[Hadits Shiyam] Keterikatan pada Hukum Syarak Merupakan Dasar Terpenting bagi Tegaknya Daulah dan Kehidupan Individu (Bahagian 2/2)
[Sambungan dari Bahagian 1/2]
Telah dikeluarkan hadis oleh Ibnu Abi Hatim dan Thabrani dengan sanad sahih dari Ibnu Abbas, dia menyatakan, “Dahulu ada seorang ahli ramal bernama Abu Barzah Al Aslami yang menghukumi di antara orang-orang Yahudi tentang masalah yang mereka perselisihkan. Lalu ada di antara kaum muslim pergi berhukum kepadanya.”
Saat itu turunlah ayat, “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak bertahkim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (TMQ An Nisa’: 60).
Hal ini menunjukkan secara jelas bahawa merujuk kepada selain hukum syarak dianggap telah merujuk kepada thaghut. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran bahawa sesungguhnya syaitan berharap untuk menyesatkan manusia yang melaksanakannya.
Di samping ayat tadi, ada hadis-hadis yang maknanya jelas menunjukkan tentang kewajipan terikat dengan hukum-hukum syarak. Nabi SAW bersabda, “Kutinggalkan kalian sesuatu, jika kalian terikat dengannya, pasti tidak akan tersesat, iaitu kitab Allah (Al-Quran) dan Sunnahku.”
Sabdanya pula, “Barang siapa yang mengada-ada dalam perkara ini (agama Islam) bukan bersumber daripadanya, maka tertolak.”
Dalam riwayat lain, “Barang siapa yang melakukan perbuatan yang tidak kami (Nabi) perintahkan, maka tertolak.”
Diriwayatkan Muslim dari Jabir bin Abdillah bahawa Rasulullah SAW bersabda dalam khutbahnya, “Sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah (Al-Quran) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan dan setiap yang diada-adakan adalah bid’ah.”
Diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Irbadh bin Sariyah, dia mengatakan, “Pada suatu hari kami solat bersama Rasulullah. Setelah selesai solat, beliau menghampiri kami seraya menasihati dengan nasihat mendalam yang menyebabkan air mata berlinang dan hati pun bergetar. Salah seorang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, seakan-akan nasihat ini adalah nasihat yang terakhir. Apa yang engkau pesankan kepada kami?’”
Beliau menjawab, “Aku mewasiati kalian agar selalu bertakwa kepada Allah, serta mendengar dan taat kepada ulil amri (penguasa) sekalipun dia seorang hamba Ethopia (Habsyah). Sesungguhnya orang yang hidup di antara kalian, nescaya dia akan menyaksikan banyak perbezaan pendapat. Jika demikian, berpegang teguhlah pada sunnahku (jalan hidupku) dan sunnah para khulafaurasyidin yang mendapat petunjuk itu (Al Mahdiyin). Berpegang eratlah pada sunnah tersebut dan gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham (sabarlah dengan berpegang teguh pada sunnah). Jauhilah oleh kalian perkara yang diada-adakan kerana sesungguhnya setiap perkara yang diada-adakan itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat.”
Sunnah rasul yang dimaksud itu adalah perkataan, perbuatan, dan penetapan (takrir) Rasul, yakni sunnah yang merupakan salah satu sumber hukum syarak, bukannya dalam maksud mandub, nawafil, atau mencontohi Rasul. Adapun yang dimaksud dengan sunnah Khulafaurasyidin al Mahdiyin adalah segala penerapan hukum syarak yang dijalani oleh mereka. Sedangkan Khulafaurasyidin yang dimaksud adalah semua khalifah yang menunjuki dan mendapat petunjuk, bukan hanya mereka yang empat orang saja, baik para khalifah itu hidup pada masa pertama seperti Umar Ibnu Abdul Aziz, mahupun Khalifah yang akan datang.
