[Khilafah Rasyidah] Di Depan Pintu Khilafah (Bahagian 5/5)
Penulis: dr. Hamdan Fahmi
(Sambungan dari Bahagian 4/5)
Terdapat dua masalah penting dalam perkara ini:
Pertama, panjang dan pendeknya jangka waktu dakwah sebelum berdirinya Daulah secara pasti adalah untuk kemenangan dakwah, baik terealisasinya menjelaskan kejujuran setelah adanya ujian atau terealisasi sebagai penyiapan suasana dan penghilangan rintangan yang besar.
Kedua, sesungguhnya peneguhan itu pasti akan terealisasi bagi orang yang layak mendapatkannya pada waktu dan tempat yang telah ditentukan oleh Allah SWT bagi para pengemban dakwah. Sesungguhnya panjang atau pendeknya jangka waktu dalam hal tersebut tidak menunjukkan ketidakistiqamahan dakwah atau ketidakmurnian idea-ideanya.
Para sahabat Rasulullah SAW, mereka adalah generasi manusia terbaik. Sekalipun demikian, mereka pernah datang kepada Rasulullah SAW, lalu meminta baginda berdoa. Mereka memohon disegerakan pertolongan, peneguhan, dan pemberian kekuasaan. Kemudian Rasulullah SAW menenangkan mereka dan berkata bahawa perkara itu pasti akan terealisasi, dengan cepat atau lambat.
Baginda juga bersabda kepada mereka bahawa mereka tergesa-gesa. Mereka meminta disegerakan, padahal perkara tersebut akan direalisasikan oleh Allah SWT pada waktu dan tempat yang baik bagi dakwah dan para pengembannya, iaitu para sahabat.
Secara pasti, para sahabat layak mendapat pertolongan pada waktu itu. Sungguh, telah terealisasi di tengah mereka syarat-syaratnya. Sebabnya, mereka adalah generasi terbaik dan hal itu dipersaksikan oleh Allah SWT dengan keistiqamahan mereka.
Akan tetapi, masalahnya berkaitan dengan sesuatu lainnya yang tersembunyi dari para sahabat. Secara nyata, hal itu merupakan kebaikan bagi dakwah dan para sahabat. Sungguh, para sahabat telah meraih pahala yang besar dengan bersikap sabar. Dengan demikian, suasana dakwah pun menjadi siap.
Sebaliknya, slogan-slogan dan idea-idea dari pemikiran jahiliah telah tersungkur selama jangka waktu tersebut. Di sisi lain, jumlah kaum mukmin yang baru pun terus bertambah. Kemudian kegembiraan besar itu datang dengan datangnya pertolongan yang tidak pernah terfikirkan oleh para sahabat dan tidak pernah mereka perkirakan akan datang dengan taraf seperti itu. Madinah al-Munawwarah akhirnya menjadi tanah kekuatan dan peneguhan yang baik, serta tempat tinggal orang-orang pilihan.
Pada hari ini, lamanya waktu sejak awal dakwah adalah kebaikan bagi dakwah di segala medan. Siapa saja yang memperhatikan kemajuan yang berhasil diraih Hizb di Turki dan Asia Tengah secara khusus, ia akan melihat bahawa semua itu terwujud pada dekad terakhir ini.
Siapa saja yang memperhatikan tahun-tahun terakhir ini, ia akan dapat melihat bahawa suasana dakwah telah bersinar terang hingga dalam pandangan kaum kafir. Penyebabnya adalah telah tersungkurnya slogan-slogan para penguasa kaki tangan yang berdiri menghalangi Hizb dan idea-ideanya. Juga tersungkurnya slogan-slogan kapitalisme, setelah sosialisme sebagai sebuah ideologi runtuh terlebih dahulu. Semua itu merupakan bahagian dari berita gembira yang mengisyaratkan telah dekat datangnya kegembiraan atas izin Allah Ta’ala.
