[Seputar Gerakan Islam] Fasa Mekah (Bahagian 18/22)
[Sambungan dari Bahagian 17/22]
Setelah itu Rasulullah SAW berbicara, membaca Al-Quran, berdoa kepada Allah SWT, dan menyemangati mereka dalam Islam. Kemudian beliau bersabda, “Aku menerima baiat kalian untuk melindungiku sebagaimana kalian melindungi para wanita dan anak-anak kalian.”
Selanjutnya mereka membaiat Rasul SAW dan meminta janji dari Rasul untuk tidak meninggalkan mereka dan kembali kepada kaumnya. Rasul pun menjanjikan yang demikian dan berkata, “Aku adalah bahagian dari kalian dan kalian bahagian dari diriku. Aku akan memerangi siapa saja yang memerangi kalian dan berdamai dengan siapa saja yang berdamai dengan kalian.”
Rasul SAW kemudian memilih dua belas orang dari mereka sebagai wakil, yakni sembilan dari Khazraj dan tiga dari Aus.
Imam Ahmad telah menuturkan riwayat dari Jabir ra. yang berkata apa yang terjadi dalam baiat itu. Jabir berkata, “Untuk maksud apa kami membaiat anda?” Rasul SAW bersabda, “Untuk mendengar dan taat, baik dalam keadaan bersemangat mahupun malas, menafkahkan baik dalam keadaan susah mahupun mudah, memerintahkan kemakrufan dan melarang dari kemungkaran, tegak di jalan Allah, tidak berpengaruh kepada kalian di jalan Allah celaan orang yang suka mencela, menolongku jika aku datang kepada kalian, dan kalian melindungiku sebagaimana kalian melindungi diri kalian, isteri-isteri, dan anak-anak kalian, dan bagi kalian syurga.”
Telah sempurnalah penekanan atas baiat, penjelasan konsekuensi dan kepentingannya, serta penetapan poin-poinnya.
Dimulailah baiat itu dengan berjabat tangan. Setelah itu dimulakan baiat secara umum. Jabir ra. berkata, “Kami berdiri dan menghadap kepada beliau seorang demi seorang. Beliau lalu mengambil baiat dari kami. Dengan baiat itu, beliau memberi kami janji berupa syurga.”
Setelah selesai baiat, Rasulullah SAW meminta dipilihkan dua belas orang wakil sebagai penanggungjawab atas kaumnya. Mereka memikul tanggungjawab atas diri mereka dalam penerapan poin-poin baiat. Rasul kemudian bersabda kepada kaum itu, “Keluarkanlah dari kalian dua belas orang naqib (penanggungjawab) agar mereka menjadi orang yang menjalankan di tengah kaumnya dan apa saja yang ada di tengah mereka.”
Selesailah pemilihan pada saat itu. Mereka terdiri dari sembilan orang dari Khazraj dan tiga orang dari Aus. Kemudian Rasul SAW bersabda kepada mereka, “Kalian atas kaum kalian dan apa yang ada di tengah mereka adalah penanggungjawab sebagaimana tanggungjawab kaum Hawariyun terhadap Isa bin Maryam. Aku bertanggungjawab atas kaumku (yakni kaum muslim).”
Mereka menjawab, “Baiklah.” Baiat ini dinamakan Baiat Aqabah II atau Bay’ah al-‘Aqabah al-Kubrá, juga disebut Bay’ah al-Harb (Baiat Perang) kerana mereka membaiat Rasul atas kesanggupan orang berkulit merah dan berkulit hitam. Ini seperti yang dikatakan oleh Abbas bin Ubadah bin Nadhlah, salah seorang yang berbaiat, untuk menjelaskan sejauh mana konsekuensi baiat dan untuk menegaskan kesungguhan mereka dalam hal ini.
Dengan demikian, pertolongan kepada Rasulullah SAW telah sempurna. Allah telah membuka pintu kelapangan di tangan kaum Ansar. Mereka telah menolong agama Allah dan Rasul-Nya. Dengan mereka, Allah memuliakan Islam. Di atas pundak mereka, berdirilah negara pertama seperti yang akan kita ketahui.
Benar, baiat telah sempurna dan Allah SWT telah membuka pintu kelapangan bagi Rasul-Nya dan kaum mukmin. Allah SWT telah menyiapkan bagi mereka sebab-sebab pertolongan dan perlindungan.
Orang-orang Quraisy telah mendustakan berita tentang baiat ini pada awal mulanya. Ketika mereka merasa yakin akan berita itu, mereka mengirim sebahagian penunggang kuda untuk mengikuti jejak mereka dan mengusir orang-orang yang berbaiat di antara penduduk Yathrib. Akan tetapi, waktu telah berlalu sekian lama.
Setelah baiat ini sempurna, Rasulullah SAW mengizinkan kaum muslim untuk hijrah ke Yathrib. Mulailah kaum muslim keluar mengikuti perintah Rasulullah SAW dan meninggalkan berbagai kepentingan mereka di belakang mereka.
Mereka meninggalkan harta dan kekayaan milik mereka di belakang mereka. Terkadang mereka meninggalkan isteri-isteri dan anak-anak mereka. Mereka mengorbankan segenap hal, baik yang mahal mahupun yang murah, untuk berjumpa dengan saudara-saudara mereka kaum Ansar.
Mereka pergi dengan mengharapkan keredhaan Allah dan melaksanakan perintah Rasul-Nya. Mereka merasa lapang dan gembira dengan pertolongan ini. Bahkan mereka yakin bahawa kemuliaan hanya milik Allah, Rasul-Nya, dan bagi mereka.
Sumber: Muhammad Said Abu Za’rur, Seputar Gerakan Islam.