[Ath-Thariq] Beberapa Konsep Sosialisme (Bahagian 1/3)
Penulis: Syeikh Ahmad Athiyat
Walaupun kami telah merasa cukup puas dengan paparan terdahulu yang tidak meninggalkan setitik keraguan pun akan kerosakan sosialisme, tetapi kami akan menjelaskan beberapa pemikiran yang dibangun di atas asas yang rosak itu. Segala yang dibangun di atas yang rosak itu merupakan sesuatu yang rosak pula.
Adapun maksud dari penjelasan ini adalah makin menambah rasa tenang di atas kepuasan tadi dan sebagai pemicu bagi akal-akal yang selama ini beranggapan akan baiknya/luhurnya ideologi yang ternyata rosak ini, dan saya telah berupaya semaksima mungkin untuk meneliti beberapa konsep yang memiliki kemiripan dalam tiga ideologi ini. Hal itu dilakukan bagi memudahkan perbandingan dan spesifikasi (pemisahan).
Sesungguhnya sebahagian besar konsep-konsep sosialisme akan memiliki kemiripan dengan konsep kapitalisme dan konsep Islam. Konsep-konsep tersebut adalah sebagai berikut.
Konsep Marxisme tentang Masyarakat
Marxisme berpandangan bahawa masyarakat itu terbentuk dari tiga faktor, iaitu faktor geografi, pertumbuhan penduduk dan kepadatannya, serta cara produksi.
Pertama, dari segi ketidaksesuaian definisi ini dengan realiti masyarakat, bahawasanya masyarakat apa pun di dunia ini terbentuk dari empat faktor, iaitu manusia, pemikiran, perasaan, dan aturan-aturan (sistem)—kami telah menjelaskan hal ini dalam pembahasan konsep kapitalisme tentang masyarakat—sehingga tidak ada kaitan di dalamnya dengan lingkup atau wilayah geografi, juga tidak dengan pertumbuhan penduduk dan alat-alat produksi.
Kedua, dari sudut kekeliruan pemikiran yang terkandung dalam definisi ini dan menuntut kita untuk menyangkal beberapa poin yang ada dalam definisi ini.
Berkaitan dengan wilayah geografi atau apa yang mereka sebut dengan alam, maka hal itu ada di setiap tempat, baik masyarakatnya ada atau tidak. Wilayah geografi itu ada di Rusia yang telah menganut Marxisme ataupun pada masa kekaisaran Rusia. Wilayah geografi tidak akan berubah sedikit pun dalam dua keadaan itu, walaupun masyarakatnya berubah secara mendasar (radikal).
Seandainya wilayah geografi itu menjadi bahagian atau unsur pembentuk masyarakat, nescaya ia akan berubah pula seiring berubahnya masyarakat. Oleh kerana itu, dapat dipastikan bahawa wilayah geografi ini bukanlah faktor atau elemen-elemen utama yang membentuk masyarakat, atau sesuai dengan pernyataan mereka bahawa masyarakat itu tidak termasuk syarat kehidupan materi kerana wilayah geografi itu tidak berpengaruh pada pembentukan masyarakat. Seandainya berpengaruh, nescaya ia akan berubah seiring berubahnya masyarakat.
Realiti yang ada adalah bahawa masyarakat itu berubah, sedangkan alam—atau wilayah geografi—tetap dalam keadaannya yang semula jadi. Masyarakat jahiliyah di Madinah, Mekah, dan negeri-negeri Syam telah berubah menjadi masyarakat Islam dan terbentuklah masyarakat yang baru yang berbeza dari semua sisi dengan masyarakatnya yang pertama (semula), tetapi wilayah geografinya tidak berubah dan tetap seperti sediakala.
Begitu juga apabila hal itu dikaitkan dengan masyarakat pada zaman kekaisaran Rusia ketika berubah menjadi masyarakat yang menganut marxisme yang berupaya mewujudkan komunisme, wilayah geografinya tidak berubah dan tetap dalam keadaan asalnya.
