[Hadits Shiyam ] Hukum Meminta Bantuan Orang Kafir (Bahagian 1/2)
Sejak Islam datang, perbezaan antara makna yang ditunjukkan oleh kedua kata, yakni muslim dan kafir sangat jelas bagi kaum muslim. Muslim sesungguhnya bermakna setiap orang yang beragama Islam, yakni agama yang dibawa oleh Rasulullah SAW, sedangkan kafir adalah setiap orang yang beragama selain Islam. Jelaslah bahawa ia bukan seorang mukmin dan bukan pula muslim.
Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya agama yang diredhai di sisi Allah hanyalah Islam.” (TMQ Ali Imran: 19).
“Dan siapa saja yang mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tiadalah akan diterima (agamanya) dari padanya.” (TMQ Ali Imran: 85).
Terhadap kedua firman Allah SWT di atas, kaum muslim dapat memahaminya dengan benar dan jelas, tanpa perlu menakwilkan dan menyimpangkan maknanya bahawa non-muslim adalah kafir. Apabila si kafir itu mati, ia akan abadi di dalam neraka. Penganut Paganisme (penyembah berhala), Yahudi, Buddha, Nasrani, mahupun Sosialis semuanya adalah kafir, bukan muslim dan bukan mukmin. Mereka akan abadi di neraka pada Hari Kiamat kelak.
Kemudian terjadilah serangan pemikiran Barat yang diikuti dengan peperangan militer terhadap dunia Islam. Kafir penjajah tersebut diikuti oleh putera-putera kaum muslim yang telah mereka hipnotis sehingga menjadi corong dan pendukung mereka. Mereka terus berjalan menebar (racun) pemikiran bahawa siapa pun yang beriman kepada Allah adalah orang mukmin, bukan termasuk orang kafir, apa pun agamanya. Mereka menyerukan kerjasama antara sesama orang mukmin (mukmin asli dan mukmin palsu), serta mengambil sikap bersama untuk menghadapi paganisme dan atheist. Mereka juga mengeluarkan pernyataan bahawa tempat-tempat suci adalah milik seluruh kaum beriman.
Propaganda tersebut terus dilancarkan di tengah masyarakat. Ia pun telah disunting dengan pena yang digilap (dengan kebaikan). Namun, idea ini tidak pernah menular kepada majoriti umat Islam, tetapi hanya kepada segelintir orang sahaja. Di antaranya adalah mereka yang telah kenyang memakan kebudayaan Barat. Mereka telah terperangkap dalam propaganda ini. Mereka mengeluarkan pernyataan bahawa penganut Masehi (Nasrani) adalah beriman kepada Allah, begitu pula muslim juga beriman kepada Allah sehingga masing-masing adalah mukmin. Mereka menyatakan bahawa menjadi kewajipan kaum beriman, baik kaum muslim mahupun kaum masehiyin bersikap sama untuk melawan Sosialisme dan Kapitalisme-Materialisme dan hendaknya mereka saling bahu-membahu.
Mereka, yakni para penganjur pernyataan tersebut, menyerukan agar antara kedua-dua agama ini saling berdampingan. Mereka mengibarkan bendera bulan-bintang dan salib saling berpelukan. Mereka juga menulis makalah-makalah, syair-syair, serta lagu-lagu tentang persatuan masjid dan gereja. Akhirnya mereka memunculkan idea pada kita untuk menyelenggarakan konferensi agama Islam-Nasrani (semisal World Conference on Religion and Peace) dan telah beberapa kali diselenggarakan.
Sebenarnya ini merupakan idea yang amat berbisa dan penelanjangan yang amat mengerikan. Ia bukan hanya bertentangan dengan hukum syarak, bahkan bertentangan dengan akidah Islam. Sesungguhnya nas-nas Al-Quran dan Sunnah telah menyerangnya secara terbuka agar dapat diinterpretasikan yang lain. Ayat-ayat Al-Quran dengan jelas telah mengkafirkan setiap orang yang tidak memeluk agama Islam dan menganggap orang selain Islam sebagai orang kafir tanpa membezakan kafir yang satu dengan yang lainnya. Allah SWT berfirman tentang orang Nasrani, “Sesungguhnya jelas-jelas kafir orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putera Maryam.’” (TMQ Al Maidah: 72).
“Sesungguhnya jelas-jelas kafir orang-orang yang mengatakan, ‘Bahawasanya Allah adalah salah satu dari yang tiga.’” (TMQ Al Maidah: 73).
Allah SWT juga telah berfirman tentang ahli kitab, iaitu Yahudi dan Nasrani, “Katakanlah, ‘Hai ahli kitab, mengapa kamu ingkari ayat-ayat Allah?’” (TMQ Ali Imran: 98).
Allah berfirman bahawa kekafiran orang-orang musyrik dan ahli kitab adalah sama, “Orang-orang kafir dari ahli kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu.” (TMQ Al Baqarah: 105).
“Orang-orang kafir, yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahawa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya), sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata.” (TMQ Al Bayyinah: 1).
“Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (TMQ Al Bayyinah: 6).
Ketika Rasulullah SAW menampakkan permusuhan terhadap orang Yahudi bani Nadhir, turunlah firman Allah SWT, “Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama kali.” (TMQ Al Hasyr: 2).
Sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih daripada Rasulullah SAW, “Demi Zat yang jiwaku (Muhammad) ada di tangan-Nya, tidaklah salah seorang dari umat ini pernah mendengar (kenabian dan kerasulan)-ku, baik Yahudi atau Nasrani, kemudian ia mati dalam keadaan tidak beriman kepada Zat yang mengutusku, melainkan ia adalah penghuni neraka.” (HR Imam Muslim).
Nas-nas ini dan nas-nas lain menunjukkan bahawa orang Yahudi, Nasrani, dan orang musyrik adalah kafir. Mereka semua bukanlah orang mukmin. Mereka akan berada di dalam neraka selamanya. Setiap orang yang meyakini bahawa orang Nasrani dan orang mukmin termasuk ahlul jannah adalah kafir, keluar dari agama Islam, dan mendustakan ayat-ayat Allah. Tidak boleh diterima kekuasaanya mengatur dan status keadilannya. Ini ditinjau dari segi pemahaman tentang siapa yang dimaksud orang kafir.
[Bersambung]
Sumber: Hadits Shiyam