[Sejarah Nasionalisme di Dunia Islam]
Mendefinisikan Nasionalisme
Konsep nasionalisme tidak akan dapat difahami tanpa mengkaji cara yang digunakan manusia dalam mengidentifikasikan dirinya dan cara yang dipergunakannya dalam berinteraksi dengan orang lain dalam masyarakat. Pembahasan ini akan memungkinkan dijelaskannya perbezaan antara berbagai macam kelompok manusia dan nasionalisme. Umat manusia dapat mengidentifikasikan dirinya dan berkelompok secara bersama-sama berdasarkan beberapa hal. Pertama, kecintaan terhadap tanah air, yakni patriotisme. Kedua, suku atau ras, yakni nasionalisme. Ketiga, agama-agama, yakni ikatan spiritual. Keempat, isu-isu tertentu, yakni ikatan kepentingan. Kelima, keimanan, yakni ikatan ideologis.
- Patriotisme
Patriotisme muncul ketika manusia hidup bersama disebabkan kecintaannya terhadap tanah airnya. Ini adalah bentuk persatuan yang muncul ketika tanah tersebut ada di bawah ancaman pihak luar, misalnya konflik militer dengan bangsa lain. Pengaruh ikatan ini menyebabkan orang-orang yang berasal dari latar belakang yang berbeza mengetepikan perbezaan mereka untuk membentuk titik persamaan umum dengan didukung oleh suatu pemerintahan.
Contoh klasik patriotisme boleh didapati semasa pencerobohan Kepulauan Falkland oleh Argentina. Pendapat umum di England yang dibentuk menentang Argentina dengan menggunakan media massa akhirnya dapat menyatukan semua parti politik yang ada ketika itu. Mesej yang disampaikan cukup sederhana, “Kita sedang berperang demi Ratu dan Negara”. Persatuan semacam ini yang didasarkan pada patriotisme segera sirna setelah Pulau Falkland direbut kembali dari tangan Argentina.
Kelemahan yang melekat pada patriotisme sebagai dasar untuk mempersatukan orang adalah bahawasanya patriotisme mempersatukan orang secara sementara. Jika ancaman dari luar hilang, akan hilang pula rasa persatuan di antara mereka. Dengan demikian, patriotisme tidak mempunyai erti pada masa damai. Sebabnya, patriotisme tidak dapat dipakai sebagai dasar untuk persatuan yang hakiki. Selain itu, patriotisme juga tidak menyediakan sistem untuk mengatur masyarakat.
- Nasionalisme
Nasionalisme adalah ikatan antara manusia yang didasarkan atas ikatan kekeluargaan, klan, dan kesukuan. Nasionalisme muncul di antara manusia tatkala pemikiran mendasar yang mereka emban adalah kehendak untuk mendominasi.
Ini bermula dengan sebuah keluarga di mana seorang ahli keluarga menunjukkan kewibawaannya untuk memimpin semua urusan keluarga. Jika ini tercapai, orang ini akan melebarkan sayap kepimpinannya ke dalam masyarakat yang merupakan satu bentuk lanjutan sesebuah keluarga. Dengan cara ini, keluarga ini juga cuba mendapatkan kuasa dalam masyarakat di mana mereka tinggal. Tahap seterusnya ialah persaingan antara suku. Masing-masing hendak mendominasi yang lain agar mendapatkan hak-hak istimewa dan prestij yang diperoleh kerana kekuasaan.
Nasionalisme tidak dapat menyatukan umat. Sebabnya, ikatan ini didasarkan pada naluri mempertahankan hidup dan keinginan untuk menguasai tampuk kepemimpinan. Persaingan untuk mendapatkan kekuasaan ini memicu terjadinya pertarungan kekuatan antara manusia dan hal ini mendorong terjadinya konflik di antara seluruh level masyarakat.
Contoh pertarungan kekuatan semacam ini boleh dilihat dengan jelas di negeri-negeri Islam [1], seperti Arab Saudi dan juga Pakistan. Di Arab Saudi, keluarga Saud telah berjaya meraih tampuk kepemimpinan melalui kekuatannya. Demikian juga di Pakistan, keluarga Bhutto telah berjaya menanamkan pengaruhnya melalui feudalisme.
