Keluarga Sakinah, Keluarga Teladan: Keluarga Pejuang
Oleh : Ustaz M Taufik NT
Tidak sedikit rumah tangga yang kehilangan orientasi kehidupannya, menganggap bahawa kemuliaan akan diperoleh dengan banyaknya harta dan anak-anak. Padahal Allah telah memberitahu hal ini dengan firman-Nya:
“Ketahuilah bahawa (yang dikatakan) kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah (bawaan hidup yang berupa semata-mata) permainan dan hiburan (yang melalaikan) serta perhiasan (yang mengurang), juga (bawaan hidup yang bertujuan) bermegah-megah di antara kamu (dengan kelebihan, kekuatan, dan bangsa keturunan) serta berlumba-lumba membanyakkan harta benda dan anak pinak; (semuanya itu terhad waktunya) samalah seperti hujan yang (menumbuhkan tanaman yang menghijau subur) menjadikan penanamnya suka dan tertarik hati kepada kesuburannya, kemudian tanaman itu bergerak segar (ke suatu masa yang tertentu), selepas itu engkau melihatnya berupa kuning; akhirnya ia menjadi hancur bersepai; dan (hendaklah diketahui lagi, bahawa) di akhirat ada azab yang berat (di sediakan bagi golongan yang hanya mengutamakan kehidupan dunia itu), dan (ada pula) keampunan besar serta keredaan dari Allah (disediakan bagi orang-orang yang mengutamakan akhirat). Dan (ingatlah, bahawa) kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan bagi orang-orang yang terpedaya.“ (TMQ Al-Hadiid [57]:20)
Ketika harta dunia dan kemegahan sudah menjadi keutamaan dalam rumah tangga, maka teladan dalam rumah tangga pun bergeser, arah kehidupannya juga berubah. Tidak jarang orang yang awalnya begitu semangat memperjuangkan Islam, namun berumah tangga akhirnya menyebabkan luruh semangat perjuangannya, kendur keterikatannya terhadap ketentuan Allah SWT gara-gara khuatir akan kacaunya urusan dunianya, khuatir “kalau saya begini, bagaimana nasib anak isteriku nanti?” atau mengharapkan gemerlapnya dunia dengan cara menerjang larangan-Nya, dengan alasan “zaman sekarang mencari yang haram saja susah, apalagi kalau perlu yang halal?”. Kalau sudah begini bagaimana mungkin kemuliaan akan diraih? Padahal Allah menyampaikan bahawa kemuliaan hanya dapat diraih dengan ketakwaan, bahkan sepatutnya orientasi sebuah keluarga bukan hanya menjadikan keluarga yang bertakwa, namun menjadikannya imam bagi orang-orang yang bertakwa.
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa“. (TMQ Al Furqan : 74).
Yang namanya imam/pemimpin orang yang bertakwa, tentunya tidak cukup hanya sekadar keluarga yang menjalankan solat, puasa, haji, menjauhi makanan haram, menunaikan zakat, mendidik anak-anak dengan baik, namun juga perlu tertanam rasa tanggungjawab terhadap nasib umat. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Seorang imam adalah (laksana) penggembala dan dimintai tanggungjawab tentang gembalaannya“. (HR. Al Bukhari)
Keluarga Rasulullah dan para sahabat merupakan teladan bagi siapa saja yang ingin mendapatkan kemuliaan dan keberkahan rumah tangga. Mereka bukan hanya taat dalam skala individu, namun mampu menjadi imam bagi orang-orang yang bertakwa, mereka memiliki tanggungjawab untuk menjaga dan menyebarkan risalah Islam ini.
