio visual untuk menggambarkan pesan atau informasi yang penting.
Jawablah pertanyaan yang dikemukakan secara langsung, tenang, dan dengan bahasa yang mudah. Persiapan yang baik adalah kunci komunikasi yang efektif dengan pihak media. Rakamlah wawancara tersebut untuk semak semula pada waktu yang akan datang. Rakaman ini juga berguna sebagai bahan evaluasi diri dan untuk menangkis ketidaktepatan dalam peliputan yang ada.
Sumber: M. R. Kurnia, dkk., Menjadi Pemikir dan Politisi Islam