[Fikrul Islam] Akidah
Penulis: Muhammad Husain Abdullah
Naluri beragama (gharizat at-tadayun) merupakan fitrah bagi manusia. Fitrah ini mendorong manusia untuk bertanya tentang Pencipta alam, manusia, dan kehidupan, serta tentang tempat kembalinya, yakni kehidupan selepas kematiannya.
Gharizah al-tadayun yang fitrah ini akan menuntun manusia menuju keimanan terhadap kewujudan (eksistensi) Pencipta dari alam semesta ini. Akan tetapi, kadang-kadang manusia salah dalam memahami hakikat Pencipta (Al-Khaliq) ini. Mereka mendeskripsikan matahari, api, patung berhala, atau makhluk yang lain sebagai Al-Khaliq.
Oleh kerana itu, Allah SWT. mengutus para rasul untuk memberi petunjuk kepada manusia akan hakikat Al-Khaliq yang sebenarnya, yang tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya, di samping bahawa penciptaan semua makhluk yang ada bergantung kepada-Nya.
Akidah secara bahasa diambil dari kata kerja (fe’el) ‘aqada (menyimpulkan/mengikat/transaksi/dan lain-lain), seperti pada kalimat ‘aqada al habla wal bay’a wa ‘uhdah wal ‘ahda yu’aqqiduhu syaddahu
وَعَقَدَ الْحَبْلَ وَالْبَيْعَ وَالْعُهْدَةُ وَالْعَهَدَ يُعَقِّدُهُ شَدَّهُ
“(menyimpulkan tali, transaksi jual beli, dan mengikat perjanjian, dan mengikatkannya, memperkuatnya).”
Akidah juga bererti apa-apa yang diyakini dan menenteramkan hati. Akidah secara istilah adalah pemikiran menyeluruh tentang alam, manusia, dan kehidupan, dan tentang apa-apa yang ada sebelum dan sesudah kehidupan dunia, serta tentang hubungan kehidupan dengan apa-apa yang ada sebelum dan sesudah kehidupan dunia.
Pemikiran menyeluruh inilah yang dapat menghuraikan ‘uqdat ul-kubra (permasalahan besar) pada diri manusia yang muncul dari persoalan-persoalan – Siapa yang menciptakan alam semesta dari ketiadaannya? Untuk apa semua itu diciptakan? Ke mana semua itu akan dikembalikan (berakhir)?
Jika manusia telah menemukan jawapan yang memuaskan atas beberapa persoalan ini, maka dia telah sampai kepada akidah. Akidah dapat dikatakan benar apabila telah memenuhi dua syarat, yakni pertama, mesti sesuai dengan fitrah manusia, menenteramkan jiwa manusia, dan mampu memenuhi naluri beragama, serta kedua, hendaklah sesuai dengan akal sehingga manusia akan merasa puas (qanaah) dengan sebuah pembuktian yang dapat membuktikan kebenaran atas perkara yang dia yakini itu.
Sumber: Muhammad Husain Abdullah, Studi Dasar-Dasar Pemikiran Islam
#fikrulislam #pemikiranislam #naluri #gharizah