[Ath-Thariq] Kita dan Perubahan (Bahagian 3/5)
Penulis: Syekh Ahmad Athiyat
Setelah Umar bin Khattab mengatakan dan menerapkan apa yang dia katakan, “Demi Allah, seandainya ada seekor kambing atau anak kambing tergelincir di jalanan Furat, aku khuatir Allah akan menghisabku kerananya, dan bertanya kenapa aku tidak meratakan jalan untuknya?”
Setelah semua itu dan berbagai contoh lain yang tidak terhingga jumlahnya saat ini, wujud negara-negara boneka yang aneh, yang bukan hanya menetapkan keputusan kita, tetapi juga menerapkannya secara praktik dan setiap saat, “Barang siapa yang meninggalkan harta, maka harta itu menjadi milik negara, dan barang siapa yang meninggalkan anak-anak kecil yang lemah, maka penjaralah tempat yang lebih utama bagi mereka.”
Negara-negara boneka ini menyatakan, “Jika kalian lapar, maka mencurilah, meragutlah, berilah rasuah, atau terimalah rasuahnya, tetapi hati-hati agar tidak tertangkap basah, sebab undang-undang itu hanya melindungi para penipu yang cerdik dan tidak melindungi mereka yang lengah lalai.” dan “Barang siapa yang mampu menikah, maka menikahlah, tetapi barang siapa yang tidak mampu, maka bilik pelacuran dapat memuaskan keperluannya.”
Kita juga mempunyai banyak hospital yang haram dimasuki anak-anak tempatan yang fakir, tetapi halal bagi mereka yang kaya, apa pun bangsanya. Seorang kaya boleh mendapatkan rawatan pada bila-bila masa yang dia mahu dengan fasiliti yang paling baik dan selesa, sedangkan si fakir, maka cukuplah baginya azab, neraka, dan penindasan atasnya. Adapun hospital besar dan mewah, apabila seorang fakir ingin memasukinya, maka bagaikan iblis yang ingin memasuki syurga, walaupun dia berjaya memasukinya, disebabkan kekeliruan, maka dia tidak akan keluar kecuali disumbat ke dalam penjara atau perlu menghadap raja.
Setelah dahulu kita memiliki banyak pondok, rumah inap, dan masa kunjungan yang ada di jalan-jalan, sebagai gantinya kini kita mendapati ‘barrel’ atau penghadang di jalan-jalan yang tidak memberikan makan dan memberikan pelayanan pada musafir atau ibnusabil, tetapi malah menjadi perompak dengan alasan menjadi wakil negara, mereka menghina musafir dan menelanjanginya atas nama pemeriksaan dan soal siasat, serta menyakitinya dengan berbagai seksaan sehingga menjadikannya berkata, “Seandainya aku diciptakan sebagai tanah.”
Negara-negara ini juga telah menghinakan para tentera dan militernya, ketika mereka menjadikan tujuan tentera Islam untuk melayani tuan dan para sekutunya, bukannya untuk berjuang dalam gejolak peperangan dan medan pertempuran, dan menghinakan anak-anaknya (anak tentera) yang menangis kelaparan kerana kefakiran ayah mereka.
Saat ini juga kita mempunyai pemimpin yang sama persis belalang, yang memakan hutan nan hijau dan tanah kering, mereka tidak meninggalkan satu bukit pun dengan alasan pajak, atau kadang atas alasan tempat pembuangan sampah. Mereka mempergunakan harta kaum muslim sewenang-wenangnya seolah-olah menjadi harta pusaka dan warisan bagi mereka dan keluarga mereka.
Mereka mempergunakannya untuk meraih manfaat tertentu. Para penguasa ini menjadi pemilik angkatan bersenjata udara, darat, dan laut, dan pemimpin mafia dadah dan ubat bius sehingga para penguasa kita itu menjadi orang penting dalam kalangan para jutawan.
Dahulu kita memiliki segala kebanggaan. Apakah setelah kemuliaan dalam naungan Islam, ada kemuliaan lain yang lebih mulia? Sedangkan saat ini kita diliputi kehinaan. Apakah setelah kehinaan ini ada kehinaan lain yang lebih hina?
- Bidang Kemasyarakatan
Setelah kita hidup beberapa abad yang lalu dalam naungan Daulah Islam, ikatan yang ada antara seorang lelaki dan perempuan ditegakkan atas dasar bahawa perempuan itu adalah “anugerah dan kehormatan yang wajib dijaga” dan sebagai kaca.
“Maka bersikap lembutlah dengan kaca-kaca itu” dan “Wanita itu adalah bahagian/belahan lelaki” dan “Perempuan itu dinikahi kerana empat perkara, kerana hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya, maka pilihlah perempuan yang beragama nescaya kau akan meraih seluruhnya” dan “Sesungguhnya dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan itu adalah wanita solehah” dan “Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk bersujud pada orang lain, nescaya akan kuperintahkan para wanita agar bersujud pada suami-suaminya kerana Allah telah menjadikan hak bagi para suami atas isteri-isterinya itu” dan “Jika seorang isetri wafat, sedangkan si suami meredhainya, maka perempuan itu akan masuk syurga” dan “Perintahlah kaum wanita itu dengan baik” dan “Seorang mukmin itu tidak membenci seorang wanita mukminah, jika dia tidak menyukai satu perilaku dari wanita itu, maka dia menyukai perilaku lainnya dari wanita itu” dan “Barang siapa yang memiliki dua orang isteri, sedangkan dia lebih cenderung pada salah satu dari keduanya, maka dia akan datang pada hari kiamat dengan separuh badannya akan senget” dan “Tidak ada nikah syighar (nikah tukar menukar anak perempuan tanpa mahar) dalam Islam” dan “Perempuan yang paling sedikit maharnya, maka paling banyak barakahnya”, dan “Barang siapa yang memiliki dua orang anak perempuan seraya mendidiknya dengan tarbiah yang terbaik, maka keduanya akan menjadi penghalang baginya dari api neraka” dan “Talak itu sebuah perkara halal yang paling dibenci di sisi Allah” dan “Barang siapa dari kalangan perempuan yang meminta talak dari suaminya tanpa alasan yang jelas, maka diharamkan baginya wangi syurga”.
Bersambung ke bahagian 4/5
Sumber: Syekh Ahmad Athiyat, Ath-Thariq (Jalan Baru Islam)
#FikrulIslam #AthThariq