[Syarah Hadis]Penguasa yang Baik dan yang Buruk
Penulis: Ustaz Yahya Abdurrahman
خِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِيْنَ تُحِبُّوْنَهُمْ وَيُحِبُّوْنَكُمْ وَتُصَلُّوْنَ عَلَيْهِمْ وَيُصَلُّوْنَ عَلَيْكُمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِيْنَ تُبْغِضُوْنَهُمْ وَيُبْغِضُوْنَكُمْ وَتَلْعَنُوْنَهُمْ وَيَلْعَنُوْنَكُمْ قَالُوْا قُلْنَا يَا رَسُولَ اللهِ أَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ عِنْدَ ذَلِكَ قَالَ لاَ مَا أَقَامُوْا فِيْكُمْ الصَّلاَةَ أَلاَ مَنْ وَلِيَ عَلَيْهِ وَالٍ فَرَآهُ يَأْتِي شَيْئًا مِنْ مَعْصِيَةِ اللهِ فَلْيَكْرَهْ مَا يَأْتِي مِنْ مَعْصِيَةِ اللهِ وَلاَ يَنْزِعَنَّ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ
“Sebaik-baik imam (pemimpin) kalian adalah yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian serta yang kalian doakan dan mereka juga mendoakan kalian. Seburuk-buruk imam (pemimpin) kalian adalah yang kalian benci dan mereka membenci kalian serta yang kalian laknat dan mereka juga melaknat kalian. Mereka berkata, “Kami berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah tidak kita perangi sahaja mereka pada saat demikian?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Tidak, selama mereka masih menegakkan solat di tengah-tengah kalian. Ingatlah, siapa yang diperintah oleh seorang wali, lalu ia melihat wali itu melakukan sesuatu kemaksiatan kepada Allah, maka hendaknya ia membenci kemaksiatan itu dan janganlah dia melepaskan tangan dari ketaatan.” [HR Muslim, Ahmad dan Ad-Darimi].
Imam Muslim (Sahîh Muslim bab “Khiyâr al-Aimmah wa Syirâruhum”) mengeluarkan hadis ini dari beberapa sanad; dari Ishaq bin Ibrahim al-Hanzhaliy, dari Isa bin Yunus, dari Al-Awza’i, dari Yazid bin Yazid bin Jabir, dari Ruzaiq bin Hayyan; dari Dawud bin Rusyaid, dari Al-Walid bin Muslim, dari Abdurrahman bin Yazid bin Jabir, dari Ruzaiq bin Hayyan Maula bani Fazarah; dari Ishaq bin Musa al-Anshari, dari Walid bin Muslim, dari Ibn Jabir, dari Ruzaiq Maula Bani Fazarah. Ruzaiq meriwayatkannya dari Muslim bin Qarazhah, dari Auf bin Malik al-Asyja’i. Imam Muslim juga berkata, “Muawiyah bin Shalih meriwayatkan hadis ini dari Rabiah bin Yazid, dari Muslim bin Qarazhah, dari Auf bin Malik Al-Asyja’i.”
Imam Ahmad (Musnad bab “Hadîts ‘Awf ibn Malik al-Asyja’i”) mengeluarkan hadis ini dari Ali bin Ishaq, dari Abdullah, dari Abdurrahman bin Yazid bin Jabir, dari Ruzaiq Maula Bani Fazarah, dari Muslim bin Qarazhah, dari Auf bin Malik al-Asyja’i.
Adapun Ad-Darimi mengeluarkannya dalam bab “Fî ath-thâ’ah wa luzûm al-jamâ’ah” (tentang ketaatan dan kemestian berjemaah) dari Hakam bin Al-Mubarak, dari Al-Walid bin Muslim, dari Abdurrahman bin Yazid bin Jabir, dari Ruzaiq bin Hayyan Maula Bani Fazarah, dari Muslim bin Qarazhah, dari Auf bin Malik al-Asyja’i.
Hadis ini juga diriwayatkan oleh At-Thabrani dalam Mu‘jam al-Kabîr, Abu ‘Awanah dalam Musnad Abu ‘Awânah, Al-Ajuri dalam Asy-Syarî’ah, dan lainnya. Semuanya bersumber dari pertuturan Auf bin Malik al-Asyja’i.