Adapun berkaitan dengan pertumbuhan penduduk dan kepadatannya, maka hal itu tidak ada hubungannya dalam pendefinisian bentuk dan corak masyarakat. Sesungguhnya yang berkaitan dengan masyarakat itu adalah manusianya, bukan pertumbuhan dan kepadatannya.
Penduduk miskin yang berjumlah seribu orang sekalipun dapat membentuk masyarakat. Hal itu terjadi jika empat faktor pembentuk masyarakat terpenuhi yakni manusia, pemikiran, perasaan, dan sistem. Satu juta orang, seperti bangsa Cina contohnya, bisa membentuk masyarakat jika syarat atau faktor pembentuk yang empat itu menjadi unsur masyarakat sebagaimana masyarakat yang tadi (yang penduduknya berjumlah seribu orang).
Berdasarkan hal ini, tampak dengan jelas bahawa pertumbuhan dan kepadatan masyarakat tidak ada kaitannya sama sekali dengan penentuan terbentuknya masyarakat dan memang bukan menjadi bahagian dari masyarakat.
Adapun berkaitan dengan cara produksi, yang dimaksud oleh mereka itu adalah manusia dan alat-alat produksi dan pengetahuan tentang cara menggunakan alat-alat itu atau pengalaman dari satu sisi, dan hubungan produksi dari sisi lainnya. Keberadaan manusia sebagai bahagian dari masyarakat merupakan pernyataan yang teramat jelas, kerana tidak akan ada masyarakat seandainya tidak ada manusia.
Adapun pernyataan bahawa manusia itu merupakan bahagian dari cara produksi, maka pernyataan seperti ini sangat jelas kerosakannya kerana bagaimana mungkin manusia menjadi bahagian dari sesuatu yang mereka ciptakan sendiri? Manusialah yang menemukan alat-alat produksi dan menghasilkan cara-cara untuk menggunakannya. Merekalah yang menemukan pengetahuan dan mereka jugalah yang menegakkan hubungan di antara mereka sendiri, baik ketika berlangsungnya produksi atau di luar tempat dan waktu produksi. Oleh kerana itu, bagaimana mungkin si pembuat menjadi bahagian asasi dari apa yang dia ciptakan sendiri?
Adapun alat-alat produksi, ini juga tidak ada kaitannya dengan penentuan bentuk masyarakat. Ini kerana kadang-kadang ada masyarakat yang tidak memiliki alat- alat produksi. Mereka hidup hanya bergantung pada bantuan yang datang dari luar masyarakatnya seperti kem yang menyendiri pada tentera. Kadang-kadang masyarakat itu berubah, sedangkan alat-alat produksi yang ada tidak berubah sebagaimana hal itu terjadi ketika masyarakat jahiliyah berubah menjadi masyarakat Islam.
Kadang-kadang alat-alat produksi itu hampir serupa dalam dua masyarakat yang saling bertolak belakang seperti Rusia dan Amerika. Dengan hal ini, jelaslah bahawa alat-alat produksi itu tidak ada kaitannya sama sekali dengan pembentukan masyarakat, keteraturan, dan modelnya.
Namun, ini bukan bererti masyarakat itu tidak memerlukan alat-alat produksi, tetapi ini dimaksudkan bahawa alat-alat produksi itu sepenuhnya tidak membezakan suatu masyarakat dari masyarakat lainnya. Hal ini sebagaimana udara, air, dan makanan (benda-benda tersebut merupakan sesuatu yang sangat diperlukan manusia), tetapi semua itu tidak membentuk seseorang manusia. Begitu juga dengan alat-alat produksi, alat-alat tersebut tidak membentuk sebuah masyarakat.
Berkaitan dengan berbagai pengetahuan produksi atau pengetahuan tentang cara menggunakan alat-alat produksi atau pengalaman estetika, maka sesungguhnya ketiadaan semua itu tidaklah menghalangi keberadaan masyarakat. Bahkan semua itu ada dalam dua masyarakat yang bertentangan sekalipun, seperti Rusia dan Amerika.
