[Kaedah-Kaedah Taklid] Bila Seorang Muqallid Meninggalkan Pendapatnya?
Penulis: Syamsuddin Ramadhan an-Nawiy dan M. Haris Adiningrat
Jika seorang muqallid mengadopsi suatu hukum, tetapi dia belum menerapkan hukum tersebut dalam amal perbuatannya, dia berhak meninggalkan hukum tersebut dan beramal dengan hukum lain, berdasarkan kaedah-kaedah tarjih yang ditetapkan oleh syariat Allah Taala.
Namun, jika dia mengadopsi suatu hukum dan terus menerapkan hukum tersebut dalam perbuatannya, hukum tersebut menjadi hukum Allah bagi dirinya dan dia tidak boleh meninggalkan hukum tersebut dan mengadopsi hukum lain, kecuali jika hukum yang lain itu dia ketahui beserta dalil-dalilnya, sedangkan hukum yang pertama tidak diketahui dalilnya, atau jika dia mengetahui bahawa hukum yang lain tersebut lebih kuat dalilnya dibandingkan hukum pertama berdasarkan kajian dan pengetahuannya.
Dalam dua keadaan semacam ini—pertama, memahami dalil hukum dan kedua, kekuatan dalil—seorang muqallid wajib meninggalkan pendapatnya dan mengikuti pendapat yang lebih kuat disebabkan kepuasan dirinya terhadap dalil hukum yang dia ikuti. Namun, jika dia tidak puas atau belum kanaah (setuju) dengan dalil pendapat yang lain, dia tidak diperbolehkan meninggalkan pendapatnya, dan mengikuti pendapat yang lain.
Sumber: Syamsuddin Ramadhan an-Nawiy dan M. Haris Adiningrat, Kaedah-Kaedah Taklid, Tuntunan Islam dalam Memilih dan Mengikuti Pendapat
Pembahasan sebelumnya: “Seorang Muqallid Tidak Harus Terikat dengan Satu Mazhab Saja”