JANGAN MENJADI SEPERTI BABI
Oleh: Al-Faqir Arief B. Iskandar
Sebahagian orang ada yang tabiatnya seperti tabiat babi. Saat melewati makanan-makanan yang baik, babi tidak tertarik. Namun, saat seseorang muntah, babi tersebut segera memakan habis muntah itu. Sifat seperti ini banyak ada pada manusia. Saat dia mendengar dan melihat dari dirimu berbagai kebaikan yang berkali ganda berbanding keburukan, dia tidak berusaha mengenangnya, tidak menghebahkannya dan itu semua tidak sesuai dengan kehendak dan seleranya. Sebaliknya, saat dia melihat kejatuhanmu atau ucapanmu yang keliru, maka dia merasa mendapatkan apa yang menjadi kehendaknya dan sesuai dengan seleranya. Lalu dia menjadikan itu sebagai buah hidangannya dan menceritakannya ke sana sini. (Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah, Madârij as-Sâlikîn, I/695-696).
Apa yang diungkap oleh Ibnu a-Qayyim pada masa lalu seolah begitu banyak juga terjadi pada hari ini. Banyak orang pura-pura buta dan tuli terhadap berbagai kebaikan orang lain yang begitu banyak. Namun, dia begitu peka terhadap keburukan orang lain walau sedikit. Sikap demikian sesungguhnya bermuara pada sikap hasad (dengki). Tidak merasa gembira saat orang lain berbuat kebaikan. Berduka saat orang mendapat kemuliaan kerana amal solehnya. Namun, begitu bersemangat saat orang lain tersebut melakukan kesalahan. Dia juga merasa sangat riang saat orang lain terjatuh dalam kesalahan. Sekali lagi, sikap demikian lahir dari sikap hasad (dengki).
Hasad (dengki) adalah sikap tercela dalam Islam. Begitu tercelanya, Ibnu al-Qayyim, sebagaimana terungkap di atas, menggambarkan sikap yang lahir dari hasad (dengki) ini diumpamakan seperti tabiat babi.
Oleh itu, jangan sampai kita memiliki tabiat seperti babi.
Wa maa tawfiiqii illaa bilLaah.