[Fikrul Islam] Menjadi Pembela Islam – Mengenal Permasalahan Umat Islam Kini (Bahagian 4/5)
Penulis: M. R. Kurnia
3) Pembaratan dalam bidang budaya (Westernization)
Permasalahan umat Islam yang ketiga adalah pembaratan dalam bidang budaya. Dialam bidang budaya, kehidupan masyarakat muslim menjadi makin keBaratan. Muzik, pakaian, makanan, minuman, filem, dan gaya hidup semuanya berkiblat ke sana.
Lagu-lagu kebanyakan bertemakan seks dengan mengatasnamakan cinta. Pakaian pun serba membuka aurat. Baju ketat, dada ditonjol-tonjolkan, pusat didedahkan, dan lenggok pinggul dijadikan daya tarik. Semua itu sukar dipisahkan dengan dadah.
Menjadi makin lengkap dengan kehidupan serba bebas tanpa aturan, lelaki dan perempuan diposisikan sebagai pemuas nafsu seksual. Semua ini terus menerus diasak ke dalam kehidupan umat Islam. Kaum muslim yang berkeperibadian lemah makin terseret. Keperibadiannya pun terpecah (split personality), di satu sisi meyakini Islam, tetapi di sisi yang lain mempertanyakan Islam.
Penjualan bahan-bahan pornografi kini seperti cendawan tumbuh di musim hujan. Ia boleh diperoleh dan dikonsumsi oleh sembarangan orang. Seks bebas berkembang di mana-mana. Di Indonesia, hasil penelitian Fakulti Psikologi UNPAD(1992) tentang remaja yang melakukan hubungan seks sangat memperihatinkan. Di Sukabumi jumlahnya mencapai 26,5 peratus; di Bandung 21.7 peratus; di Cirebon 31.6 peratus; dan di Bogor 30.9 peratus. Justeru bagaimana dengan era digital hari ini? Lebih parah.
Keadaan demikian ternyata terjadi pula di kalangan “intelektual”. Setelah heboh di kediaman mahasiswa di Yogyakarta, menyusul kejadian serupa di Bandung, Jakarta, dan Surabaya. Hasil dari semua ini lahirlah bayi-bayi di luar nikah. Pada tahun 1980 saja, seorang ginekologi terkenal mengjangkakan, setiap hari di Jakarta terdapat lebih dari 200 kes pengguguran kandungan yang disengajakan dan secara haram.
Pada 1980, 73000 bayi tidak berdosa “dibunuh”. Sementara itu, pada tahun 1997 meningkat lebih dari seratus peratus menjadi 400 bayi per hari, setahun 46000 bayi. Nampaknya kejadian sama terus berlaku. Awal Mac 2000, di Depok, kota kecil berhampiran Jakarta, ditemukan 45 plastik berisi bayi hasil pengguguran. Keadaan ini tidak jauh berbeza dengan apa yang terjadi di Amerika. Di sana, dalam beberapa penelitian disebutkan bahawa lebih dari 46 bayi yang lahir di sana merupakan hasil perkawinan di luar pernikahan. Sungguh mengerikan!
Imperialisme biologis pun berjalan. Pada 1991, diselenggarakan Persidangan Dunia untuk Kependudukan dan Pembangunan (ICPD). Dalam persidangan itu diusulkan legalisasi penggugurna (abortion), seks bebas pra dan ekstra marital, keluarga dari kalangan ibu atau bapa tunggal (single parent family), lesbianisme, dan homoseksualisme. Namun, program tindakannya disesuaikan dengan keadaan negara masing-masing.
Muncullah pertanyaan cerdas, mengapa diselenggarakan di Cairo, Mesir, sebuah kota yang merupakan pusat Islam, tidak di Sydney atau New York, misalnya? Mengapa hal-hal tersebut hendak diabsahkan dari segi perundangan, padahal di Amerika, negara pelopor persidangan tersebut, perkara-perkara tadi sudah biasa terjadi dan dianggap sah di sana? Mengapa program tindakan yang di`telur’kannya mesti ditetaskan (baca: diterapkan) di negara masing-masing, termasuk Indonesia, sekalipun ikatannya disebut sebagai sebatas ikatan moral?
Semua ini bermuara pada terpisahnya Islam dari kaum muslim dan kaum muslim dari ajaran Islam. Umat Islam yang dahulunya berbudaya dengan berlandaskan pada hukum dan aturan Islam, generasi sekarang malah lebih akrab dengan budaya-budaya yang lahir dari kapitalisme dan materialisme.
4) Dominasi Barat terhadap informasi
Permasalahan keempat adalah dominasi informasi. Faktanya, sebahagian besar sumber-sumber berita internasional dikuasai oleh Barat (yang sebahagian besar pemiliknya Yahudi). Ironinya, hampir semua surat khabar dan media informasi kaum muslim pun berkiblat dan menukil informasi dari sana. Reuters, Associated Press, ABC, CNN, (AS), Agence France Presse (Perancis), dan BBC (UK) merupakan sumber yang penting disebut.
Tidaklah menghairankan jadinya, informasi yang menguasai dunia Islam bersumber dari sana. Pada akhirnya, opini umum yang terbentuk di tengah masyarakat kaum muslim didominasi dan disajikan sesuai dengan senario dan cara pandang ideologi Barat, ideologi kapitalisme. Informasi yang sampai ke tangan kaum muslim sudah berupa the second hand reality (realiti tangan kedua). Wajarlah, bila akhirnya pandangan umat Islam banyak yang berat sebelah terhadap Islam yang dianutnya; sebutan-sebutan fundamentalis, ekstremis, ataupun militan turut mereka tuduhkan kepada sesama muslim. Akhirnya, informasi makin menjauhkan umat Islam dari realiti kaum muslim yang sebenarnya.
Sebagai contoh, ketika ratusan kaum muslim dibantai oleh orang-orang Kristian di Maluku, tidak banyak media massa yang menggambarkan kejadian tidak berperikemanusiaan itu. Majoriti pendedahan media massa sebaliknya adalah tentang pernyataan resmi presiden Abdurrahman Wahid, “Korban disana hanya 5 orang saja!” Berikutnya, ketika 114 orang pasukan merah (Kristian) meninggal dikepung pasukan muslim yang teraniaya, serta merta media massa mempropagandakannya.
Ketika terjadi pembakaran pejabat UNHCR di Attambua, Nusa Tenggara Barat, berbagai media massa mengupasnya habis-habisan. AS segera mengeluarkan resolusi nombor 1319 tahun 2000 untuk menekan Indonesia, termasuk dengan pasukan asing. Pada saat yang sama, pembantaian 56 orang muslim Palestin dan Iebih dari 1000 orang mengalami kecederaan oleh pasukan Israel, media massa bungkam. AS pun menolak dikeluarkannya resolusi PBB untuk menekan Israel, kecuali tanpa disebut nama Israel.
Begitu juga ketika para pelarian majoriti Kristian di Attambua ditimpa kesukaran akses pada makanan, bukan main pendedahan yang dilakukan. Sebaliknya, keadaan para pelarian muslim di Maluku, hampir tidak pernah diberitakan. Begitulah dominasi informasi yang terjadi di dunia, termasuk Indonesia.
Bersambung ke bahagian 5/5
Sumber: M. R. Kurnia, Menjadi Pembela Islam
(*dengan sedikit olahan oleh editorial)