Muadz bin ‘Amr setelah masuk Islam, beliau merasa bertanggungjawab mengajak ayahnya, ‘Amr Ibnul Jamuh, yang masih menyembah berhala, untuk masuk Islam. Setelah berusaha keras akhirnya ayahnya pun masuk Islam. Setelah masuk Islam, ‘Amr ibnul Jamuh merasa bertanggungjawab terhadap umat, walaupun beliau orang yang kakinya cacat (tempang), dan Allah memberi keringanan kepada orang yang mempunyai kecacatan untuk tidak ikut berperang (QS Al Fath :17), beliau tetap ingin terjun dalam Perang Badar demi merindukan syahid. Ketika itu anaknya melobi Rasulullah agar mencegah niat bapaknya untuk ikut jihad dan Rasulullah melarangnya. Ketika datang seruan untuk Perang Uhud, dia berkata kepada anak-anaknya: ”Kalian telah melarangku ikut dalam Perang Badar, maka janganlah melarangku untuk keluar dalam Perang Uhud”. Anak-anaknya menjawab: “Sesungguhnya Allah memberimu keringanan”. Kemudian Amr bin Al Jamuh mendatangi Rasulullah dan berkata : ”Wahai Rasulullah, sesungguhnya anak-anakku ingin menghalangiku keluar bersama engkau dalam urusan (perang) ini, demi Allah sesungguhnya aku berharap masuk syurga dengan ketempanganku ini” Rasulullah berkata: “Adapun engkau, Allah telah memaafkanmu (dari tidak berperang), maka tidak ada (kewajipan) jihad bagimu”. Dan Rasulullah berkata kepada anak-anak ‘Amr: “Tidak ada hak bagi kalian untuk mencegahnya dari (berjihad) barangkali Allah akan memberi rezeki syahid kepadanya. ‘Amr kemudian pergi dengan pedangnya, dan berdoa: ‘Ya Allah, kurniakan kepadaku syahadah (mati syahid), dan jangan kembalikan aku kepada keluargaku dengan kegagalan (meraih syahid)’. Akhirnya dia memang syahid dalam Perang Uhud, dan Rasulullah bersabda: ‘Demi Zat yang diriku dalam genggamannya, sungguh aku melihatnya memasuki syurga dengan kepincangannya‘. (Ibnul Atsiir (wafat 606 H), Usudul Ghoobah, 2/343, Maktabah Syaamilah).
Begitu juga keluarga Al-Khansa’ (Tamadhar binti Amru bin al-Haris bin asy-Syarid), kerana tanggungjawabnya terhadap umat, beliau menyemangati putera-puteranya untuk membela Islam. Ketika Mutsanna bin Haritsah asy-Syaibani berangkat ke Qadisiyah di masa Amirul Mukminin Umar bin Khattab RA, Khansa’ berangkat bersama keempat-empat puteranya untuk menyertai pasukan tersebut. Di medan peperangan, di saat malam ketika para pasukan sedang siap berperang satu sama lain, Khansa’ mengumpulkan keempat-empat puteranya untuk memberikan arahan kepada mereka, dan mengobarkan semangat kepada mereka untuk berperang dan agar mereka tidak lari dari peperangan, serta agar mereka mengharapkan syahid di jalan Allah SWT. Dan atas izin Allah, keempat-empat puteranya mendapatkan kemuliaan syahid di jalan Allah.
Ketika berita syahidnya empat bersaudara itu sampai kepada ibunya yang mukminah dan sabar, beliau tidaklah menjadi goncang ataupun meratap, bahkan beliau mengatakan suatu perkataan yang masyhur yang dicatat oleh sejarah dan akan senantiasa diulang-ulang oleh sejarah sampai waktu yang dikehendaki Allah, yakni:
الحمد لله الذي شرفني بقتلهم، وأرجو من ربي أن يجمعني بهم في مستقر رحمته
“Segala puji bagi Allah yang memuliakan diriku dengan syahidnya mereka, dan aku berharap kepada Rabb-ku agar Dia mengumpulkan diriku dengan mereka dalam rahmat-Nya”.
Inilah beberapa contoh keluarga yang mulia, keluarga yang menjadikan kemuliaan akhirat sebagai tujuan sekaligus paksi hidup mereka.
#KeluargaMuslimIdeal
#KeluargaTarbiyah
#DakwahBermulaDiRumah
#RumahTaatUmatKuat
#KeluargaPejuang #SakinahMawaddahwaRahmah #KeluargaTeladan