[Menjadi Ahli Politik Transformatif] Mengenali Potensi: Memahami Hakikat Diri (Bahagian 3/6)
Penulis: MR Kurnia, dkk
(Sambungan dari “Mengenali Potensi” Bahagian 2/6.)
Jawapan kepada Pertanyaan “Ke Manakah Manusia dan Kehidupan Ini Selepas Dunia?”
Terhadap pertanyaan, “Ke manakah manusia dan kehidupan selepas dunia?”, Islam menjawab bahawa selepas kematian akan berlaku Hari Kiamat (Yaum al-Qiyamah). Islam menegaskan bahawa kehidupan bukan hanya wujud di dunia, tetapi juga di akhirat, yang pasti akan dilalui oleh setiap manusia sama ada mereka mahu ataupun tidak.
Manusia ialah makhluk Allah, berasal daripada-Nya dan akan dikembalikan kepada-Nya. Pada Hari Kiamat, manusia akan dibangkitkan semula dari kubur untuk dihisab segala amal perbuatannya oleh Allah SWT. Selepas itu, akan ditentukan tempat mereka yang seterusnya, sama ada di syurga ataupun di neraka.
“Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan dari kuburmu pada Hari Kiamat.” (TMQ Al-Mukminûn: 15—16).
“Apakah manusia mengira bahawa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya? Bukan demikian, sebenarnya Kami berkuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna.” (TMQ Al-Qiyamah: 3—4).
Ketika dibangkitkan dari kuburnya, manusia dalam keadaan telanjang bulat. Sabda Nabi SAW, “Sesungguhnya kalian akan dibangkitkan pada Hari Kiamat tanpa alas kaki, telanjang bulat, dan tidak berkhitan. Aisyah bertanya, ‘Ya, Rasulullah. Lelaki dan perempuan saling melihat (aurat) yang lain?’ Rasulullah menjawab, ‘Wahai, Aisyah, pada saat itu perkara (Hari Kiamat) sangat dahsyat sehingga orang tidak akan memperhatikan hal itu.’” (Muttafaqun ‘alaihi).
Pada Hari Kiamat itu, keadaan manusia yang dibangkitkan beraneka ragam sesuai dengan iman dan amal perbuatannya di dunia.
“Pada hari itu, manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka.” (TMQ Al-Zalzalah: 6—8).
Orang-orang kafir yang tidak mempercayai Hari Kiamat akan benar-benar terkejut apabila menghadapinya.
“Dan ditiupkan sangkakala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Rabb mereka. Mereka berkata, ‘Aduh, celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?’ Inilah yang dijanjikan Zat Yang Maha Pemurah dan benarlah para rasul-Nya.” (TMQ Yasin: 51—52).
Akibat teramat menyesal, sampai-sampai orang-orang kafir ketika itu berharap alangkah baiknya seandainya dulu di dunia mereka menjadi tanah saja. “Dia mengatakan, ‘Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.’” (TMQ Al-Fajr: 24).
“Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepada kalian (orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya, dan orang-orang kafir berkata, ‘Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah.’” (TMQ An-Naba: 40).
Begitu juga dengan orang Islam yang banyak melakukan dosa. Dia akan menyesal kerana semasa hidup di dunia, dia tidak mengamalkan ajaran Islam sebagaimana yang sepatutnya serta telah memilih teman atau ikutan yang sesat dan menyesatkan.
“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya seraya berkata, ‘Aduhai kiranya (dahulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si Fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya ia telah menyesatkan aku dari Al-Quran ketika Al-Quran itu telah datang kepadaku.’” (TMQ Al-Furqân: 27—29).
Adapun orang Islam yang taat melaksanakan ketetapan ajaran Islam semasa hidup di dunia, mereka tidak akan mengalami kegoncangan atau kedahsyatan pada Hari Kiamat.
“Orang-orang ahli Laa ilaaha illallah (yang mengucapkan kalimat tersebut dan menunaikan haknya/konsekuensinya) tidak akan mengalami keguncangan tatkala wafat, di alam kubur, dan tatkala ia dibangkitkan. Seolah-olah aku melihat mereka ketika ditiup sangkakala yang kedua (saat dibangkitkan dari kubur) sedang menyingkirkan tanah (pasir) dari kepala mereka seraya berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami.’” (HR Abu Ya’la).
Setelah dibangkitkan, manusia akan dihisab oleh Allah Taala. Pada ketika itu, Allah SWT akan bertanyakan segala amal baik dan buruk yang pernah dilakukan oleh manusia di dunia, sama ada amalan yang kecil dan remeh mahupun amalan yang besar dan mulia. Bahkan, pada ketika itu, setiap manusia dapat membaca sendiri catatan amal perbuatannya dalam sebuah kitab yang diberikan kepada mereka.
“Maka demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.” (TMQ Al-Hijr: 92—93).
“Kedua telapak kaki seorang anak Adam pada Hari Kiamat masih belum beranjak sebelum ditanya kepadanya mengenal lima perkara, yakni tentang umurnya, untuk apa dihabiskan, tentang masa mudanya, apa yang dilakukannya, tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan, dan tentang ilmunya, apa yang ia kerjakan dengan ilmunya itu.” (HR Ahmad).
