[Hadits Shiyam] Garis-Garis Besar Islam (Bahagian 4/4)
[Sambungan dari Bahagian 3/4]
Islam mengharamkan kaum muslim tunduk terhadap cengkaman orang kafir ataupun menerima pemerintahan mereka. Allah SWT berfirman, “Allah tidak akan menjadikan bagi orang-orang kafir atas orang-orang mukmin suatu jalan.” (TMQ An-Nisa’: 141).
“Hendaklah orang-orang mukmin tidak mengambil orang-orang kafir sebagai teman, selain orang-orang mukmin. Barang siapa yang melakukannya, nescaya Allah melupakannya.” (TMQ Ali Imran: 28).
“Janganlah kalian menjadikan musuhku dan musuh kalian sebagai teman yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad) kerana rasa kasih sayang.” (TMQ Al-Mumtahanah: 1).
“Janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu, orang-orang yang di luar kalanganmu kerana mereka tidak menghentikan atau menimbulkan kemudaratan bagimu. Mereka menyukai orang yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi.” (TMQ Ali Imran: 118).
Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kalian meminta “penerangan” dengan api orang-orang musyrik.”
“Aku berlepas diri dari setiap orang muslim yang meminta “penerangan dengan api” orang-orang musyrik. Janganlah kalian mengharapkan “penerangan” mereka berdua.”
Islam melarang pemikiran umat Islam dicengkam oleh pemikiran kufur. Sebagaimana mereka diharamkan untuk menerapkan hukum dengan aturan-aturan kufur. Allah SWT berfirman, “Mereka hendaklah berhukum kepada taghut, padahal mereka diperintahkan untuk mengingkarinya. Dan syaitan ingin menyesatkan mereka dengan sesesat-sesatnya.” (TMQ An-Nisa’: 60).
Islam memerintahkan kaum muslim agar menerapkan semua yang diturunkan oleh Allah SWT dalam semua persoalan hidup mereka. Islam mengharamkan mereka menerapkan hukum atau melakukan kegiatan apa pun selain dengan hukum-hukum Islam. Hal itu telah ditetapkan oleh dalil qath’i, baik sumber dan maknanya.
Allah SWT berfirman, “Barang siapa yang tidak menerapkan hukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah, maka mereka adalah orang-orang kafir.” (TMQ Al-Maidah: 44).
“Maka, mereka adalah orang-orang zalim.” (TMQ Al-Maidah: 45).
“Maka, mereka adalah orang-orang fasik.” (TMQ Al-Maidah: 47).
Allah SWT berfirman, “Maka demi Tuhanmu, mereka sama sekali tidak beriman hingga menjadikan kamu sebagai hakim dalam hal yang mereka perselisihkan.” (TMQ An-Nisa’: 65).
“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhirat, serta tidak mengharamkan apa yang Allah dan Rasul-Nya haramkan. Dan mereka tidak memeluk agama yang benar, iaitu orang-orang yang diturunkan Kitab (ahli kitab, Nasrani, dan Yahudi) hingga mereka memberikan jizyah sesuai dengan kemampuan dan mereka dalam keadaan tunduk.” (TMQ At-Taubah: 29).
“Hai orang-orang yang beriman, tunaikanlah janjimu.” (TMQ Al-Maidah: 1).
“Dan berikanlah kepada mereka, harta Allah yang Dia berikan kepadamu.” (TMQ An-Nur: 33).
“Dan tunaikanlah solat.” (TMQ Al Baqarah: 43).
“Dan Tuhanmu memutuskan agar kalian tidak menyembah selain kepada-Nya. Dan kepada kedua orang tua, berbuat baiklah.” (TMQ Al-Isra’: 23).
Serta ratusan ayat dan hadis lain yang menunjukkan penentuan hukum-hukum dalam setiap persoalan hidup. Allah telah memerintahkan kepada Rasulullah SAW agar menerapkan hukum di tengah manusia dengan apa yang Allah turunkan. Perintah-Nya bersifat jazim (pasti).
Allah SWT berfirman, “Maka, hukumi di antara mereka dengan apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti kemahuan mereka (agar memalingkan) kamu terhadap kebenaran yang diturunkan kepadamu.” (TMQ Al Maidah: 48).
“Dan hukumlah mereka dengan apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan hati-hatilah agar mereka memalingkan kamu dari sebahagian yang diturunkan Allah kepadamu.” (TMQ Al Maidah: 49).
Seruan untuk Rasul juga merupakan seruan yang berlaku bagi umat beliau. Dengan demikian, ia pun menjadi seruan untuk kaum muslim agar menegakkan pemerintahan. Ini tidak bererti menegakkan pemerintahan selain menegakkan kekuasaan serta pemerintahan iaitu mengangkat khalifah agar menerapkan hukum-hukum Islam.
Dalil-dalil ini amat jelas bahawa menegakkan pemerintahan dan kekuasaan atas kaum muslim adalah fardhu. Juga amat jelas bahawa mengangkat khalifah yang memimpin pemerintahan dan kekuasaan adalah fardhu bagi kaum muslim. Hal itu dalam rangka menerapkan hukum-hukum syarak, bukan sekadar ada pemerintahan dan kekuasaan. Sedangkan mengangkat khalifah adalah dengan baiat. Dari Nafi’ berkata, “Umar berkata kepadaku, ‘Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Barang siapa yang mati dan di atas pundaknya tidak ada baiat, maka dia mati dalam keadaan jahiliah.””
Imam Muslim meriwayatkan bahawa Nabi SAW bersabda, “Barang siapa yang membaiat seorang pemimpin lalu dia “menghulurkan tangannya” dan kepuasan hatinya, maka taatilah semampunya. Jika ada orang lain yang ingin merebutnya, penggallah lehernya.”
Islam telah mewajibkan seluruh kaum muslim di seluruh persada bumi agar menegakkan Khilafah dan menjadikan pengangkatannya sebagai fardhu yang wajib dilakukan. Ini sebagaimana melakukan kefardhuan lainnya yang telah difardhukan Allah SWT bagi kaum muslim. Perlu menjadikan hal itu sebagai persoalan yang pasti, tidak ada alternatif lain. Juga tidak boleh ada kelalaian dalam hal ini. Lalai untuk melakukannya adalah kemaksiatan yang paling besar dan akan diazab Allah SWT dengan azab yang sangat pedih. Sebab, tidak mungkin menerapkan hukum-hukum Islam, kecuali dengan mengangkat khalifah.
Sumber: Hadits Shiyam