[Fikrul Islam] Hisab dari Allah SWT
Penulis: M. R. Kurnia
Setelah Allah SWT mengutus rasulNya, setiap manusia akan diminta pertanggungjawaban atas seluruh amal perbuatan yang dilakukannya di dunia. Dalam erti kata yang lain, Allah SWT akan mengazab siapa saja yang tidak mahu mengikuti aturan yang dibawa rasul tersebut. Firman Allah SWT,
وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِيْنَ حَتّٰى نَبْعَثَ رَسُوْلًا
“Dan Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang rasul.” [TMQ al-Isra’ (17):15]
Ayat di atas menjelaskan kepada kita bahawa Allah SWT memberikan jaminan kepada hambaNya bahawa tidak akan diazab seorang manusia atas perbuatan yang dilakukannya sebelum diutus seorang rasul kepada mereka. Jadi, mereka tidak akan diminta pertanggungjawaban atas perbuatan yang mereka lakukan sebelum rasul diutus, kerana mereka tidak dibebani oleh satu hukum pun.
Namun, tatkala Allah SWT telah mengutus seorang rasul kepada mereka, maka terikatlah mereka dengan risalah yang dibawa oleh rasul tersebut dan tidak ada alasan lagi untuk tidak mengikatkan diri terhadap hukum-hukum yang telah dibawa oleh rasul tersebut. Allah SWT berfirman,
رُسُلًا مُّبَشِّرِيۡنَ وَمُنۡذِرِيۡنَ لِئَلَّا يَكُوۡنَ لِلنَّاسِ عَلَى اللّٰهِ حُجَّةٌ ۢ بَعۡدَ الرُّسُلِالرُّسُلِ
“(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah SWT sesudah diutusnya rasul itu.” [TMQ An-Nisa’ (4):165]
Dengan demikian, siapa pun yang tidak beriman kepada Allah SWT tersebut, pasti akan diminta pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT kelak tentang mengapa dia tidak beriman dan mengapa dia tidak mengikatkan diri terhadap hukum-hukum yang dibawa oleh rasul tersebut. Begitu pula bagi yang beriman kepada rasul, serta mengikatkan diri pada hukum yang dibawanya, dia pun akan diminta pertanggungjawapan dengan penyelewengan terhadap salah satu hukum dari hukum-hukum yang dibawa oleh rasul tersebut.
Atas dasar hal ini, maka setiap muslim diperintahkan melakukan amal perbuatannya sesuai dengan hukum-hukum Islam. Ini kerana wajib atas mereka untuk menyesuaikan amal perbuatannya dengan segala perintah dan larangan Allah SWT yang telah dibawa oleh Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman,
وَمَآ اٰتٰىكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهٰىكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْاۚ
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” [TMQ an-Nisa’ (59):7]
Banyak sekali nas-nas yang menjelaskan tentang permintaan tanggungjawab ini. Di antaranya,
اَلَا لَهُ الْحُكْمُ وَهُوَ اَسْرَعُ الْحٰسِبِيْنَ
“Ingatlah hukum itu milikNya. Dia penghisab yang paling cepat.” [TMQ an-Nisa’ (6):62].
وَاِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ اَتَيْنَا بِهَاۗ وَكَفٰى بِنَا حَاسِبِيْنَ
“Sekalipun hanya seberat biji sawi, pasti Kami mendatangkannya (pahala). Dan cukuplah Kami yang membuat perhitungan.” [TMQ an-Nisa’ (21):47]
وَمَنْ يَّكْفُرْ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ فَاِنَّ اللّٰهَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ
“Barang siapa ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sungguh Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” [TMQ an-Nisa’ (3):19]
وَاِنْ تُبْدُوْا مَا فِيْٓ اَنْفُسِكُمْ اَوْ تُخْفُوْهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللّٰهُ
“Dan jika kalian menampakkan apa-apa yang ada pada jiwa kalian, atau menyembunyikan, nescaya Allah akan menghisab kalian.” [TMQ al-Baqarah (2):284]
فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ
فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا
“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan dihisab dengan hisab yang mudah.” [TMQ al-Insyiqaq’ (84): 7-8]
Jelas sekali, Allah SWT akan meminta pertanggungjawapan manusia. Seluruh perbuatan manusia akan ditanya olehNya. Adakah sesuai dengan aturannya ataukah tidak.
Oleh kerana itu, seorang muslim yang sedar tidak mampu menahan seksa Allah SWT yang dahsyat akan terus berusaha mentaati aturanNya. Penghisab itu adalah Allah SWT, bukan manusia. Oleh kerana itu, bagaimana mungkin aturan kehidupan itu diatur oleh manusia sedangkan yang akan diminta pertanggungjawabannya bukanlah manusia, melainkan Allah SWT.
Jadi tolok ukur perbuatan itu adalah hukum-hukum Allah SWT itu sendiri yang terdapat di dalam al-Quran, hadis Nabi, dan apa yang ditunjukkan oleh kedua-duanya sebagaimana dibenarkan oleh wahyu yang berbentuk ijmak sahabat dan qiyas. Ini kerana, Dialah yang kelak akan menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Siapa yang mendapat keredhaanNya dan siapa yang akan mendapatkan kemurkaanNya.
Sumber: M. R. Kurnia, Menjadi Pembela Islam