DARAH DI GAZA: SERUAN UNTUK UMAT
(Sebuah Puisi Kepedihan dan Panggilan Persatuan)
****
Di antara puing yang merintih pilu,
Gaza menangis dalam gelap yang tak bertepi.
Langitnya seakan pecah oleh peluru,
Buminya haus akan keadilan yang sejati.
Anak-anak kecil memeluk erat mayat ayahnya,
Ibu-ibu menjerit, tapi dunia tuli.
Di sini, di tanah yang dikubur asap mesiu (peledak),
Kita diam, sementara Zionis membunuh lagi.
****
Wahai umat, di mana darahmu yang mendidih?
Di mana amarahmu yang seharusnya membara?
Kita terpecah oleh bendera-bendera semu,
Dibatasi tembok nasionalisme yang fana.
Para penguasa hanya beretorika di atas mimbar,
Mengutuk, tapi tak berani bertindak.
Sementara Gaza hancur berkeping-keping,
Kita hanya bisa menonton, tersekat oleh batas politik.
****
Di New York, di Geneva, di Istana-istana megah,
Para pemimpin berkumpul, rapat, lalu bubar.
Resolusi? Hanya tinta di atas kertas,
Sementara darah anak-anak Palestin
Menjadi tinta sebenarnya yang mengalir deras.
OIC berteriak, tapi tak ada senjata,
PBB mengutuk, tapi Zionis tertawa.
“Di mana pasukan Umat Islam?” tanya bumi Gaza,
Jawabnya hanya gemercik air mata,
Dan bendera-bendera setengah tiang,
Yang besok akan dikibarkan lagi,
Seperti pengkhianatan yang tak pernah usai.
****
Kita teriak “Palestin!” tapi tutup perbatasan,
Kita tunjuk rasa (berhimpun), tapi tolak pelarian yang lari dari pembantaian.
Kita bangga pada sejarah, tapi khianati masa depan,
Rupanya umat ini mencintai tanah airnya,
Lebih dari saudaranya yang dibantai.
Lihatlah peta! Siapa yang menggambar garis-garis ini?
Inggeris? Perancis? Penjajah yang sama yang menjual Palestin!
Tapi kita pertahankan perbatasan itu,
Seperti tawanan yang mencintai rantainya.
****
Umat ini lemah kerana tercerai-berai,
Bagai buih diombang-ambing ombak.
Kita lupa, sejatinya kita bisa bersatu dan bersaudara,
Tertipu oleh dunia, terbelenggu oleh batas-batas semu yang jahat.
Di mana khalifah yang pernah memayungi?
Di mana pedang yang dulu membela yang lemah?
Kini kita hanya angka di peta dunia,
Bisu, walau darah saudara mengalir deras.
****
Wahai umat, bangkitlah! Jangan lagi terlena,
Persatuan bukanlah mimpi yang mustahil.
Satu kepemimpinan, satu panji,
Itulah jalan, jika kita ingin mulia kembali.
Jangan diam, walau senjata tak di tangan,
Bantu dengan apa yang kita mampu:
Suaramu, hartamu, doamu, dakwahmu,
Bahkan nyawa, jika itu yang dituntut-Nya.
****
Gaza bukanlah dongeng sebelum tidur,
Ia nyata, ia luka yang terus menganga.
Setiap derita mereka adalah cermin,
Betapa kita gagal menjadi penjaga.
Maka, wahai yang masih punya iman,
Bersatulah! Jangan biarkan mereka sendirian.
Hari ini Gaza, esok bisa tanahmu,
Jika umat ini tetap dalam kelengahan.
=====
Ustaz Yuana Ryan Tresna
*Dibacakan pertama kali di Lotus Park
Pada awal musim bunga, 7 Ramadhan 1446 H