KUNCI MENYONGSONG KEMENANGAN
Oleh: Ustaz Yuana Ryan Tresna
Kader dakwah dengan kriteria sebagaimana ditunjukkan dalam Al-Quran hendaklah berada di baris hadapan dalam menyongsong kemenangan.
Ada tiga kunci dalam menyongsong pertolongan Allah SWT tersebut:
- Pertama, melayakkan diri sebagai hamba yang teguh keimanannya, dalam keilmuannya dan dekat dengan Allah SWT.
- Kedua, melakukan usaha perubahan dari suatu keadaan menuju keadaan lain yang lebih baik secara optimum.
- Ketiga, sabar atas panjangnya perjuangan dan bahaya tipu daya musuh.
Mengapa perlu melayakkan diri dari sisi keimanan dan ketakwaan? Kerana kemenangan bagi umat Islam adalah kurniaan dari Allah. Adapun yang wajib kita lakukan adalah melakukan ikhtiar dalam perjuangan untuk mengubah keadaan dunia yang sebelumnya jauh dari aturan Islam menuju keadaan yang tunduk dan patuh pada aturan Allah SWT. Inilah perubahan menuju penerapan syariah Islam secara kaffah.
Perubahan itu hendaklah diusahakan sendiri oleh umat Islam. Ini kerana perubahan itu bersifat aktif. Allah SWT berfirman:
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمۡۗ ١١
“Sungguh Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (TMQ ar-Ra’d [13]: 11).
Imam al-Quthubi dalam Tafsirnya menjelaskan: Tentang firman Allah SWT, “Sungguh Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri,” maka Allah SWT memberitahukan di dalam ayat ini, bahawa Dia tidaklah mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka melakukan perubahan dari: (1) kalangan mereka; (2) orang yang mengurus mereka; atau (3) salah seorang mereka dengan hubungan apapun. Demikian sebagaimana Allah mengubah keadaan orang-orang yang kalah pada Perang Uhud yang disebabkan oleh perubahan sikap para pemanah, dan contoh-contoh lainnya yang ada dalam syariah.” (HR al-Bukhari, Muslim, Nasa’i dan Ibnu Majah) (Lihat: Al-Qurthubi, Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, 9/294).
Imam al-Baidhawi juga menyatakan: “Allah tidak mengganti sesuatu yang ada pada kamu dari kesihatan dan kenikmatan sampai mereka mengubah dengan individu mereka dari keadaan yang baik dengan keadaan yang buruk.” (Lihat al-Baidhawi, Anwâr at-Tanzîl wa Asrâr at-Ta’wîl, 3/183).
Dengan memperhatikan penafsiran di atas, perubahan yang dimaksud boleh bermakna mengubah yang buruk menjadi baik. Boleh juga bermakna merawat agar anugerah yang baik dari Allah tak berubah menjadi buruk kerana perilaku kita. Hal kedua inilah yang dicontohkan oleh Imam al-Qurthubi dan Imam al-Baidhawi di atas.
Adapun terkait sabar, Allah SWT berfirman:
وَٱصۡبِرۡ وَمَا صَبۡرُكَ إِلَّا بِٱللَّهِۚ وَلَا تَحۡزَنۡ عَلَيۡهِمۡ وَلَا تَكُ فِي ضَيۡقٖ مِّمَّا يَمۡكُرُونَ ١٢٧ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَواْ وَّٱلَّذِينَ هُم مُّحۡسِنُونَ ١٢٨
“Bersabarlah (Muhammad) dan kesabaranmu itu tidak akan terwujud kecuali dengan pertolongan Allah. Janganlah engkau bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan jangan (pula) bersempit dada terhadap tipu daya yang mereka rencanakan. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (TMQ an-Nahl [16]: 127-128).
Ungkapan “bersabarlah dan kesabaranmu itu tidak akan terwujud kecuali dengan pertolongan Allah” adalah penegasan perintah bersabar dan pemberitahuan bahawa sabar itu tidak akan boleh diperoleh kecuali dengan kehendak Allah, dengan pertolongan Allah, dan kekuatan Allah. Bersabar menghadapi musuh dakwah yang menyalahi dan menentang dakwah adalah kunci kemenangan. Ini adalah sunnatulLâh. Berusaha dan berdoalah agar kita beroleh sabar.
Sumber: Dipetik dari artikel Alwaie, “Al-Rijal Dalam Al-Quran” oleh Ustaz Yuana Ryan Tresna