Kelemahan lain nasionalisme adalah ia mendorong munculnya rasisme. Hal ini boleh berlaku jika manusia diberi kesempatan untuk bersaing atas dasar ras mereka. Orang-orang kulit putih, misalnya, merasa bahawa dirinya lebih superior dibandingkan orang-orang kulit hitam atau sebaliknya. Hal ini menjurus ke arah polarisasi ras dan masyarakat yang terpecah belah. Adapun pandangan Islam tentang nasionalisme akan dikemukakan pada bahagian akhir buku ini.
- Ikatan Spiritual
Ikatan spiritual adalah ikatan atau persatuan manusia berdasarkan pada “kepercayaan agama” mereka dan kepercayaan itu sifatnya tidak komprehensif. Kepercayaan ini hanya berkaitan dengan aspek ritual suatu ibadah, iaitu hubungan antara manusia dan dewa. Sebuah contoh ikatan spiritual adalah ketika manusia mengidentifikasikan dirinya dengan orang lain berdasarkan agama Kristian atau Hindu.
Ikatan spiritual tidak mengikat dan menyatukan manusia dalam masalah-masalah, selain urusan keimanan dan persembahan. Namun, terbatas dan tidak boleh dipakai sebagai dasar untuk mempersatukan manusia dengan kuat.
- Kesamaan Kepentingan
Cara lain manusia berkelompok adalah berdasarkan kesamaan kepentingan. Kelompok orang tertindas merupakan satu contoh dari kelompok ini. Di sini manusia berkelompok berdasarkan urusan tertentu yang mempengaruhi kehidupan mereka.
Contoh-contoh lain pengelompokan jenis ini adalah pemilihan umum pada zaman dahulu dan juga kempen perlucutan senjata nuklear (Campaign for Nuclear Disarmament) pada saat ini. Biasanya, sekali masalah yang diisukan telah selesai, akan hilang pula ikatan ini.
Menyatukan manusia dengan menggunakan kesamaan kepentingan sebagai dasar tidak akan mampu menghasilkan persatuan yang benar-benar kukuh. Selain itu, manusia yang bersatu dalam kelompok semacam ini akan memiliki pemikiran yang berbeza terhadap permasalahan yang sama. Ini memungkinkan timbulnya perselisihan dengan mudah. Contohnya, banyak orang yang mendukung penyebaran senjata nuklear sebagai alat penjaga keamanan, sementara yang lain, seperti anggota CND, sebahagian mengusulkan untuk mengurangkan senjata nuklear. Jadi kesamaan kepentingan tidak akan memberikan dasar yang kuat untuk menyatukan manusia.
- Ideologi
Manusia juga boleh berkelompok berdasarkan atas ideologi [2]. Ideologi adalah keyakinan (akidah) yang melahirkan satu pakej peraturan dan sistem yang mampu mengatur hidup manusia. Kepada peraturan itu pula manusia yang meyakininya mengembalikan seluruh masalah kehidupannya.
Ikatan yang didasarkan pada ideologi biasanya dikenali dengan ikatan ideologis. Ikatan ini hanya memandang akidah dan bukan yang lain. Perbezaan warna kulit, ras, dan jenis kelamin bukanlah persoalan yang dapat menghalang orang untuk saling mengikatkan diri satu dengan yang lain.
Jenis ikatan ini dijumpai pada orang-orang muslim, kapitalis, dan komunis. Ikatan ideologis merupakan ikatan yang permanen (kekal) kerana ia lahir dari keyakinan akidah, iaitu akidah aqliyah yang memberikan makna pada kehidupan. Akidah tidak pernah dipengaruhi oleh warna kulit, ras, bahasa, kecintaan terhadap tanah air, isu-isu lokal. Oleh kerana itu, ideologi adalah satu-satunya dasar yang kuat untuk menyatukan manusia secara permanen. Hal ini akan dijelaskan dengan lebih terperinci pada bahagian selanjutnya.
Catatan kaki:
[1] Konsep negeri Islam dan Negara Islam di sini dibezakan. Negeri Islam adalah suatu negeri yang majoriti penduduknya adalah kaum muslim, sedangkan peraturan yang diterapkan bukanlah peraturan Islam yang murni. Adapun Negara Islam adalah suatu negara yang keamanannya dipegang oleh kaum muslim dan peraturan yang ditegakkan adalah peraturan Islam semata.
[2] Akidah aqliyah adalah keyakinan yang kuat dan pasti yang muncul dari proses berfikir mendasar.
Sumber: Sejarah Nasionalisme di Dunia Islam