Makna Hadis
Al-Mawardi berkata, “Ini benar. Sungguh, seorang imam, jika memiliki kebaikan, dia mencintai dan dicintai oleh rakyat. Sebaliknya, jika buruk (jahat), dia membenci dan dibenci oleh rakyat. Perkara utama dalam hadis ini adalah bahawa rasa takut kepada Allah akan mendorong untuk taat kepadaNya dalam memperlakukan makhlukNya. Ketaatan kepada Allah juga akan mendorong untuk mencintai makhlukNya. Oleh sebab itu, kecintaan itu merupakan bukti atas kebaikan imam. Sebaliknya, kebencian rakyat kepada imam adalah bukti keburukannya serta kurangnya perhatian imam terhadap rakyat.”
Asy-Syaukani dalam Nayl al-Awthâr menjelaskan, hadis ini merupakan dalil disyariatkannya mencintai imam dan mendoakan mereka. Imam yang mencintai dan dicintai rakyat, mendoakan dan didoakan oleh rakyat merupakan imam yang paling baik.
Sebaliknya, imam yang membenci dan dibenci rakyat, mencaci dan dicaci oleh rakyat, termasuk imam yang paling buruk. Hal itu kerana jika imam berlaku adil di tengah rakyat, berkata baik kepada rakyat, maka rakyat akan mentaati, mematuhi, dan memujinya.
Ketika seorang imam, keadilan dan kebaikan perkataannya menyebabkan kecintaan, ketaatan, dan pujian rakyat terhadapnya, dia termasuk imam yang paling baik. Sebaliknya, tatkala kezaliman dan caciannya kepada rakyat menyebabkan rakyat menyalahinya dan berkata buruk tentangnya, maka dia termasuk seburuk-buruk imam.
Hadis ini menegaskan wajibnya mentaati imam hingga meskipun imam itu melakukan kemaksiatan. Ketaatan itu selama bukan dalam rangka bermaksiat kepada Allah. Dalam keadaan imam melakukan kemaksiatan itu, Rasululullah SAW memerintahkan agar kita membenci kemaksiatannya itu.
Baginda SAW juga tetap melarang kita melepaskan tangan dari ketaatan, tentu diiringi dengan aktiviti amar makruf nahi mungkar kepada imam, yang disyariatkan dalam nas yang lain.
Mantuq hadis ini juga menjelaskan tidak bolehnya memerangi imam dan mencabut kekuasaannya selama dia masih menegakkan solat di tengah kaum muslim. Adapun mafhumnya menyatakan bahawa bolehnya memerangi imam jika sudah tidak menegakkan solat di tengah kaum muslim.
Frasa mâ aqâmû fîkum ash-shalâh (selama dia masih menegakkan solat di tengah-tengah kalian) maksudnya bukan selama imam masih melaksanakan solat. Frasa tersebut merupakan majaz (kiasan) menggunakan uslûb: ithlâq al-juz’i wa irâdah al-kulli (menyebutkan sebahagian, sedangkan yang dimaksudkan adalah keseluruhan).
Maksud frasa itu adalah selama masih menegakkan Islam, iaitu selama masih menerapkan hukum-hukum Islam. Ini kerana, dalam Islam, wali yang kekuasaannya tidak mencakup masalah kewangan disebut wâliy ash-shalâh, sedangkan yang mencakup masalah kewangan disebut wâliy ash-shadaqah.
Makna ini seiring dengan hadis Ubadah bin Shamit yang menjelaskan wajibnya memerangi imam dan mencabut kekuasaannya jika sudah jelas kelihatan kufr[an] bawâh[an] (kekufuran yang nyata)—dalam riwayat lain kufr[an] sharâh[an] (kekufuran secara terang-terangan), contohnya jika imam menerapkan hukum kufur seraya meyakini kelayakannya dan ketidaklayakan hukum Islam. Itu sama ertinya dengan tidak lagi menegakkan solat di tengah-tengah kaum muslim. Wa mâ tawfîqî illâ billâh.