[Seputar Gerakan Islam] Fasa Mekah (Bahagian 17/22)
[Sambungan dari Bahagian 16/22]
Rasulullah SAW melakukan kontak dengan sekelompok orang dari penduduk Yathrib pada musim haji tahun ke-12 kenabian. Jumlah mereka sebanyak 12 orang. Di antara mereka adalah lima orang dari enam orang yang telah berhubungan dengan Rasul pada musim haji tahun sebelumnya, sedangkan tujuh orang yang lain adalah lima dari Khazraj dan dua dari Aus.
Mereka bertemu dengan Rasul SAW di Bukit Aqabah untuk pertama kalinya. Mereka membaiat Rasul di atas tauhid, serta menjaga diri dari mencuri, berzina, dan membunuh anak-anak, juga di atas ketaatan. Baiat ini dinamakan Bay’at an-Nisa. Imam Al-Bukhari dalam hadis dari Ubadah bin Shamit, bahawa Rasul SAW pernah bersabda, “Kemarilah, berbaiatlah kalian kepadaku untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak kalian, tidak mendatangkan kebohongan yang kalian buat-buat di antara tangan dan kaki kalian, dan tidak bermaksiat kepadaku dalam kemakrufan. Siapa saja di antara kalian yang memenuhinya, maka pahalanya di hadapan Allah. Siapa saja di antara kalian yang tertimpa (melakukan) sesuatu (kesalahan) dari yang demikian, lalu diberi hukuman di dunia kerananya, hal itu merupakan kafarat (tebusan) baginya. Siapa yang tertimpa (melakukan) sesuatu dari yang demikian lalu Allah menutupinya, maka urusannya kembali kepada Allah, jika Dia berkehendak, Dia menghukumnya atau Dia memaafkannya.” (HR Al-Bukhari).
Kemudian Ubadah bin Shamit berkata, “Kami membaiat beliau atas yang demikian itu.”
Setelah baiat dan musim haji selesai, bersama orang-orang yang berbaiat tersebut, Rasul SAW mengutus seorang pemuda dari kaum muslim yang telah lebih dahulu memeluk Islam, iaitu Mus’ab bin Umair al-Abdari.
Mus’ab menyertai mereka ke Yathrib untuk memahamkan mereka mengenai agama Islam, membacakan Al-Quran kepada mereka, dan menyeru agar mereka beraktiviti menyebarkan Islam di antara penduduk Yathrib yang masih tetap dalam kemusyrikan mereka.
Dengan demikian, Mus’ab adalah utusan pertama Islam ke Yathrib. Dia tinggal di rumah As’ad bin Zurarah. Kemudian keduanya mulai menyebarkan Islam kepada penduduk Yathrib. Mus’ab memperoleh kejayaan yang mengagumkan dalam tugasnya.
Di tangan Mus’ab dan sahabatnya yang mulia, banyak orang masuk Islam, di antaranya adalah pemuka kaum seperti Saad bin Muadz dan Usaid bin Hudhair. Seluruh penduduk Bani Abd al-Asyhal juga masuk Islam. Akhirnya, Islam tersebar di Yathrib hingga tidak tersisa satu kampung, kecuali di dalamnya terdapat sebutan Islam.
Sebelum datangnya musim haji tahun ke-13 kenabian, Mus’ab bin Umair kembali ke Mekah dengan membawa khabar kemuliaan. Dia menceritakan khabar tentang kabilah-kabilah Yathrib ke hadapan Rasul. Di dalamnya terdapat hadiah-hadiah kebaikan, kekuatan, serta sandaran.
Pada musim haji berikutnya, iaitu tahun ke-13 kenabian, pada Jun 622 M, datanglah ke Mekah sebanyak 73 lelaki dan dua orang wanita dari kaum muslim yang bergabung dengan orang-orang musyrik dari kaumnya yang menunaikan haji. Ketika mereka tiba di Makkah al-Mukarramah, di antara mereka dan Rasul terjadi hubungan rahasia yang berakhir dengan kesepakatan, yakni Rasul dan mereka bertemu pada pertengahan Hari Tasyriq di suatu celah Bukit Aqabah.
Ketika melempar jamrah pertama di Mina, terjadilah pertemuan tersebut di tengah gelapnya malam dengan kerahasiaan yang penuh. Ketika selesai haji dan tiba waktu yang dijanjikan, setelah berlalu sepertiga malam, mereka berkumpul di tempat yang ditentukan. Kemudian Rasul datang bersama bapa saudara beliau, Abbas bin Abdul-Mutthalib –yang pada waktu itu masih kafir –dan dia yang pertama kali berbicara dalam pertemuan itu.
Dia berkata, “Wahai sekalian kaum Khazraj, baik orang Khazraj mahupun Aus seluruhnya. Sesungguhnya Muhammad di tengah kami memiliki kedudukan sebagaimana yang kalian ketahui. Sungguh kami telah melindunginya dari kaum kami, dari siapa yang kita ketahui bersama. Dia berada dalam kemuliaan kaumnya dan perlindungan di negerinya. Akan tetapi, dia enggan, kecuali bergabung dan berkumpul dengan kalian. Jika kalian melihat bahawa kalian akan memenuhi apa yang dia serukan kepada kalian dan melindunginya dari orang-orang yang menyelisihinya, kalian dan apa yang kalian tanggung dari konsekuensi hal itu. Jika kalian melihat bahawa kalian akan menyerahkannya dan menghinakannya setelah dia keluar kepada kalian, sejak dari sekarang biarkan dia. Sesungguhnya dia berada dalam kemuliaan dan perlindungan kaumnya dan negerinya.”
Mereka berkata kepadanya, “Sungguh kami telah mendengar apa yang engkau katakan. Jadi, berbicaralah, wahai Rasulullah SAW dan ambillah untuk diri anda dan Tuhan anda apa yang anda sukai.” (Sirah Ibnu Hisyam).
Sumber: Muhammad Said Abu Za’rur, Seputar Gerakan Islam.