[Kitab Muqaddimah Dustûr ] Jabatan Penerangan: Telaah Kitab Muqaddimah Dustûr Fasal 103-104
Oleh: Gus Syam
Jabatan Penerangan (Al-I’lâm) adalah jabatan yang berkuasa membuat kebijakan-kebijakan penerangan bagi Daulah Khilafah Islamiyah untuk kemaslahatan Islam dan kaum muslim, baik secara internal mahupun eksternal.
Dari sisi internal, jabatan ini didirikan dalam rangka membantu pembinaan masyarakat Islami yang kuat, lurus dan bersih.
Adapun dari sisi eksternal ditujukan untuk menyebarkan Islam, baik dalam keadaan damai mahupun perang, dengan menonjolkan sisi keagungan Islam, keadilannya dan kekuatan militernya yang tangguh; juga mendedahkan kerosakan sistem-sistem buatan manusia serta kelemahan mesin perang mereka.
Penerangan (i’lâm) termasuk perkara penting bagi dakwah dan negara Khilafah. Jabatan Penerangan bukan merupakan bahagian dari jabatan-jabatan yang mengurusi urusan-urusan masyarakat. Ia merupakan jabatan independen yang terhubung langsung dengan Khalifah. Keutamaan dan kepentingan jabatan ini berbeza dengan keutamaan struktur negara Khilafah yang lain.
Politik penerangan spesifik hendaklah mampu memaparkan Islam dengan paparan yang kuat dan berpengaruh. Ia harus mampu mempengaruhi seluruh umat manusia untuk menerima, mengkaji dan mempelajari Islam. Jabatan ini juga diperlukan demi mempermudah penggabungan negeri-negeri Islam ke dalam naungan Khilafah Islam. Ini merupakan perkara penting yang terhubung langsung dengan negara Khilafah. Oleh kerana itu, semua bentuk penerangan, informasi dan propaganda yang terkait dengan negara Khilafah tidak boleh disebarkan tanpa instruksi dari Khalifah, seperti urusan-urusan ketenteraan, dan urusan-urusan strategik yang lain.
Dalil yang mendasari pembentukan jabatan ini adalah al-Quran dan Sunnah.
Dalam al-Quran Allah SWT berfirman:
وَإِذَا جَآءَهُمۡ أَمۡرٞ مِّنَ ٱلۡأَمۡنِ أَوِ ٱلۡخَوۡفِ أَذَاعُواْ بِهِۦۖ وَلَوۡ رَدُّوهُ إِلَى ٱلرَّسُولِ وَإِلَىٰٓ أُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنۡهُمۡ لَعَلِمَهُ ٱلَّذِينَ يَسۡتَنۢبِطُونَهُۥ مِنۡهُمۡۗ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ لَٱتَّبَعۡتُمُ ٱلشَّيۡطَٰنَ إِلَّا قَلِيلٗا
“Jika datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka langsung menyebarkannya. (Padahal) apabila mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, sudah tentu orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya (secara rasmi) daripada mereka (Rasul dan Ulil Amri). Sekiranya bukan kurniaan dan rahmat Allah kepadamu, sudah tentu kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil sahaja (di antara kamu).” (TMQ an-Nisa’ [4]: 83).
Topik ayat ini adalah terkait ikhbâr (informasi). Syaikh Wahbah Zuhaili dalam At-Tafsîr al-Munîr menjelaskan bahawa jika mereka mendapatkan informasi yang menimpa pasukan Nabi SAW (detasemen perang), baik kemenangan mahupun kekalahan, mereka segera menyebarluaskan hal demikian di tengah-tengah masyarakat. Seandainya mereka mengembalikan informasi itu kepada ulil amri, nescaya mereka mengetahui mana berita yang boleh disebarkan dan mana yang tidak boleh.
