Bahaya Terlebih Hiburan
Islam tidak melarang ketawa, senda gurau, hiburan dan kegembiraan. Tapi Islam mengajarkan penganutnya agar seimbang. Hiburan dan ketawa yang berlebihan justeru dapat mematikan kepekaan hati dan meruntuhkan maruah diri.
Imam al-Mawardi dalam Kitâb Adab ad-Dunyâ wa ad-Dîn menjelaskan dampak buruk ketawa yang berlebihan hingga menjadi kebiasaan. Beliau menyatakan: “Sesungguhnya membiasakan diri dengan banyak tertawa dapat memalingkan seseorang daripada memikirkan urusan-urusan yang penting, serta melalaikan fikiran daripada menghadapi musibah-musibah yang melanda. Tidak ada kewibawaan mahupun kehormatan bagi orang yang banyak ketawa, dan tidak ada kedudukan serta kemuliaan bagi orang yang tercoreng oleh sifat itu.”
Saat seseorang terlalu sibuk mencari kesenangan, fokusnya terhadap tanggung jawab besar dalam hidup akan goyah. Ketawa yang tidak terkawal akan mengikis ketajaman berfikir dan membuatkan jiwa mengabaikan realiti kehidupan yang memerlukan keseriusan.
Lebih jauh lagi, kesan domino akibat hilangnya kawalan diri ini digambarkan secara runtut oleh Umar bin al-Khattab RA dalam sebuah riwayat yang dihimpun oleh Abu Bakar al-Baihaqi dalam Kitâb Syu‘ab al-Îmân. Beliau berkata:
“Barang siapa yang banyak ketawa, maka akan berkurang kewibawaannya. Barang siapa yang banyak bergurau, maka dia akan diremehkan. Barang siapa yang memperbanyak sesuatu, maka dia akan dikenal dengannya. Barang siapa yang banyak bicaranya, maka akan banyak kesalahannya. Barang siapa yang banyak kesalahannya, maka akan berkurang rasa malunya. Barang siapa yang berkurang rasa malunya, maka akan berkurang sikap warak-nya. Dan barang siapa yang berkurang sikap warak-nya, maka mati hatinya.”
Itulah bahaya akibat berhibur secara berlebihan, rasa malu runtuh, benteng warak goyah, hingga puncaknya adalah kematian hati. Hati yang mati tidak lagi peka terhadap kebenaran dan peringatan.
Oleh sebab itu, keseimbangan adalah kuncinya. Nikmatilah hiburan sekadarnya sebagai penyegar di saat penat, bukan sebagai poros utama kehidupan. Jagalah lisan dan ekspresi agar wibawa tetap terjaga dan hati sentiasa hidup dalam bimbingan Allah ﷻ.
Sumber: Kitab Syu’ab al-Iman (Abu Bakar al-Baihaqi)
#hiburan #ketawa #hatimati