Yang Sampai kepada Allah
Penulis: Ustaz Felix Siauw
Kisah pertama kali tentang korban di dalam Al-Quran adalah tentang adik beradik Qabil dan Habil. Keduanya memiliki adik perempuan dan akan dinikahkan bersilang. Namun Qabil menolak kerana dia merasa lebih layak dinikahkan dengan adiknya yang berparas lebih cantik baginya, bukan dengan adik kepada Habil.
Allah lalu meminta keduanya untuk berkorban dengan korban terbaik. Dipendekkan cerita, Habil yang berkorban dengan ternakan terbaik miliknya diterima Allah, sedangkan Qabil yang diceritakan berkorban dengan tanaman pangan seadanya ditolak oleh Allah. Maka Al-Quran (QS 5: 27) mengisahkan,
“Dan ceritakanlah (Muhammad) yang sebenarnya kepada mereka tentang kisah kedua putra Adam, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka (korban) salah seorang dari mereka berdua (Habil) diterima dan dari yang lain (Qabil) tidak diterima.”
Anehnya, Qabil langsung mengatakan pada Habil, “Sungguh, aku pasti membunuhmu!”
Padahal dia tahu, bahwasanya Habil tidak berpengaruh sama sekali terhadap tertolaknya korbannya, yang merupakan pilihannya sendiri. Membunuh Habil tidak akan membuat korbannya diterima Allah swt, sebaliknya membuat Allah murka kepadanya.
Yang menarik jawapan Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa”
Dari situ kita fahami, korban adalah pendekatan kepada Allah, tentu pendekatan itu dengan cara yang Allah inginkan, bukan cara yang kita duga atau kita inginkan. Bukan daging dan darah haiwan korban yang sampai kepada Allah, Allah tidak perlu itu semua. Namun, ketakwaan itu yang sampai pada Allah. Ketaatan itu yang sampai.
Bagi Qabil, bukan hanya apa yang dia korbankan yang menjadi masalah, tetapi sikap hatinya yang masih dipenuhi hasad dan tidak ikhlas pada ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Sudahlah dia tidak memberikan korban yang terbaik, dia memperburuknya dengan sikap hati yang tidak takwa.
Hari ini kita bukan hanya disunnahkan menyembelih haiwan korban, tetapi juga menyembelih sifat hasad pada sesama.
Hari ini daging korbannya sampai kepada sesama manusia, tetapi jangan sampai ketakwaan kita tidak sampai kepada Allah.
Selamat hari raya Aidiladha. Semoga ketakwaan kita pada Allah, memberi manfaat bagi manusia dan alam semesta.