Adapun dalam Sunnah Nabi SAW, Imam Al-Hakim dalam Al-Mustadrak menuturkan hadis dari Ibnu ‘Abbas RA berkenaan dengan kisah penaklukkan Kota Mekah. Disebutkan bahawa orang-orang kafir Quraisy benar-benar tidak mengetahui informasi tentang Nabi SAW. Mereka juga tidak tahu apa yang beliau lakukan.
Imam Ibnu Abi Syaibah menuturkan sebuah riwayat mursal dari Abu Salamah RA. Di dalamnya disebutkan: Lalu Nabi SAW bersabda kepada Aisyah RA, “Siapkanlah bekal untukku. Jangan kamu memberitahukan hal ini kepada siapapun. Kemudian beliau memerintahkannya untuk jalan. Lalu Aisyah ditahan. Namun, penduduk Mekah tidak mengetahui apapun, dan mereka tidak mendapatkan informasi sedikitpun.”
Imam al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadis dari Anas RA. Disebutkan bahawa Nabi SAW memberitahukan kesyahidan Zaid, Ja’far dan Ibnu Ruwahah RA kepada orang-orang sebelum informasi kematian tiga sahabat itu sampai kepada mereka. Nabi SAW bersabda, “Zaid membawa bendera itu, lalu dia gugur. Ja’far mengambil alih bendera, lalu syahid. Seterusnya, Ibnu Ruwahah membawa bendera. Dia pun akhirnya gugur.” Kedua mata beliau mengalirkan air mata. Lalu datanglah salah satu pedang dari pedang-pedang Allah membawa bendera itu. Allah SWT memberikan kemenangan atas mereka.
Imam Ibnu Mubarak di dalam Kitab Al-Jihâd, juga Imam al-Hakim di dalam Kitab Al-Mustadrak, menceritakan sebuah hadis dari Zaid bin Aslam dari bapanya, dari ‘Umar bin al-Khattab RA. Disebutkan, telah sampai informasi kepada beliau bahawa Abu ‘Ubadah RA dikepung di Syam. Masyarakat pun berkumpul untuk mengetahui keadaan sebenarnya. Lalu ‘Umar bin al-Khattab mengirim surat kepada Ubadah, “Semoga keselamatan tercurah kepadamu. Amma ba’du. Sesungguhnya tidaklah seorang hamba mukmin yang turun dari tempat yang genting, kecuali setelah itu Allah SWT akan menjadikan kemenangan bagi dia. Sebuah kesulitan tidak mungkin mengalahkan dua kemudahan. Allah SWT berfirman (yang ertinya): Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah dan kuatkanlah kesabaran kalian; tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung (TMQ Ali Imran [3]: 200).”
Abu ‘Ubadah RA lalu mengirim surat kepada ‘Umar RA, “Semoga keselamatan tercurah kepadamu. Amma ba’du. Sesungguhnya Allah SWT berfirman (yang ertinya): Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah di antara kalian serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak.” (TMQ al-Hadid [57]: 20).
Umar bin al-Khattab RA pun keluar dengan membawa surat Abu ‘Ubadah RA, lalu naik ke atas mimbar. Beliau RA membacakan surat itu kepada penduduk Madinah seraya berkata, “Wahai penduduk Madinah, sesungguhnya Abu ‘Ubadah hanya ingin mendorong kalian untuk berjihad.”
Informasi-informasi lain yang diperlakukan seperti halnya informasi-informasi militer adalah propaganda, perjanjian, kesepakatan dan diplomasi politik yang dilakukan oleh Khalifah atau orang yang diberi kuasa oleh Khalifah dengan negara-negara kafir. Di dalam sejarah, Nabi SAW pernah menjalin Perjanjian Hudaibiyah dengan orang-orang kafir Quraisy. Nabi SAW menyembunyikan tujuan di balik perjanjian itu. Beliau tetap teguh dengan pendiriannya, meskipun majoriti Sahabat awalnya tidak menerima keputusan beliau. Nabi SAW juga pernah diskusi langsung dengan para utusan Bani Najran dan menantang mereka untuk mubahalah. Nabi SAW pernah memerintahkan Tsabit bin Qais dan Qais bin Hisab untuk berdiskusi dengan utusan Bani Tamim. Informasi-informasi penting seperti ini tidak boleh disebarluaskan, kecuali atas arahan dan izin dari ketua negara.
