[Khilafah Rasyidah] Metode Menentang Embargo (Bahagian 1/4)
Penulis: dr. Hamdan Fahmi
Pada pembahasan sebelumnya kita telah membicarakan fakta embargo yang boleh digunakan negara-negara kafir sebagai alat untuk menjauhkan manusia dari jalan Allah Taala. Hal itu untuk memaksa kaum muslim menanggalkan keistimewaan mereka dan agar tidak berpegang teguh kepada hukum-hukum Tuhan mereka dengan jalan menerapkan syariat Allah SWT dalam masalah negara dan kekuasaan.
Itu merupakan pembenaran terhadap firman Allah SWT, “Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami, dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu menjadi sahabat yang setia.” (TMQ Al-Isra’: 73).
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (kerana) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudaratan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (TMQ Ali ‘Imran: 118).
“Jika mereka menangkap kamu, nescaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu dan melepaskan tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakitimu dan mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir.” (TMQ Al-Mumtahanah: 2).
Apakah Daulah Islamiah perlu menyerah begitu saja terhadap kezaliman, kekufuran, dan upaya menjauhkan manusia dari jalan Allah itu? Apakah sebaliknya, Daulah Islamiah perlu tegak menghadapinya dengan segenap kekuatan yang dimiliki?
Sesuatu yang wajib dilakukan Daulah Islamiah adalah tegak menghadapi embargo itu hingga melakukan tindakan hidup atau mati untuk menghadapinya. Hal ini memerlukan Daulah dan pemegang urusan negara untuk menyusun langkah-langkah praktikal di dalam negeri dan luar negeri demi menghadapi embargo itu.
Sebelum memaparkan langkah-langkah praktikal di dalam dan luar negeri untuk menghadapi dan tegar di hadapan embargo itu, kami katakan bahawa Daulah Islamiah wajib berdiri tegak dan kukuh di atas kedua kakinya menghadapi semua serangan dan tindakan yang dilakukan oleh kaum kafir, tidak kiralah berapa pun orang yang harus syahid untuk hal itu.
Sebabnya, berseberangan dari hal itu maknanya adalah tunduk menyerah dan jatuh di bawah telapak kaki-kaki kaum kafir dan di bawah dominasi, kesombongan, dan kezaliman mereka. Hendaknya umat mengingat firman Allah SWT, “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (darjatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (TMQ Ali ‘Imran: 139).
“Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya, dan bagi orang-orang mukmin.” (TMQ Al-Munafiqun: 8).
“Barang siapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya.” (TMQ Fathir: 10).
Sesungguhnya jalan kemuliaan itu ada di dalam sikap tegak menghadapi embargo, bukan tunduk pasrah dan rela dengan apa yang dikehendaki oleh pengikut kekufuran.
Metode Menentang Embargo di Dalam Negeri
Pertama, mobilisasi umum secara maknawi menghadapi embargo. Sebenarnya masalah mobilisasi umum telah kami bicarakan dalam masalah menghadapi dan menentang perang fizikal yang diumumkan terhadap Daulah Islamiah. Pada hakikatnya, masalah mobilisasi merupakan keharusan dalam perkara apa pun di antara perkara menentang dan menghadapi serangan atau dalam jihad dan mengemban dakwah.
Mobilisasi itu merupakan senjata yang paling ampuh dan kuat. Tidak berlebihan jika kami katakan bahawa mobilisasi maknawi itu merupakan senjata yang lebih kuat dari senjata atom. Ini kerana senjata atom itu bagi bangsa yang ditaklukkan, yang kekuatan maknawinya telah rosak, tidak akan menambah, kecuali kekalahan di atas kekalahan.
Contoh paling baik untuk masalah kekuatan maknawi adalah kekalahan berulang kali yang dideritai Amerika di sejumlah kawasan di dunia akibat rendahnya semangat tempur (kekuatan maknawi) pasukannya dan tidak adanya keyakinan intelektual pada diri sebahagian besar pasukan dalam rencana perang, cara-cara, dan tujuan-tujuannya. Dalam masalah mobilisasi umum ini difokuskan pada beberapa perkara utama berikut:
- Tujuan-tujuan dan target-target orang kafir. Dalam masalah ini perlu dizahirkan kepada umat secara jelas, tujuan-tujuan kaum kafir dalam melakukan embargo tersebut. Sesungguhnya kaum kafir bertujuan untuk menghancurkan umat Islam berserta harapan dan tujuan-tujuan mereka sebagai umat terbaik yang ingin membebaskan diri dari pengekoran terhadap kaum kafir, serta dari dominasi dan kezaliman mereka.
