Memanfaatkan Media Sosial dengan Cara Islam
Penulis: Chusnatul Jannah
Menjadi nombor satu tidak semestinya baik. Buktinya, Indonesia menjadi negara paling ketagih internet, terutama media sosial. Ketagihan tersebut dinilai sudah mengancam kesihatan mental. Indonesia juga menjadi pengguna yang paling lama menghabiskan waktu 6.5 jam/hari menatap skrin HP dan tablet. Atas dasar itu, para pakar di Indonesia sepakat bahawa pemerintah hendaklah lebih serius menyikapi dampak media sosial terhadap anak dan remaja, seperti yang mulai terjadi di AS.
Ketua Persatuan Doktor Amerika Syarikat (Surgeon General) Vivek Murthy mengusulkan adanya pencantuman label pada media sosial, seperti label berbahaya pada rokok. Meski tidak menjamin pencantuman label tersebut akan menyelesaikan masalah kesihatan mental, Vivek berharap hal ini boleh menciptakan kesedaran dan perubahan perilaku pada penggunanya.
Apakah Indonesia mahu menyambut usulan ini? Membayangkan Indonesia sudah ketagihan parah terhadap aktivitti di dunia digital.
Pisau Bermata Dua
Pada era digitalisasi saat ini, penggunaan internet dan aktivitti di media sosial adalah sesuatu yang tidak boleh dihindari dan justeru iainya perlu dihadapi. Dalam arus kapitalisme, kemajuan teknologi dan media sosial bagaikan pisau bermata dua, yakni boleh memberi manfaat atau membawa bahaya bagi penggunanya.
Sayangnya, sistem kapitalisme menjadikan media sosial lebih banyak digunakan untuk membuat konten-konten viral, mencari pengikut (followers), mempromosi gaya hidup hedonis (hiburan), penyebaran pola fikir liberal sekular, dan aktivitti kejahatan, seperti penipuan/scam, gangguan seksual, keganasan digital, pinjaman online, judi online, dan masih banyak dampak negatif lainnya.
Pada dasarnya, media sosial boleh berdampak positif jika tujuan penggunaannya dalam rangka memudahkan manusia dalam berkomunikasi, menjalin ukhuwah, berkongsi informasi, bahkan boleh mendakwahkan Islam secara luas dan masif. Sayangnya, penggunaan media sosial justeru lebih banyak memiliki dampak negatifnya berbanding positifnya. Ini kerana paradigma kapitalisme masih mendominasi tujuan hidup manusia.
Yang Lebih Berbahaya
Melihat kehidupan saat ini yang masih dikawal ideologi kapitalisme, sesungguhnya dampak yang paling berbahaya kerana dasar platform media sosial adalah berkembangnya pemikiran sekular liberal dengan beragam konten. Apalagi pengguna media sosial kebanyakannya adalah generasi muda. Mereka dengan mudahnya boleh terpengaruh dengan pemikiran negatif hingga memberi kesan pada pola fikirnya. Sebagai contoh, pada awalnya berhijab syarie, lalu berubah menjadi perempuan tanpa hijab lantaran berinteraksi dengan seseorang yang memiliki pola fikir sekular-liberal. Interaksi pemikiran boleh terjadi di media sosial yang dapat mengubah pemahaman Islam yang dimiliki.
Contoh lainnya, baru-baru ini platform media sosial X membenarkan konten pornografi. Bukan tidak mungkin langkah itu juga diikuti oleh platform media sosial lainnya. Lagi pula, sebelum kebijakan tersebut, platform media sosial sudah banyak diwarnai konten-konten porno yang mudah diakses siapa saja.
Jika usulan media sosial diberi label “berbahaya”, dengan sudut pandang apa dikatakan berbahaya? Khuatirnya, kata “berbahaya” boleh dimaknai secara liar. Jika berbahaya kerana mengganggu kesihatan dan aktiviti di dunia nyata, itu memang berbahaya. Namun, jika berbahaya yang dimaksud adalah konten radikalisme menurut tafsir kapitalisme, usulan ini patut dipersoalkan. Ini kerana tidak jarang kita temukan kebijakan pemilik platform media sosial secara sepihak menyekat akaun atau konten dakwah hanya kerana tidak sefahaman dengan pemikiran mereka.
Pemanfaatan Media Sosial
Media sosial adalah produk digital. Alhasil, sebagai sarana teknologi, Islam membolehkan kita memanfaatkan teknologi untuk kebaikan. Akan tetapi, jika media sosial digunakan untuk menyebarluaskan konten atau aktiviti kemaksiatan atau kejahatan, hal ini diharamkan dalam Islam.
Dalam Islam, media sosial dapat bermanfaat dalam banyak hal selama dalam koridor yang dibenarkan syariat Isam. Apa pun teknologinya, jika paradigma Islam yang dipakai, akan memberi dampak positif dan kemaslahatan bagi umat manusia.
Negara akan memberikan dukungan, baik dalam bidang pendidikan dan kewangan demi tercapainya kemaslahatan bagi umat manusia. Negara akan mendorong cendekiawan muslim menciptakan teknologi atau platform media sosial yang bersifat mendidik seluruh lapisan masyarakat. Negara tidak akan membiarkan konten porno atau yang tidak berfaedah bertebaran di media sosial.
Negara juga akan bertindak dengan tegas kepada siapa saja yang memproduksi dan menyebarkan konten berbaur kemaksiatan yang berpotensi memberi kerosakan pada pendidikan generasi. Kehadiran media sosial adalah semata-mata untuk menyebarkan dakwah amar makruf nahi mungkar serta menebar kebaikan untuk seluruh umat manusia. Jika dahulu dakwah Islam tersebar dengan melewati berbagai wilayah dan menjelajahi bumi yang luas, kini dakwah Islam boleh tersebar luas melalui media sosial.