SOLUSI DUA NEGARA BUKAN SOLUSI PALESTIN
@ Ustaz Irfan Abu Naveed
Persidangan demi persidangan diadakan, yang lebih tampak sekadar basa basi, agar tak dituding melakukan pengabaian? Kalau hujung-hujungnya adalah solusi dua negara yang sudah diketahui lahir dari paradigma batil ‘win win solution’ ala Demokrasi, kenapa perlu membuang-buang waktu, wang, tenaga dan fikiran mengadakan persidangan? Lebih baik seluruh potensi tersebut dikerahkan untuk mengatasi secara nyata, dengan kekuatan tangan kejahatan Zionis Yahudi!
Apa yang didakwa sebahagian orang sebagai solusi ’two state solution’ (solusi dua negara), hakikatnya termasuk wahm menyesatkan yang melanggar ketentuan syariat dan mengandung kezaliman. Wahm ini wajib ditolak kerana menyepakatinya, sama saja dengan mengakui kolonialisme Zionis ke atas Palestin, sekaligus menyerahkan sebahagian besar wilayah Palestin kepada Zionis, dan mengabaikan korban-korban kejahatan mereka selama tempoh pendudukan.
Lebih-lebih lagi asas two state solution bertitik tolak dari paradigma batil ’win win solution’ (al-hall al-wasath) versi Demokrasi, sehingga segala pandangan yang lahir darinya batal secara syarie:
كل ما بني على باطل فهو باطل
“Segala hal yang dibangun di atas asas yang batil maka ia pun batil.” [1]
Ini termasuk perjanjian batil yang wajib ditolak berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ:
«مَنْ اشْتَرَطَ شَرْطًا لَيْسَ فِي كِتَابِ اللهِ فَهُوَ بَاطِلٌ. وَإِنْ كَانَ مِائَة شَرْط كِتَاب [الله] أَحَق؛ وَشَرْط الله أَوْثَق»
“Barang siapa membuat persyaratan yang tidak sesuai dengan kitab Allah, maka syarat tersebut batal walaupun mengajukan seratus persyaratan, kerana syarat Allah lebih benar dan lebih kuat.” (HR. Al-Bukhari, Muslim)
Persyaratan di sana termasuk poin-poin dalam perjanjian, dipertegaskan keumuman frasa kullu syarth[in] dalam redaksi hadis lainnya:
«كُلُّ شَرْطٍ لَيْسَ فِي كِتَابِ اللهِ فَهُوَ بَاطِلٌ، كِتَابُ اللهِ أَحَقُّ، وَشَرْطُهُ أَوْثَقُ»
“Setiap syarat yang bukan dari Kitabullâh maka ia batil, Kitabullâh lebih berhak (untuk diikuti) dan syaratnya lebih kuat.” (HR. Ahmad)
Yang dimaksud dengan laysa fî kitâbillâh adalah syarat yang bertentangan dengan kitâbullâh (al-Quran), dengan demikian jelas, prinsipnya setiap poin-poin akad dan perjanjian, wajib dikembalikan kepada syariat itu sendiri, Ibn Hajar Al-’Asqalani (w. 852 H) menjelaskan:
أَنَّ الشُّرُوط الْغَيْر الْمَشْرُوعَة بَاطِلَة وَلَوْ كَثُرَتْ
“Sesungguhnya syarat-syarat yang tidak sesuai syarak adalah batil, meski banyak jumlahnya.” [2]
Rujukan:
[1] Prof. Dr. Muhammad Mushthafa al-Zuhaili, Al-Wajîz fî Ushûl al-Fiqh al-Islâmi, Damaskus: Dar al-Khayr, cet. II, 1427 H, juz I, hlm. 264; Abdul Muhsin bin Abdullah al-Zamil, Syarh al-Qawâ’id al-Sa’diyyah, Riyadh: Dar Athlas al-Khadra’, cet. I, 1422 H, hlm. 343.
[2] Ahmad bin ‘Ali (Ibn Hajar) al-‘Asqalani, Fath al-Bârî Syarh Shahîh al-Bukhârî, Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1379 H, juz V, hlm. 189.