Ya, Ini Adalah Perang Habis-habisan Antara Islam dan Kuffar
Penulis: Ir. Wissam al-Athrasy
Presiden Amerika Syarikat Joe Biden menyatakan bahawa “kita boleh menghindari” terjadinya perang habis-habisan di Timur Tengah. Biden mengungkap kenyataan tersebut di tengah serangan yang dilakukan oleh entiti Yahudi terhadap pangkalan kelompok Iran di Lebanon, serta saat mereka sedang mempertimbangkan tindakan balasan atas serangan peluru berpandu Iran yang baru-baru ini mensasarkan mereka.
Saat menjawab pertanyaan wartawan di Rumah Putih mengenai keyakinannya akan kemungkinan menghindari perang habis-habisan di kawasan tersebut, Biden mengatakan, “Saya tidak terfikir akan ada perang besar. Saya fikir kita dapat menghindarinya,” sambil menambahkan, “Namun, masih banyak yang perlu kita lakukan, banyak yang perlu kita lakukan sejauh ini.” (Channel Alhurra, dengan penyesuaian, 4-10-2024).
Terlepas dari kedudukan politik Amerika (yang khuatir akan dampak perluasan perang terhadap kepentingannya dan dampaknya terhadap masa depan entiti Yahudi yang mungkin salah dalam menilai kepentingannya sendiri), mutakhir ini banyak pembicaraan tentang menghindari perang habis-habisan di kawasan tersebut. Hal ini terjadi bersamaan dengan tindakan melulu entiti Yahudi dan kekuasaannya di wilayah tersebut selama setahun sejak Operasi Taufan Al-Aqsa.
Istilah “perang habis-habisan” (perang besar/total, red.) sering disebut di berbagai media, dikutip dari para pemimpin Barat, pakar internasional, bahkan beberapa penguasa muslim. Mesir, Jordan, dan Irak, dalam pernyataan bersama di sela-sela sidang umum PBB, memperingatkan bahawa entiti Yahudi mendorong kawasan tersebut ke arah perang besar dengan melanjutkan perang di Gaza dan meningkatkan serangan udara di Lebanon. (Al Jazeera, 25-9-2024).
—
Perang habis-habisan adalah perang yang mana salah satu atau kedua pihak yang berperang menggunakan sebahagian besar sumber daya material dan manusia yang tersedia untuk usaha perang, tanpa membezakan antara pejuang dan warga awam. Akibatnya, warga awam yang tidak bersenjata terpaksa menanggung bahagian yang besar dari pengorbanan darah, selain pasukan yang berperang.
Dengan konsep ini, Barat yang penuh kebencian telah memerangi umat Islam dalam perang besar sejak mereka sengaja menjatuhkan Khilafah pada awal abad lampau, memberlakukan sistem Sykes-Picot melalui kolonialisme dan invasi militer langsung yang menumpahkan darah orang-orang tidak bersenjata sehingga jutaan muslim tidak berdosa menjadi mangsa.
Setelah itu, Barat menyerahkan peranan menjaga kepentingannya kepada rejim-rejim boneka di negeri kita dan memaksakan sistem demokrasi sekular dengan keganasan, bahkan jika perlu membunuh dan memusnahkan rakyat, sebagaimana dilakukan para penguasa Aljazair pada era 90-an, atau para tiran di Syria dan Mesir setelah pemberontakan umat terhadap rejim-rejim boneka yang tunduk pada kolonialisme Barat. Pengalaman sejarah telah membuktikan bahawa kotak suara demokrasi boleh berubah menjadi kotak peluru tajam jika keinginan rakyat bertentangan dengan kepentingan kolonialisme dan sekutunya di negeri kita.
Adapun Amerika, yang merupakan “pemimpin kaum kuffar”, presidennya mendakwa secara dusta bahawa dia ingin menghindari perang habis-habisan di kawasan tersebut. Sedangkan kebijakan luar negerinya—sejak awal berdirinya—memang didasarkan pada penciptaan perang, memicu krisis, menyalakan api, serta pembunuhan dan penghancuran. Penjajahan adalah bahagian dari sifat dasarnya, sebuah budaya yang tertanam dalam dirinya, sebagai sumber dominasi dan keberlangsungan Amerika.
Hal ini digerakkan oleh “mentaliti koboi” Amerika yang membangun projek kapitalistik busuknya dan demokrasi kotornya di atas tengkorak para penduduk asli Amerika (Indian) setelah pembantaian mengerikan yang dilakukan oleh kolonialis Barat. Para tuan berkulit putih berlumba-lumba untuk memusnahkan jutaan penduduk asli Amerika dengan cara-cara paling keji, termasuk menyembelih anak-anak dan melemparkan tubuh mereka ke dalam api di depan mata ibu-ibu mereka.
Amerika memiliki catatan panjang dalam kejahatan terhadap umat Islam sejak memimpin Perang Salib melawan Islam dan memimpin perang besar terhadap kaum muslim dengan dalih memerangi terorisme, yang sering kali diciptakan oleh intelijennya sendiri. Kejahatan perang di Irak dan skandal penjara Guantanamo adalah contohnya, serta kejahatan yang dilakukan sebelumnya di Afghanistan.
Amerika juga menjadi sponsor perang-perang proksi di Sudan dan Syria, bahkan terlibat langsung dan mempekerjakan tentera berbayar melalui Blackwater. Selain itu, ada luka mendalam yang diderita oleh umat Islam di Myanmar dan Turkistan Timur, serta darah yang terus mengalir di Tanah Suci Palestin di tangan Yahudi selama 76 tahun.
