[Hadits Shiyam] Mengemban Dakwah (Bahagian 1/4)
Harus dibezakan antara berdakwah (untuk memeluk) Islam dengan berdakwah kepada isti’naf hayat Islamiyah (melangsungkan kehidupan Islam). Sekalipun demikian masing-masing wajib dilakukan.
Berdakwah (untuk memeluk) Islam bererti mengajak orang bukan Muslim (kafir) agar memeluk Islam, serta masuk ke dalam naungan Islam dan terikat dengan hukum-hukumnya. Metode yang paling praktikal mengajak orang kafir masuk Islam adalah dengan menerapkan Islam kepada mereka melalui sebuah negara Islam, serta melaksanakan hukum Islam kepada mereka. Ini dilakukan agar mereka dapat menyaksikan cahaya Islam, tanpa sedikit pun kekaburan atau kesamaran.
Dengan demikian, mereka akan merasakan keadilan undang-undang Islam, serta melihat kebenaran akidah Islam. Kemudian, mereka akan terdorong untuk masuk Islam secara berbondong-bondong, sebagaimana yang telah terjadi pada masa lampau.
Seorang muslim adalah pengemban risalah (Islam) yang berkewajipan untuk menyampaikannya di mana pun dia berada. Seorang muslim mestilah tetap berdakwah, baik ketika di rumah mahupun ketika berpergian. Berdebat dengan orang-orang kafir dan membantah mereka dengan cara yang baik agar mereka masuk ke dalam agama Allah tanpa ragu mahupun keterpaksaan. Tidak boleh memaksa orang kafir agar memeluk Islam, baik oleh individu mahupun negara.
Mengemban dakwah adalah fardhu bagi setiap muslim. Banyak dalil yang menunjukkan hal itu.
Allah SWT berfirman, “Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan peringatan yang baik, serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya, Tuhanmulah Yang Maha Mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Yang Maha Mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (TMQ An Nahl: 125).
“Katakanlah, ‘Inilah jalanku. Aku dan orang-orang yang bersamaku (mengajak) ke (jalan) Allah dengan hujah yang jelas.’” (TMQ Yusuf: 108).
“Dan siapakah yang lebih bagus pernyataannya daripada orang yang mengajak kepada Allah dan beramal soleh, serta menyatakan, ‘Aku adalah termasuk orang-orang muslim.’” (TMQ Fushilat: 33).
Rasulullah SAW juga bersabda, “Allah akan menerangi wajah seseorang yang mendengarkan pernyataanku, lalu ia menyimpannya, kemudian disampaikannya sebagaimana yang didengarnya.”
Sabda beliau juga, “Allah memberikan petunjuk kepada seseorang melalui tanganmu (maka hal itu) lebih baik bagimu dibandingkan sebaik-baik kenikmatan.” Dalam riwayat lain, “Lebih baik bagimu daripada apa yang disinari oleh matahari (bumi dan seisinya).”
Nas-nas ini mahupun yang lainnya menunjukkan makna tegas yang berhubungan dengan kewajipan mengemban dakwah bagi setiap muslim dan kewajipan untuk menghadapi pemikiran-pemikiran kufur dengan segala bentuknya, baik berupa agama-agama seperti Nasrani, Yahudi, mahupun yang lain atau berupa ideologi seperti sosialisme, kapitalisme, dan yang lain. Usaha seperti ini menuntut mengetahui kekufuran serta berbagai macamnya agar dapat menghadapinya dengan argumentasi yang kuat dan memuaskan. Sebagaimana Allah telah menghadapi Yahudi, Nasrani, serta kaum musyrikin Arab penyembah berhala dalam kitab-Nya yang jelas dan tegas.
Setiap muslim hendaklah mengetahui apa yang ada pada orang-orang sosialis, kapitalis, serta yang lainnya. Kemudian menghadapi mereka dengan cara menyentuh akal manusia serta dengan argumentasi yang tegas. Ini sebagaimana cara dan gaya bahasa Al-Quran, serta cara-cara Rasulullah berdiskusi dengan ahli kitab dan orang-orang musyrik Arab.
Adapun kewajipan mengemban dakwah yang diemban oleh negara, hal itu merupakan aktiviti pokok yang berdasarkan kepada dalil-dalil tentang jihad. Dalil-dalil tersebut mencakupi ratusan ayat yang menyeru kaum muslim untuk memerangi orang kafir. Demikianlah perjalanan hidup Rasulullah SAW, perbuatan, mahupun pernyataan beliau yang (berfungsi) menjelaskan dan merincikan ayat-ayat tersebut.
Rasulullah SAW telah mempraktikkannya secara keseluruhan, bahkan yang sekecil-kecilnya setelah beliau berhasil membangun negara Islam di Madinah. Melalui negara pula, beliau memperluas kekuasaanya ke seluruh jazirah Arab hingga mencapai Syam. Kemudian, para sahabat setelah beliau dengan pemahaman yang sama melanjutkannya, hingga negara mereka, yakni negara Islam meliputi bahagian timur dan baratnya, mulai dari China di sebelah timur hingga Andalusia (Sepanyol) di sebelah barat. Kemudian dari laut Arab di sebelah selatan hingga pegunungan Caucasus di sebelah utara. Banyak manusia yang masuk Islam secara berbondong-bondong. Ini adalah cara mengemban dakwah terhadap orang-orang bukan Muslim.
[Bersambung]
Sumber: Hadits Shiyam