Pelajaran Berharga dari Kisah Ibu Muhammad Al-Fatih, Pendidik yang Menginspirasikan
Oleh: Ustazah Dedeh Wahidah Achmad
Sejarah mencatat betapa besar peranan ibu dalam mengukir prestasi dan membuka gerbang kegemilangan masa depan anaknya. Sosok ibulah yang manguatkan keyakinan Muhammad Al-Fatih bahawa dirinya adalah pemimpin yang dijanjikan Rasulullah SAW yang akan membebaskan wilayah Konstantinopel. Pengajaran yang ia berikan menjadi peta arah perjuangan Al-Fatih. Berikut ini adalah contoh petikan dialog Al-Fatih dengan ibunda tercinta.
“Engkau (wahai Muhammad) akan membebaskan wilayah ini. Namamu adalah Muhammad sebagaimana sabda Rasulullah saw.”
Muhammad Al-Fatih bertanya, “Bagaimana aku akan membebaskan wilayah sebesar ini, wahai ibu?
“Dengan al-Quran, kekuatan, persenjataan dan cinta kepada sesama manusia.”
Inilah sosok ibu yang inspiratif. Contoh nyata bagi para ibu dalam membersamai anaknya menjadi pejuang Islam yang tangguh. Dimulai dari membangun visi hidup sebagai hamba Allah, semata untuk beribadah kepada-Nya, menanamkan misi hidup untuk menegakkan Islam, serta menguatkan tekad dan semangat terus istiqamah dalam perjuangan, pantang mundur meninggalkan medan pertempuran. Visi-misi seperti ini akan menjadi benteng kukuh bagi anak dari gempuran sekularisme-kapitalisme.
Pelajaran penting lainnya, kejayaan pendidikan dan pendampingan ibu bapa dalam keluarga ditentukan oleh model komunikasi yang dibangun serta kedekatan antara ibu bapa dengan anak. Komunikasi harmoni ini akan sukar terjalin jika ibu kekurangan waktu untuk memperhatikan anak, kehabisan tenaga untuk mengajar mereka, seperti yang terjadi dalam kehidupan kebanyakan ibu-ibu masa kini. Hari-hari mereka tersita oleh masalah pekerjaan. Kesabaran juga diuji dengan datangnya kelelahan dan halangan dalam kehidupan. Tidak jarang mereka berlepas tangan terhadap masa depan anak. Hanya mencukupkan diri dengan menyekolahkan mereka di tempat kegemaran, membekalkan mereka dengan berbagai kursus kemahiran serta ujian pelajaran. Jika masih mempunyai waktu lapang, anak akan menghabiskannya dengan interaksi semu melalui dunia maya yang penuh jerat. Lahirlah anak-anak yang anti sosial dan tidak peduli dengan realiti kehidupan. Mereka lebih senang dengan games dan permainan lainnya. Ketika ada tuntutan untuk hadir di dunia nyata, muncul kegagapan dan ketidaksiapan dalam menyelesaikan masalah.
Semoga Allah memudahkan kita untuk menjadi orang tua pendidik, yang akan mengantarkan anak-anak kita menjadi generasi khayru ummah, generasi yang tangguh dan kuat. Bukan generasi yang lemah.
WalLaahu a’lam bi ash-shawwab.
Sumber: Disaring dari artikel beliau “Optimalisasi Fungsi Ibu”, Majalah Alwaie