PENDIDIKAN KARAKTER BERASASKAN AKIDAH ISLAM
Krisis pendidikan karakter generasi telah sampai pada titik yang membimbangkan. Masyarakat sering disajikan dengan berita yang menyebabkan hati menjadi sedih dan pedih. Baru-baru ini seorang pengetua sekolah (di Indonesia) dilaporkan ke pihak polis hanya kerana menegur pelajarnya yang merokok di sekolah. Ironinya, ratusan pelajar justeru membela pelajar tersebut yang bersalah dan menuntut agar pengetua sekolah tersebut dipecat.
Di sisi lain, seorang mahasiswa universiti di Bali, Indonesia telah memilih mengakhiri hidupnya akibat kemurungan. Apa yang tragiknya, setelah meninggal dunia pun, dia masih dibuli di media sosial. Ini hanyalah secebis potret betapa rapuhnya moral generasi muda saat ini.
Lebih menyedihkan lagi, terdapat tayangan media yang menayangkan adab pelajar pondok yang menghormati gurunya sebagai budaya feudal yang perlu ditinggalkan. Padahal penghormatan murid kepada guru adalah adab yang mulia dalam Islam. Dalam salah satu atsar dinyatakan:
*لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُوَقِّرْ كَبِيرَنَا، وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا، وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ*
“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak memuliakan yang tua, tidak menyayangi yang muda, dan tidak mengetahui hak orang alim di antara kita.” (Al-Qurthubi, Al-Jaami’ Li Ahkaam al-Qur’aan, 17/43).
Dalam Islam, pendidikan sejati bukan sekadar memindahkan ilmu dari kepala ke kepala, tetapi membentuk hati dan karakter yang bersumber dari akidah Islam. Sebabnya, ilmu tanpa iman hanya akan melahirkan kecerdasan tanpa arah dan kepandaian tanpa moral.
Krisis karakter ini sejatinya lahir dari akar sekularisme. Itulah sistem yang memisahkan agama dari kehidupan. Sistem ini telah mencabut ruh spiritual dari dunia pendidikan. Akibatnya, tujuan belajar sebatas untuk bekal mencari pekerjaan, bukan untuk meraih redha Allah SWT.
Ketika Allah SWT tidak lagi dijadikan pusat orientasi, maka ilmu kehilangan maknanya, dan pendidikan kehilangan tujuannya. Firman Allah SWT:
*وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا*
“Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya bagi dia kehidupan yang sempit.” [TMQ Ṭhaha (20): 124].
Oleh sebab itu, selama sistem pendidikan saat ini tidak berlandaskan wahyu Allah SWT, ia akan terus melahirkan kekeliruan, penyimpangan, dan kehancuran moral.
Islam mengajarkan bahawa tujuan pendidikan adalah membentuk syakhshiyyah islāmiyyah (keperibadian Islam), yakni cara berfikir dan bersikap yang dibangun di atas akidah Islam. Hal ini antara lain terbaca pada firman Allah SWT saat mengutus Rasul-Nya:
*هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ*
“Dialah (Allah) yang telah mengutuskan dalam kalangan orang-orang (Arab) yang Ummiyyin (tidak tahu membaca dan menulis), seorang rasul (Nabi Muhammad SAW) daripada kaum mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah (yang membuktikan keesaan Allah dan kekuasaan-Nya), dan membersihkan mereka (daripada iktiqad yang sesat) serta mengajarkan mereka kitab Allah (al-Quran) dan hikmah (pengetahuan yang mendalam mengenai hukum-hukum syarak).” [TMQ al-Jumu‘ah (62): 2].
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
*إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلَاقِ*
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR al-Bazzar dan al-Baihaqi).
Oleh sebab itulah para ulama terdahulu sangat menekankan bahawa adab (akhlak) harus lebih didahulukan daripada ilmu. Mereka berkata:
*تَعَلَّمُوا الْأَدَبَ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمُوا الْعِلْمَ*
“Pelajarilah adab sebelum kalian mempelajari ilmu.” (Ibn ‘Abd al-Barr, Jaami‘ Bayaan al-‘Ilm wa Faḍlih).
Maka dari itu pendidikan Islam bukan hanya mencetak manusia pintar, tetapi manusia beradab, beriman dan bertakwa. Inilah yang hilang dari sistem pendidikan sekular hari ini.
Sejarah mencatat, di bawah naungan sistem pemerintahan Islam (Khilāfah Islāmiyah), pendidikan mencapai masa keemasan selama berabad-abad. Pada masa Khalifah al-Ma’mun, misalnya, pernah berdiri Baitul Ḥikmah di Baghdad—pusat ilmu pengetahuan dunia. Dari sanalah lahir para ilmuwan Muslim terkemuka sepanjang masa. Mereka bahkan menjadi rujukan dunia Barat selama ratusan tahun. Mereka adalah para ulama sekaligus ilmuwan. Mereka memadukan iman dengan akal, zikir dengan fikiran, ilmu dengan amal.
Di era Khilafah, negara benar-benar menanggung pendidikan secara percuma dan menjadikan pendidikan itu hak seluruh rakyat, tanpa diskriminasi. Itulah buah dari sistem Islam yang menempatkan ilmu sebagai cahaya kehidupan.
Dalam Islam, tanggungjawab pendidikan memang berada di atas bahu Negara. Rasulullah ﷺ bersabda:
*الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ*
“Imam (ketua negara) adalah pemimpin dan dia bertanggungjawab atas rakyat yang dia pimpin.” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Oleh sebab itu krisis pendidikan karakter tidak akan dapat diatasi hanya dengan mengubah kurikulum atau pelatihan guru. Akar masalahnya adalah sistem sekular yang rosak. Maka dari itu solusinya hanya satu: kembalikan pendidikan ke pangkuan Islam. Ganti sistem sekular dengan sistem Islam.
Dengan itulah akan lahir generasi khayru ummah — generasi beriman, berilmu dan beradab.
Allah SWT berfirman:
*أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ*
“Adakah sistem hukum jahiliah yang mereka mahukan? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?” [TMQ al-Mā’idah (5): 50].
Krisis pendidikan karakter yang kita saksikan hari ini hanyalah satu dari sekian banyak buah pahit dari sistem sekular. Ketika syariah Allah SWT ditinggalkan, maka keberkahan pun dicabut dari bumi ini.
Oleh itu, kita wajib berjuang agar pendidikan kembali tegak di atas asas akidah Islam, dalam sistem pemerintahan Islam yang menerapkan syariah secara menyeluruh. Dari sistem itulah akan lahir generasi ulama dan mujahid, ilmuwan dan pendidik, yang menjadikan ilmu sebagai jalan menuju Allah SWT, bukan sekadar sarana dunia.
Terakhir, marilah kita berdoa kepada Allah SWT agar segera menolong umat ini, mengembalikan kejayaan pendidikan Islam, dan menegakkan kembali sistem Islam di bawah panji Lā ilāha illallāh, Muḥammadur Rasūlullāh.
*Diolah dari sumber asal: Naskah Khutbah Jumaat (Diterbitkan oleh Tim Media IDAROH [Ikatan Da’i Rohmatan lil ‘Aalamiin]) https://t.me/ariefbiskandar
#pendidikankarakter #krisismoralgenerasi #krisisakhlakgenerasi #akhlak #khairaummah