Tidak ada yang lebih menunjukkan akan hal itu, kecuali ungkapan Kruschev (salah seorang Perdana Menteri Union Soviet) dalam pernyataannya, “Adalah penting untuk meminta bantuan dari cara-cara kapitalisme dalam menumbuhkan produksi dan mestilah kita mengambil manfaat dari sistem kapitalisme dalam menumbuhkan produksi.”
Adapun berkaitan dengan hubungan-hubungan produksi, atau hubungan- hubungan yang ada di antara manusia ketika proses produksi berlangsung, sesungguhnya hubungan-hubungan tersebut tidaklah menjadi bahagian (elemen) pembentuk masyarakat. Hubungan yang menjadi bahagian—kerana ia dihasilkan dari pemikiran dan perasaan— adalah hubungan yang bersifat kekal yang ada di antara manusia, baik ketika produksi berlangsung ataupun di luar produksi tersebut. Hubungan tersebut terdapat dalam jual beli, ijarah, wakalah, kafalah, nikah, syirkah, dan sebagainya.
Hubungan-hubungan tersebut dibangun sesuai dengan kemaslahatan bersama yang dihasilkan dari pemikiran dan perasaan bersama pula, sebagaimana telah kami jelaskan hal itu dalam bahasan yang telah lalu.
Dengan demikian, manusia mengadakan hubungan di antara mereka ketika di antara mereka ada (muncul) kepentingan, baik kepentingan yang berkaitan dengan produksi ataupun kepentingan yang berkaitan dengan distribusi (pengagihan), atau bahkan kepentingan yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan produksi dan distribusi, seperti nikah, hubungan terkait bapa (al-ubuwwah), hubungan terkait anak (al-bunuwwah), dan kejiranan.
Ini ditinjau dari satu sisi, adapun bila ditinjau dari sisi lain, maka anggapan bahawa hubungan-hubungan itu menjadi bahagian dari masyarakat itu sesungguhnya dengan pertimbangan faktanya yang kelihatan. Sedangkan berdasarkan fakta yang sebenarnya adalah bahawa hubungan-hubungan tersebut merupakan konsekuensi pandangan terhadap kepentingan (maslahat).
Sebenarnya, yang mewujudkan hubungan-hubungan tersebut adalah pemikiran dan perasaan, bukannya hubungan itu sendiri. Dengan demikian, jelaslah kekeliruan pandangan tentang masyarakat yang selama ini dipegang oleh materialisme sejarah (historical materialism).
Konsep Sosialisme tentang Standard Perbuatan
Marxisme telah menjadikan evolusi (perkembangan) materi sebagai tolok ukur yang menentukan nilai suatu perbuatan, serta yang menentukan pula baik buruknya perbuatan tersebut. Ketika perkembangan itu menghasilkan perubahan—sekecil apa pun itu—maka akan mengakibatkan ketidaktetapan tolok ukur tersebut. Apa yang dianggap baik pada hari ini, kadang kala akan dianggap buruk pada kemudian hari. Apa yang dianggap buruk pada hari ini, terkadang akan dianggap baik pada kemudian hari, begitulah seterusnya.
Lenin telah menyatakan dalam bukunya, Logika Formal dan Logika Dialektika, “Yang terpenting dalam teori epistimologi, sebagaimana dalam semua bidang ilmu lainnya, adalah bahawa proses berfikir itu nescaya selalu berbentuk dialektika, yakni secara mutlak tidak mengharuskan keberadaan kesedaran kita yang tidak berubah dan tidak berkembang.”
Dari pernyataan seperti ini jelas bahawa Marxisme menganggap hakikat yang tidak berubah itu tidak ada. Hal itu tidak lain kerana adanya perkembangan (evolusi) yang tidak memungkinkan ketetapan sesuatu dengan segala keadaannya dan juga kerana adanya sifat pertentangan (opposite) dalam segala sesuatu yang ada. Oleh kerana itu, apa yang selaras dengan perkembangan akan dianggap baik dan apa yang bertentangan dengan perkembangan akan dianggap sebaliknya.