Allah SWT berfirman bahawa manusia akan membaca catatan amalnya sendiri selama hidup di dunia, “Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak ‘Celakalah aku.’ Dan ia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (TMQ Al-Insyiqâq: 7—12).
“Dan diletakkan kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, ‘Aduh, celaka kami. Kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya.’ Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorangpun juga.” (TMQ Al-Kahfi: 49).
Setelah itu manusia akan digiring ke tempat di mana timbangan amal perbuatannya diletakkan.
“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada Hari Kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan) itu hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkannya (pahalanya). Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (TMQ Al-Anbiyâ: 47).
“Dan adapun orang-orang yang berat timbangannya (kebaikannya), maka ia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangannya (kebaikannya), maka tempat kembalinya adalah Neraka Hawiyah.” (TMQ Al-Qari’ah: 6—9).
Setelah peringkat ini selesai, manusia akan dimasukkan ke dalam neraka atau syurga. Orang kafir, sama ada daripada kalangan ahli kitab seperti Yahudi dan Nasrani mahupun golongan musyrik, akan dimasukkan ke dalam neraka dengan diseret di atas wajah mereka dan kekal di dalamnya selama-lamanya. Orang Islam yang dosanya lebih banyak daripada amal kebaikannya pula akan dimasukkan ke dalam neraka untuk suatu tempoh sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah, sebelum akhirnya dimasukkan ke dalam syurga.
“… Allah memerintahkan para malaikat mengentas dari neraka itu orang-orang yang tidak pernah sekalipun melakukan perbuatan syirik. Yaitu, mereka yang berucap Laa ilaaha illallah. Orang-orang ini dapat diketahui melalui ciri khasnya, yakni di wajahnya ada bekas sujud. Api yang membakar tubuh manusia itu tidak sampai melalap bahagian-bahagian tubuh yang pernah bersujud. Dan itu memang dilarang Allah. Maka keluarlah mereka dengan keadaan terbakar. Untuk memadamkannya, disiramkanlah ke tubuh-tubuh yang hangus itu air kehidupan. Dari air itu, bekas-bekas yang terbakar menjadi musnah dan membuat mereka tumbuh seperti biji-biji yang terbawa air bah.” (HR Muslim dari Abu Hurairah).
“Orang-orang (kafir) yang dihimpunkan ke Neraka Jahanam dengan diseret atas muka-muka mereka, mereka itulah orang yang paling buruk tempatnya dan paling sesat jalannya.” (TMQ Al-Furqân: 34).
“Sesungguhnya orang-orang kafir, yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke Neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Mereka itulah seburuk-buruk makhluk.” (TMQ Al-Bayyinah: 6).
Azab neraka amat dahsyat. Para penghuninya menanggung penderitaan yang sangat berat akibat segala seksaan tersebut. Rasulullah menggambarkan bahawa azab yang paling ringan sekalipun sudah cukup untuk menyebabkan otak mendidih.
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (TMQ An-Nisa: 56).
“Disiramkan air yang mendidih ke atas kepala mereka. Dengan air itu dihancurluluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit mereka.” (TMQ Al-Hajj: 19—20).
“Azab yang paling ringan di neraka pada Hari Kiamat adalah seseorang yang pada dua telapak kakinya ada dua bongkah bara api, lalu bara api ini akan merebus otak orang tersebut.” (HR At-Tirmidzi).
Adapun orang-orang mukmin, mereka akan dimasukkan ke dalam syurga yang penuh dengan kenikmatan serta memperoleh keredhaan Allah Azza wa Jalla. Para nabi, syuhada, ulama dan golongan siddiqin akan memasuki syurga-Nya dengan menerima limpahan rahmat dan keredhaan-Nya.
“Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda dengan membawa gelas, cerek, dan minuman yang diambil dari air yang mengalir. Mereka tidak pening kerananya dan tidak pula mabuk. Dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih dan daging burung dari apa yang mereka inginkan. Dan (di dalam syurga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik. Sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan.” (TMQ Al-Waqi’ah: 17—24).
“Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa. Akan tetapi, mereka mendengarkan ucapan salam. Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu. Berada di antara pohon bidara yang tidak berduri dan pohon pisang yang tersusun (buahnya), dan naungan yang terbentang luas, dan air yang tercurah, dan buah-buahan yang banyak, yang tidak berhenti (buahnya) dan tidak terlarang mengambilnya, dan kasur-kasur yang tebal dan empuk. Sesungguhnya Kami ciptakan mereka (bidadari-bidadari) lagi sebaya umurnya, (Kami ciptakan mereka) untuk golongan kanan, (yaitu segolongan besar dari orang yang terdahulu dan segolongan besar pula dari orang yang kemudian).” (TMQ Al-Waqi’ah: 25—40).
Sumber: MR Kurnia, dkk, Merentas Jalan Menjadi Politisi Transformatif.
(Bersambung ke “Mengenali Potensi” Bahagian 4/6.)
#MenjadiAhliPolitikTransformatif #PolitikIslam #PotensiManusia #HakikatManusia #UqdatulKubra