Ibnu Jarh mengutip dalam bukunya As Shawa’ig dari Abi Sa’id Al Khudhri dari Nabi SAW bahawa beliau bersabda, “Sungguh aku telah meninggalkan kitabullah Azza Wajalla dan sunnahku di tengah kalian. Berpegangteguhlah kalian kepada Al-Quran dan sunnahku itu!”
Hadis-hadis tadi merupakan dalil agar berpegang teguh pada Kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, yakni dalil agar berpegang teguh pada hukum-hukum syarak. Dengan demikian, hadis-hadis itu merupakan dalil bagi keterikatan pada hukum-hukum syarak.
Rasulullah SAW tidak berhenti pada memerintah berpegang teguh kepada Al-Quran dan sunnah. Beliau juga melarang mengikuti selain keduanya dengan melarang mengikuti selain jalan kita. Imam Bukhari meriwayatkan hadis dari Abi Sa’id Al Khudhri dari Nabi SAW, “Kalian benar-benar akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai-sampai sekalipun mereka masuk ke lubang biawak, kalian pun mengikuti mereka.” Kami bertanya, “Apakah mereka itu Yahudi dan Nasrani, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Siapa lagi kalau bukan mereka!”
Hadis di atas merupakan larangan yang tegas. Sebabnya, hadis itu mencakup celaan tegas bagi pelakunya, di samping celaan terhadap perbuatannya.
Di samping itu, Rasulullah SAW melarang bertanya kepada ahli kitab tentang “sesuatu”. Sebabnya, bertanya kepada mereka berarti merujuk kepada selain Al-Quran dan sunnah, yakni merujuk kepada selain hukum-hukum syarak.
Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kalian bertanya tentang sesuatu kepada ahli kitab.”
Imam Bukhari meriwayatkan hadis dari Abdullah Ibnu Abbas ra., “Bagaimana kalian menanyakan sesuatu kepada ahlul kitab, padahal kitab kalian yang diturunkan kepada Rasulullah SAW lebih baru, kalian membacanya dalam keadaan murni tanpa ditambah-tambah.”
Hadis-hadis tadi merupakan dalil bagi larangan mengambil sesuatu apa pun dari selain Al-Quran dan Sunnah, yakni dalil bagi larangan mengambil sesuatu apa pun dari selain hukum-hukum syarak. Hal ini makin memperkuat wajibnya terikat pada hukum-hukum syarak seerat-eratnya.
Dalil-dalil tadi menunjukkan makna yang tidak dapat diperdebatkan lagi, iaitu wajibnya terikat dengan hukum-hukum syarak. Menunjukkan pula bahawa hukum-hukum syarak tersebut merupakan landasan kehidupan individu muslim. Dengan demikian, pengabaian sebahagian individu terhadap hukum syarak di dalam kehidupan keseharian mereka dan tidak diterapkannya hukum tersebut dalam hubungan antara individu tersebut telah meruntuhkan nilai landasan (dasar) tempat berpijaknya kehidupan keseharian individu itu, sekaligus merobohkan landasan tempat tegaknya hubungan antara individu tersebut.
Oleh kerana itu, sia-sia menegakkan Daulah Islamiah oleh individu-individu yang telah runtuh landasan tempat berpijak kehidupan Islamiah mereka dan runtuh pula landasan tempat berpijaknya hubungan antara individu itu.
Berdasarkan hal ini, hal terpenting yang dihadapi para pengemban dakwah pada saat mereka berusaha melestarikan kehidupan Islam dan mengemban dakwah ke seluruh penjuru dunia adalah hendaklah mereka menjelaskan urgensi landasan tempat tegaknya hubungan antara individu. Sungguh, inilah aktiviti utama untuk menegakkan pemerintahan atas dasar pemikiran/konsepsi Islam. Hal ini hanya dapat terjadi dengan jalan menjadikan keterikatan kepada hukum-hukum syarak sebagai salah satu karakter kaum muslim. Selain itu dengan cara menjadikan keterikatan tersebut sebagai satu-satunya yang mendominasi masyarakat.
Sumber: Hadits Shiyam