Mereka, misalnya, menganggap bahawa tuntutan untuk mendirikan Republik Borjuis pada masa kekaisaran dan masyarakat Borjuis di Rusia pada 1905 merupakan sesuatu yang dapat difahami (sesuatu yang logik), benar, dan merupakan revolusi total. Akan tetapi, tuntutan Republik Borjuis pada masa Union Soviet setelah Revolusi Bolschevik berhasil pada 1917 menjadi tuntutan yang basi dan kontradiktif dengan revolusi ini kerana Republik Borjuis merupakan langkah mundur dibandingkan dengan Republik Soviet dipandang dari semua sisi, baik tempat, waktu, dan keadaannya.
Selaras dengan pemikiran evolusinya itu, para penganut Marxisme menjadikan segala sesuatu yang baru sebagai sesuatu yang baik dan segala sesuatu yang lama (kuno) sebagai sesuatu yang rosak. Adapun berkaitan dengan titik awal, yakni menetapkan hukum benar salah suatu perbuatan atau masalah itu, tergantung pada tempat, waktu, dan keadaan. Apa yang telah terjadi di Eropah cukuplah menjadi sebuah contoh yang menjelaskan rosaknya tolok ukur (standard) ini.
Pada waktu, tempat, dan keadaan yang sama telah diterapkan dua sistem ekonomi, yakni sistem pasaran bebas dan sistem pasaran Eropah bersama. Setelah diterapkan, terbukti bahawa sistem pasaran bersama menunjukkan keberhasilan yang lebih besar. Negara-negara yang menerapkan sistem ini boleh lebih maju secara material dibandingkan negara yang menerapkan pasaran bebas.
Apakah sistem pasaran bersama ini boleh disebut progresif bagi keadaan, waktu, dan tempat; atau progresif bagi idea-idea yang dikandung sistem ini? Berdasarkan hal ini tampak jelaslah kerosakan tolok ukur tersebut (standard kondisi, waktu, dan tempat dalam menetapkan benar salahnya sebuah perkara).
Adapun pernyataan mereka tentang baiknya sesuatu yang baru dan buruknya sesuatu yang lama, sangat jelas kerosakannya. Tidak semua yang baru itu baik dan tidak semua yang lama itu rosak atau buruk. Sesungguhnya, segala sesuatu harus dipandang dari sisi kelayakan dan kerosakannya, bukan dari sisi baru atau lamanya.
Contohnya, perubahan diri manusia dari muda menjadi tua merupakan peralihan dari yang lama menjadi yang baru, apakah keadaan yang baru tersebut lebih baik dari keadaannya berbanding yang lama? Roti itu adalah sesuatu yang lama (keadaan asal) dan roti yang busuk itu adalah sesuatu yang baru, sperma merupakan sesuatu yang lama dan bayi menjadi sesuatu yang baru.
Semua ini menjelaskan kerosakan standard Marxisme yang berdiri di atas konsep evolusi dan keselarasan dengan keadaan, waktu, dan tempat. Konsep yang benar adalah bahawa yang menentukan kemajuan dan kemunduran itu hanya kembali pada perkara itu sendiri, dilihat dari segi apakah ia dapat merealisasikan kemajuan atau adakah ia menghambatnya.
Sungguh banyak sesuatu yang baru itu menjadi buruk sebagaimana keadaan Jerman Timur setelah negara tersebut berubah dari negara kapitalisme menjadi sosialisme; juga sebagaimana keadaan kaum muslim setelah jatuhnya Khilafah dan mereka berubah menjadi negara-negara kecil.
*Bersambung ke bahagian 2
Sumber artikel: Syeikh Ahmad Athiyat, Ath-Thariq (Jalan Baru Islam)