Terakhir saya katakan, bahawa Hizb telah sampai di depan pintu Khilafah secara kuat, solid, lantang, dan mencabar. Hal itu terjadi setelah Hizb berhasil melangkaui berbagai rintangan dan goncangan besar. Saat ini, Hizb sedang menunggu izin Allah SWT, bukan dari pihak lain, untuk memasuki pintu itu dan menerima kepemimpinan mengemban amanah wahyu dari langit. Hal ini persis seperti Rasulullah SAW yang mengembannya bersama manusia-manusia terbaik di Madinah al-Munawwarah.
Sesungguhnya keadaan para pengemban dakwah saat ini sama seperti keadaan Khabab, Bilal, dan lainnya ketika mereka menemui Rasulullah SAW dan meminta baginda berdoa memohon agar Allah SWT menyegerakan kemenangan. Oleh sebab itu, kami juga memohon kepada Allah SWT supaya menyegerakan kemenangan dalam waktu dekat, setelah para pengemban dakwah berjuang dengan baik dan ikhlas selama 55 tahun Hijriah. Kemenangan ini untuk merealisasikan janji Allah kepada kaum mukmin, iaitu para sahabat Rasulullah SAW dan orang-orang mukhlis yang datang sesudah mereka.
Hal ini sesuai janji Allah SWT di dalam Al-Quran, “Allah menjanjikan orang-orang yang beriman dan beramal soleh dari kalangan kamu (wahai umat Muhammad) bahawa Ia akan menjadikan mereka khalifah-khalifah yang memegang kuasa pemerintahan di bumi, sebagaimana Ia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka: khalifah-khalifah yang berkuasa; dan Ia akan menguatkan dan mengembangkan agama mereka (agama Islam) yang telah diredhaiNya untuk mereka; dan Ia juga akan menggantikan bagi mereka keamanan setelah mereka mengalami ketakutan (dari ancaman musuh). Mereka terus beribadat kepadaKu dengan tidak mempersekutukan sesuatu yang lain denganKu. Dan (ingatlah) sesiapa yang kufur ingkar sesudah itu, maka mereka itulah orang-orang yang derhaka.” (TMQ An-Nûr [24]: 55).
Sebagaimana para sahabat ridhwânullâh ‘alayhim diberi kekuasaan oleh Allah SWT, kita juga memohon kepada-Nya supaya menyinarkan cahaya Daulah, Daulah Khilafah Islamiah Rasyidah II. Kita juga memohon agar Allah SWT menyebarkan cahaya-Nya ke seluruh muka bumi. Dengan demikian, kehidupan Islam akan berlanjut kembali, keadilan tersebar, dan rahmat-Nya merata kepada umat manusia. Semua ini sebagai hasil dari kembalinya Khilafah yang sebelumnya terputus.
Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (Hari Kiamat).” (TMQ Ghafir [40]: 51).
“Dan Kami hendak berihsan dengan memberikan pertolongan kepada kaum yang tertindas di negeri itu, dan hendak menjadikan mereka pemimpin-pemimpin, serta hendak menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (apa yang dimiliki oleh Firaun dan kaumnya). Dan Kami hendak memberi mereka kedudukan yang kukuh di negeri itu, serta hendak memperlihatkan kepada Firaun dan Haman bersama-sama tentera mereka apa yang mereka bimbangkan dari golongan yang bertindas itu.” (TMQ Al-Qashash [28]: 5—6).
“Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu, melainkan sebagai khabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar tenteram hatimu kerananya. Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (TMQ Ali ‘Imrân [3]: 126).
“Mereka berkata, ‘Bila itu (akan terjadi)?’ Katakanlah, ‘Mudah-mudahan waktu berbangkit itu dekat.’” (TMQ Al-Isra’ [17]: 51).
Akhir permohonan kami bahawa segala puji hanyalah bagi Allah, Rabb Semesta Alam.
Sumber: dr. Hamdan Fahmi, Khilafah Rasyidah.