Allah SWT berfirman, “Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup.” (TMQ Al-Baqarah: 217).
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu, menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah.” (TMQ Al-Anfal: 36).
“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka).” (TMQ An-Nisa’: 89).
- Membongkar atau mendedahkan masalah perbezaan dan pertentangan antara kekufuran dan pengikutnya dengan keimanan dan pengikutnya. Hal ini sangat penting untuk memunculkan semangat menentang dan menghadapi embargo dan semangat keagamaan dalam diri para pemuda umat Islam di dalam Daulah.
Kekufuran dan keimanan adalah dua garis yang selamanya bertentangan, berbenturan, dan tidak akan pernah bertemu satu sama lain. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpinmu, sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain.” (TMQ Al-Ma’idah: 51).
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (kerana) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudaratan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi.” (TMQ Ali ‘Imran: 118).
- Menonjolkan aspek kesabaran dan mengungkapkan sikap Rasul SAW dalam hal ini. Beliau adalah contoh dan teladan terbaik. Beliau menghadapi berbagai jenis permusuhan dan embargo yang paling keras oleh kaum kafir. Namun tekad dan semangat beliau tidak pernah pudar, walaupun beliau terpaksa makan dedaunan di Makkah al-Mukarramah sepanjang tempoh embargo berlangsung.
Demikian pula beliau perlu menderita kelaparan dan menanggung berbagai kesulitan bersama para sahabat beliau setelah hijrah dan sepanjang tempoh peperangan ganas yang dilancarkan oleh kaum kafir melawan beliau di Madinah al-Munawwarah. Beliau bersabar menghadapi semua itu hingga Allah berkenan menurunkan pertolongan dan kegembiraan.
Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu, dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (TMQ Ali ‘Imran: 200).
“Janganlah kamu lemah dan minta damai, padahal kamulah yang di atas dan Allah (pun) berserta kamu dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi (pahala) amal-amalmu.” (TMQ Muhammad: 35).
“Apakah kamu mengira bahawa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cubaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cubaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (TMQ Al-baqarah: 214).
Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh, generasi sebelum kalian, ada lelaki yang ditangkap, kemudian dibuat galian di tanah, lalu dia dikubur di dalamnya. Kemudian (ada orang yang) didatangkan gergaji dan diletakkan di atas pertengahan kepalanya dan dia digergaji hingga terbelah dua. Kemudian (ada orang yang) didatangkan sisir besi dan ia disisir hingga terkelupas daging dari tulangnya. Semua itu tidak memalingkannya dari agama-Nya. Demi Allah, Allah akan menyempurnakan urusan (agama) ini sehingga seorang pengembara berjalan dari Shan’a ke Hadhramaut, dia tidak takut melainkan kepada Allah dan tidak khuatir serigala menerkam kambingnya, tetapi kalian meminta tergesa-gesa.”
Ayat-ayat dan hadis-hadis semisal itu perlu diulang-ulang diucapkan oleh lisan para ulama pada setiap kesempatan. Dengan demikian, akan tertancap ruh (semangat) untuk menentang, menghadapi embargo, serta adanya keteguhan dan kesanggupan menanggung kesulitan dan penderitaan.
- Mengingatkan umat akan makna kemuliaan, kehormatan, ketinggian, dan kebanggaan. Juga mengingatkan umat bahawa kaum kafir–melalui embargo itu—ingin merampas hak umat sebagai umat yang dikehendaki oleh Allah menjadi umat yang mulia, tinggi, dan terhormat. Juga mengingatkan bahawa kaum kafir jahat itu ingin merampas kehormatan dan kemuliaan dari umat Islam.
Firman-Nya, “Kerana dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri.” (TMQ Al-Baqarah: 109).
Hal itu dilakukan melalui embargo ekonomi dan tekanan kepada manusia. Tujuannya untuk memalingkan mereka dari tujuan mulia nan agung, yakni Daulah Islamiah, benteng kemuliaan dan kekuatan.
Umat wajib diingatkan tentang masa lalu mereka yang mulia–ketika mereka menjadi umat yang mulia—serta tentang keadaan dan aktiviti-aktiviti mereka di luar batas-batas Daulah mereka.
Untuk melaksanakan keempat perkara ini, iaitu membongkar tujuan-tujuan kaum kafir, perbezaan (antara keimanan dan kekufuran), kesabaran, dan mengingatkan umat tentang erti kemuliaan, maka perlu digunakan segala cara yang mungkin dan sarana yang ada. Semua ini dapat dilakukan melalui media massa, masjid-masjid, para ulama, para pemidato, motivasi, dan cara-cara lainnya.
Sumber: dr. Hamdan Fahmi, Khilafah Rasyidah.