[Fikrul Islam] Urgensi Penegakan Khilafah Islamiyah
Penulis: M. R. Kurnia
Kehidupan Islam secara nyata mula ditegakkan Rasulullah SAW di Madinah semenjak Rasulullah dan para sahabatnya berhijrah dari Mekah al-Mukarramah ke kota itu. Setelah beIiau berpulang ke haribaan Allah, kehidupan Islam pun ditegakkan oleh para sahabat di bawah pimpinan Khalifah Abu Bakar ash-Siddiq, Umar bin Khattab, Uthman bin ‘Affan, lalu Ali bin Abi Talib.
Tidak berhenti sampai di sini, puluhan khulafa dari kalangan Umawiyyin, Abbassiyin, dan Uthmaniyyin terus melanjutkan kehidupan Islam dan barulah berakhir sejak keruntuhan Daulah Khilafah Islamiyah yang berpusat di Turki pada 3 Mac 1924. Setelah itu tidak ada lagi kehidupan Islam. Yang ada hanyalah kehidupan orang-orang Islam yang menerapkan aturan Islam sebahagiannya saja dan meninggalkan sebahagian lainnya.
Sejak runtuhnya payung dunia Islam itu, umat Islam di berbagai belahan dunia didera krisis yang seakan tidak ada habisnya. Wilayah Islam yang mulanya terbentang di seluruh jazirah Arab, Syam, Iraq, Turki, sebahagian Asia Tengah, Afrika bahagian Utara, sebahagian Eropah Barat, Asia Tenggara, dan Asia Selatan, terbelah-belah menjadi lebih dari lima puluh kepingan wilayah yang dikuasai oleh penjajah.
Jazirah Arab, wilayah Syam, Iraq, dan Asia Selatan dikuasai Britain. Afrika bahagian Utara dikuasai Perancis. Demikian halnya dengan wilayah lainnya. Namun kemudiannya mulai tahun 1940—1950 hingga 1960-an wilayah-wilayah itu satu per satu “merdeka” terbebas dari penjajahan, tetapi pengaruh penjajah tetap saja berakar umbi di wilayah-wilayah itu dalam bentuk penjajahan gaya baru (ekonomi, sosial, politik, budaya, dan biologi) melalui para penguasa yang menjadi boneka.
Kaum muslim pun akhirnya terpecah-pecah dan dibelenggu oleh batas wilayah dan nasionalisme masing-masing. Sekalipun boleh jadi kaum muslim memiliki perasaan ukhuwah Islamiyah, tetapi perasaan tersebut hanya berhenti sekadar perasaan. Sikap persaudaraan yang diikat oleh iman tersebut tidak dapat terealisasikan untuk kaum muslim keseluruhan di dunia kerana dihalangi oleh sikap politik dan kepentingan negara masing-masing. Akhirnya, firman Allah Swt.,
“Sesungguhnya kaum muslim itu bersaudara.” (QS Al-Hujurat: 10).
Firman Allah yang terdapat dalam surah Al-Hujurat tersebut tidak dapat mencerminkan realiti yang sebenarnya. Di dalam negeri, kaum muslim yang tinggal di berbagai negara mengalami berbagai masalah. Untuk wilayah yang miskin, kemiskinan menjadi pemandangan sehari-hari. Penindasan oleh penguasa, kezaliman, kebodohan, kerosakan moral dan lingkungan adalah cerita yang tidak pernah sepi dalam kehidupan umat di berbagai wilayah.
Tidak hanya itu, di peringkat internasional, wilayah-wilayah itu juga tidak henti-hentinya menjadi objek penjarahan, eksploitasi, dan penindasan negara-negara besar. Emas di Indonesia misalnya, diangkut ke Amerika dan Kanada melalui Freeport, minyak di negara-negara Teluk pula disedut melalui politik perdagangan yang culas dan curang.
Ternyata, semua ini bukanlah akhir peristiwa. Dalam bidang kemanusiaan pula, terjadi pembantaian kaum muslim di Palestin, Bosnia, Kosovo, Maluku, dan wiIayah lainnya. Dalam bidang ekonomi, kaum muslim diatur secara paksa tanpa dapat membantah dalam penentuan kebijakan-kebijakannya. Hutang Iuar negeri, persoalan perbankan, pergantian pegawai perbadanan milik negara, kapitaIisasi semula, subsidi letrik dan bahan bakar, bahkan penentuan bea cukai import juga tidak lepas dari tekanan Barat melalui IMF.
Dalam bidang politik, kaum muslim tidak dapat menentukan nasibnya sendiri. Kaum muslim di berbagai beIahan dunia “dipenjara” akidahnya dalam penjara demokrasi, hak asasi manusia, dan pluralisme. Sekularisme menjadi perkara yang betul-betul ditegakkan.
Sebagai contoh, di lndonesia, ketika era Presiden Gus Dur, beliau pernah menyatakan bahawa agama jangan dijadikan institusi dalam kehidupan negara. “Biarkan agama berkembang, negara tidak usah campur tangan,” tambahnya (Republika, 23-31-2000). Bahkan kenyataan ini juga sebenarnya banyak dikeluarkan oleh umat Islam lain juga. Agama betul-betul hanya diperanankan di sudut perkara-perkara terkait ibadah ritual, serta pembinaan ruhiyah, etika, dan moraI.
Dalam bidang pendidikan, putra-putri kaum muslim dididik dengan pola pendidikan sekular dan serba materialistik. Bursa pemikiran dan budaya yang bertentangan dengan Islam—bahkan dapat menghancurkan Islam dan kaum muslim—dibiarkan meracuni isi otak kaum muslim tanpa ada pemimpin yang menjadi benteng kukuh sebagai peIindung mereka.
Semua krisis ini menunjukkan betapa rapuhnya umat Islam menghadapi makar negara-negara Barat. Umat Islam yang jumlahnya melebihi 2 bilion tidak ubahnya bagai lautan buih yang tidak memiliki kekuatan apa-apa. Realiti demikian sungguh berbeza dengan keadaan ketika Daulah Khilafah Islamiyah tegak selama Iebih dari 1000 tahun.
Jelas, tanpa Daulah Khilafah Islamiyah (biasa disingkatkan sebagai Khilafah) kaum muslim terpecah-beIah menjadi berbagai negara, kekayaannya diperas dan dibawa ke luar negeri, kezaliman negara-negara Barat neo-imperialis tidak mampu dilawan, perundangan yang diterapkan terang-terangan adalah buatan manusia dan menyeret anak cucu Adam makin jauh dari sifat fitri kemanusiaan, sedangkan hukum-hukum Islam dilonggokkan dalam buku-buku dan hanya menjadi pengetahuan, jauh dari penerapan. Pada hujungnya, kaum muslim terhalang untuk taat melaksanakan aturan-aturan Islam dalam setiap aspek kehidupan. Padahal, untuk itulah sebenarnya manusia diciptakan.
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia selain untuk beribadah kepada-Ku.” (TMQ Adz-Dzariyat: 56).
Berdasarkan hal ini, jelaslah betapa mendesak (urgent) tegaknya Daulah Khilafah Islamiyah.
Sumber: M. R. Kurnia, Menjadi Pembela Islam
*Sedikit tambahan oleh editor penterjemahan