Para penjahat saat ini cuba menganggap ini sebagai peristiwa satu tahun saja, berpura-pura memperingatkan dari bahaya perang besar, padahal mereka semua, baik pemimpin mahupun ejen, adalah bahagian dari perang habis-habisan ini melawan umat Islam untuk menundukkan dan menghambat kebangkitannya.
Ini adalah perang kaum kuffar melawan Islam, yang dilancarkan di segala bidang dan di semua sektor; politik, ekonomi, media, dan militer; disertai perang psikologi dengan menggunakan senjata paling canggih dan teknologi terbaru. Mereka bahkan tidak ragu menyebutnya sebagai perang ideologi eksistensial saat mensasarkan Islam, simbol-simbolnya, kesuciannya, dan para pejuangnya di Palestin, yang mengangkat panji Shalahuddin. Hal ini diucapkan oleh juru bicara pemerintah penjajah setelah Operasi Taufan Al-Aqsa yang menegaskan bahawa entitinya sedang menghadapi perang eksistensial (perang yang dianggap sebagai ancaman terhadap keberadaan atau eksistensi hidup mereka, red.).
Hal ini juga ditegaskan oleh Netanyahu sendiri dalam pidatonya pada Peringatan 7 Oktober, dia berkata, “Setahun yang lalu, para pejuang Ham*s menyerang kita, dan sejak hari itu kita telah melancarkan serangan di tujuh front dalam perang eksistensial.”
—
Sungguh, Presiden Amerika Syarikat sendiri telah mengatakan dalam konteks ini bahawa, “Jika tidak ada (Isr@el), kami akan berusaha untuk mendirikannya,” sebagai saingan bagi Britain yang mendirikan entiti terasing ini dan merayakan peringatan seratus tahun atas Perjanjian Balfour yang terkutuk, sesuai dengan firman-Nya, “… Sungguh, telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang tersembunyi di hati mereka lebih jahat. …” (TMQ Ali Imran: 118).
Manuel Valls, Bekas Perdana Menteri Perancis, juga menyatakan hal yang terlintas di benak banyak pemimpin dan ahli politik Barat, dengan mengatakan, “Jika (Isr@el) jatuh, kita juga jatuh.”
Dengan demikian, tampak bahawa agama kuffar itu bersatu. Mereka memerangi umat Islam dari satu busur. Juga bahawa mereka ingin mengalahkan Islam serta mencegah kedatangan projek peradabannya dalam perang peradaban besar yang paling menyeluruh yang dikenal dalam sejarah moden, yang mana negara-negara kuffar bersatu melawan umat yang tidak memiliki negara untuk melindungi dan membela mereka.
Oleh kerana itu, wajar jika mereka sepenuhnya berpihak dan memberikan dukungan tanpa batas kepada entiti Yahudi dan kejahatan mengerikan mereka atas harga orang-orang yang tidak bersalah di Palestin . Firman-Nya, “Orang-orang yang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tidak menginginkan diturunkannya kepadamu suatu kebaikan dari Tuhanmu. Tetapi secara khusus Allah memberikan rahmat-Nya kepada orang yang Dia kehendaki. Dan Allah pemilik kurnia yang besar.” (TMQ Al-Baqarah: 105).
—
Pertanyaan yang kita ajukan di sini adalah, jika segala yang terjadi pada umat terbaik—yang pernah diturunkan untuk umat manusia—berupa penindasan dan pembunuhan di Irak, Afghanistan, Libya, Sudan, Syria, Lebanon, Yaman, dan Palestin ; serta berupa ketidakadilan dan penindasan di tangan para penguasa yang mencegah umat Islam dan tentera mereka untuk membela yang tertindas dan menegakkan agama; selain upaya penghilangan identiti dan melenyapkan terhadap akidah militer Islam dalam jiwa-jiwa mereka; jika semua ini tidak dianggap sebagai perang habis-habisan menurut pemahaman para pemimpin kolonial dan ejen-ejen mereka, lantas apa bentuk perang besar yang mereka bicarakan selain membinasakan dan membunuh kita dari urat nadi hingga ke urat nadi lainnya?!
Akhirnya, tidak ada yang dapat menghentikan pendarahan yang terus-menerus dalam tubuh umat ini, menuntut balas dari Amerika dan para sekutu salibisnya, serta mencabut entiti Yahudi dan kepala para pengkhianat yang fasik, selain daripada Khilafah Rasyidah—yang diusulkan oleh parti Islam antarabangsa.
Khilafah yang akan mempersiapkan para tentera, menghancurkan benteng-benteng (musuh), mengembalikan tipu daya musuh ke arah mereka dan mengekang mereka, serta memenuhi seruan umat yang merindukan kemenangan yang pasti. Juga untuk mewujudkan janji akhirat bagi entiti Yahudi yang merupakan para penjahat yang disesatkan oleh kesombongan dan kediktatoran mereka sehingga mereka menyangka bahawa mereka memiliki urusan dari sebelumnya dan sesudahnya.
Sesuai dengan firman-Nya, “… Apabila datang saat hukuman (kejahatan) yang kedua, (Kami bangkitkan musuhmu) untuk menyuramkan wajahmu lalu mereka masuk ke dalam masjid (Masjid Al Aqsa), sebagaimana ketika mereka memasukinya pertama kali dan mereka membinasakan apa saja yang mereka kuasai.” (TMQ Al-Isra’: 7).
Sumber artikel: Web Alraiah, 16-10-2024