Hanya saja, ada informasi-informasi bentuk lain yang tidak bersentuhan langsung dengan urusan kenegaraan. Informasi-informasi seperti ini tidak memerlukan izin atau arahan khusus dari Khalifah, seperti informasi pasaran (ekonomi), cuaca, pendidikan, sains dan teknologi, berita dunia, dan sebagainya. Namun demikian, penyebarluasan informasi-informasi tersebut harus tetap memperhatikan sudut pandang akidah Islam dan hukum syariah serta kemaslahatan Islam dan kaum muslim. Perlakuan Khalifah terhadap berita-berita seperti ini tentu berbeza dengan informasi-informasi jenis pertama.
Oleh kerana itu, Jabatan Penerangan mempunyai kuasa dalam mengatur informasi-informasi baik yang berhubungan langsung dengan Daulah Khilafah mahupun yang tidak memiliki hubungan secara langsung.
Jabatan Penerangan melakukan kawalan secara langsung informasi-informasi yang bersentuhan langsung dengan negara. Informasi-informasi ini tidak boleh disebarluaskan oleh media massa apapun, kecuali setelah disaring dan atas persetujuan dari Jabatan Penerangan.
Adapun informasi-informasi yang tidak bersentuhan langsung dengan negara, Jabatan Penerapan hanya melakukan kawalan secara tidak langsung. Cukup memberikan panduan-panduan yang bersifat umum dan mendasar. Informasi-informasi seperti ini tidak perlu melalui saringan Jabatan Penerangan. Penyebarannya juga tidak memerlukan izin secara khusus.
Fasal 104 menjelaskan ketentuan umum tentang media massa, baik audio, visual, mahupun audi-visual. Media informasi yang dimiliki warga negara tidak memerlukan izin, tetapi hanya memerlukan pemberitahuan dan dikirimkan ke Pengarah Penerangan. Pemilik dan pemimpin redaksi media itu bertanggung jawab terhadap semua isi informasi yang disebarkan. Mereka dimintai tanggung jawab terhadap setiap bentuk penyimpangan terhadap akidah dan syariah, sebagaimana warga negara lainnya.
Khatimah
Demikianlah, Jabatan Penerangan memiliki fungsi strategik dalam membina dan membentuk masyarakat Islami yang maju dan progressif. Informasi-informasi penting seputar sains teknologi, pendidikan, perkembangan ekonomi, dan sebagainya tentu saja amat diperlukan dalam memenuhi keperluan masyarakat. Jabatan Penerangan juga merupakan instrumen dakwah yang diperlukan untuk menyebarkan informasi-informasi seputar keagungan Islam dan keadilannya dalam mengatur urusan umat manusia, serta menampakkan kekuatan militer negara Khilafah. Massifnya opini dan pemberitaan tentang keunggulan Islam dan kekuataan militer negara Khilafah memudahkan dirinya dalam menyebarkan risalah Islam ke seluruh penjuru dunia serta menggabungkan negeri-negeri kaum muslim di bawah naungan Daulah Khilafah.
Jabatan Penerangan juga bertugas menangkal setiap bentuk informasi, propaganda dan kenyataan yang ditujukan untuk merendahkan Islam dan kewibawaan negara Khilafah. Sebaliknya, seluruh media massa yang ada di dalam negara Khilafah, baik milik negara mahupun swasta, akan digerakkan untuk menyebarluaskan kebusukan dan keburukan fahaman/pemikiran buatan manusia, seperti demokrasi, sekularisme, kapitalisme, dan sebagainya. Semua itu ditujukan agar umat manusia diajuhkan dari sistem dan pemikiran asing yang rosak dan tidak manusiawi.