[Syarah Hadis] Ma’al Hadis Syarif: Pesanan untuk para Ulama
Penulis: Abu Maryam
Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW, baginda bersabda,
مَنْ لَزِمَ السُّلْطَانَ افْتُتِنَ، وَمَا ازْدَادَ عَبْدٌ مِنْ السُّلْطَانِ دُنُوًّا إِلَّا ازْدَادَ مِنْ اللَّهِ بُعْدًا
“Barang siapa yang terus melazimi penguasa, maka dia terfitnah. Dan tidaklah seorang hamba bertambah dekat kepada penguasa melainkan dia akan bertambah jauh dari Allah.”[HR Abu Daud].
Wahai saudaraku tercinta, maksud dari penyebutan hadis ini bukan untuk memutus hubungan ulama dengan umat, melainkan untuk menyedarkan umat akan kenyataan dan realiti ulama, serta apa yang mesti mereka lakukan. Sebaliknya, umat hendaklah berwaspada terhadap ulama salāthīn (penjilat penguasa). Jadi, jangan mengikuti ulama kerana kedudukannya atau keperibadiannya, tetapi kerana ilmu dan tanggung jawabnya kepada ilmu. Rasul kita yang mulia SAW telah memperingatkan melalui banyak hadis terkait ulama sū’ (jahat), mengingatkan keseriusan peranan yang mereka mainkan. Pada dasarnya ulama itu adalah penyelamat dan pentunjuk bagi umat yang akan menunjukkan kepada mereka kebenaran dan mencegahnya dari kebatilan agar selamat di dunia dan akhirat dengan diselimuti keredhaan dari Zat Yang Maha Penyayang.
Wahai kaum muslim, mungkin hal yang paling berbahaya yang terjadi pada hari ini akibat dari adanya ulama salāthīn (penjilat penguasa) adalah sikap mereka terhadap umat yang berdasarkan kepada pembahagian Sykes-Picot sehingga mereka mengukuhkan patriotisme dan nasionalisme seperti yang diinginkan oleh musuh-musuh umat. Setiap ulama berdiri bersama penguasa negerinya untuk mengeluarkan fatwa baginya terkait hilangnya kambing dan pedangnya (potensi dan kekuatannya) yang diakibatkan oleh bid’ah politik yang belum dikenali umat sebelumnya. Dengan demikian, ulama menjadi mainan bagi penguasa yang digunakannya untuk menindas umat.
Sementara itu, khalifah pada masa lalu sangat menghormati dan menghargai kedudukan ulama. Adapun saat ini, dunia sudah terbalik, ulama sangat takut kepada penguasa, bahkan takutnya pada penguasa melebihi takutnya kepada Allah SWT. Oleh kerana itu, tidak hairan jika ada beberapa dari mereka yang mengeluarkan fatwa tentang kebolehan berdamai dengan orang-orang Yahudi, kebolehan mencari bantuan dari Amerika untuk menduduki Irak, dan kebolehan pemilihan parlimen, bahkan sikap mereka terhadap realiti kehidupan adalah dengan semangat patriotisme dan nasionalisme yang busuk dan menjijikkan.
Benar, inilah seruan Rasul kita yang mulia SAW kepada Anda, wahai para ulama, “Bangunlah dan singkirkan debu kebergantungan kepada penguasa, serta bersikaplah seperti sikap Izzuddin bin Abdus Salam yang jelas, tegas, dan berani”.
Ya Allah, segerakanlah tertegaknya Khilafah rasyidah ‘ala minhājin nubuwah yang akan menyatukan kaum muslim, serta yang akan mengakhiri bencana dan malapetaka yang sejauh ini telah menyelimuti mereka. Ya Allah, terangi bumi dengan nur (cahaya)Mu yang mulia. Allāhumma āmīn!