[Khilafah Rasyidah] Mobilisasi secara Pemikiran dan Maknawi (Bahagian 1/2)
Penulis: dr. Hamdan Fahmi
Dalam Bahagian terdahulu, kami telah membicarakan pembahasan ini dalam menampakkan cabaran-cabaran dan kesulitan-kesulitan yang akan dihadapi oleh Daulah Islam yang telah dijanjikan–pasti berdiri dalam waktu dekat atas izin Allah—yang berasal dari luar, iaitu cabaran-cabaran luar negeri.
Kami juga telah menyebutkan secara ringkas metode mengatasi dan menghadapi cabaran-cabaran tersebut. Masalahnya tidak akan berhenti hanya pada batas cabaran-cabaran luar negeri ini. Akan tetapi, daulah—seperti yang telah kami sebutkan— juga akan menghadapi cabaran dalam negeri. Cabaran dalam negeri ini tidak kalah pentingnya dari cabaran luar negeri, meskipun tahap bahayanya lebih kecil.
Cabaran dalam negeri ini juga memerlukan rencana-rencana persiapan dan rencana menghadapinya agar dapat mengatasi dan melewatinya pada saat awal berdirinya Daulah Islamiah. Cabaran dalam negeri yang pertama dan paling penting adalah mobilisasi secara pemikiran dan maknawi. Hal ini sesuatu yang penting untuk menghadapi seluruh bahaya dan kesulitan di dalam dan luar negeri.
Pada pembicaraan kita terdahulu tentang embargo ekonomi, kami telah membicara secara ringkas tentang mobilisasi dalam negeri untuk menghadap embargo. Sekarang kami akan memperincikan masalah mobilisasi untuk menghadapi cabaran dalam negeri. Kami memulakan dengan point ini, iaitu mobilisasi. Ini kerana sebahagian besar cabaran dalam negeri atau pun luar negeri terkait langsung dengan masalah mobilisasi ini.
Invasi atau serangan luar negeri, baik secara militer atau bukan, berupa embargo dan lainnya, memerlukan persiapan secara pemikiran dan maknawi untuk menghadapinya. Kurangnya sumber-sumber pemasukan di dalam negeri dibandingkan besarnya beban dan tuntutan, juga memerlukan mobilisasi untuk bertahan, menentang, dan demi kelangsungan Daulah.
Diperlukan juga aktiviti mobilisasi revolusioner untuk Islam dalam seluruh lembaga negara, baik sivil mahupun militer. Demikian juga memerlukan mobilisasi umum aqliyah (pola fikir) dan nafsiyah (pola sikap) dalam masyarakat. Kurangnya persiapan persenjataan dan sarana-sarana fizikal yang berkaitan dengan masalah terkait kehidupan sehari-harian juga memerlukan mobilisasi.
Cabaran dan kesulitan lainnya, baik dalam negeri mahupun luar negeri, semuanya memerlukan mobilisasi. Tidak berlebihan jika kami katakan bahawa mobilisasi merupakan hujung tombak dalam setiap bentuk perlawanan dan penentangan terhadap cabaran dan kesulitan yang dihadapi oleh Daulah Khilafah yang telah dijanjikan.
Umat yang tidak memiliki senjata ini akan cepat hancur dan bertekuk lutut menghadapi pukulan, walaupun umat itu memiliki semua jenis perlawanan lainnya. Apa yang dimaksud mobilisasi? Bagaimana kita mewujudkannya di tengah umat untuk menghadapi cabaran dan bahaya yang bermacam-macam?
Mobilisasi adalah menaikkan darjat umat secara pemikiran dan kejiwaan (nafsiyah) dengan Islam, akidah, dan hukum-hukumnya. Dengan demikian, darjatnya meningkat menjadi kuat untuk bersikap tegar menghadapi bencana dan cabaran, berani terjun mengharungi bahaya tanpa takut kematian, serta sanggup menahan lapar dan berpanasan tanpa menoleh kepada kenikmatan hidup di dunia. Bahkan tetap fokus memperhatikan keredhaan Tuhannya, bersabar, dan terus berharap di depan semua hambatan tersebut.
Dengan makna lain, mobilisasi itu adalah aktiviti mewujudkan keyakinan yang menancap kuat di dalam akal serta mengisi nafsiyah dengan muatan keimanan yang akan membawa umat ke darjat yang tidak lagi melihat tanah dan daratan. Bahkan meninggi dari semua itu dan berhubungan dengan pencipta mereka dengan hubungan ruhiyah yang agung.
Tatacara mewujudkan karakter agung nan tinggi tersebut di dalam diri individu-individu umat memerlukan beberapa perkara berikut.
- Penjelasan tentang akidah yang lurus dan syariat yang istiqamah di mana kita sedang berada, dibandingkan dengan apa yang dijalani oleh para pengikut peradaban Barat khususnya dan kaum kafir pada umumnya.
Penjelasan tersebut akan melahirkan muatan-muatan keimanan di dalam nafsiyah seorang muslim. Keimanan tersebut akan mendorong muslim tersebut menentang dan mencabar kekufuran. Juga menjadikannya lebih siap sedia untuk berkorban demi kelangsungan agama yang lurus ini dan Daulah yang memikul dan menerapkannya di tengah masyarakat.
Begitu pula akan menjadikan muslim tersebut lebih membenci kekufuran dan kaum kafir. Sebabnya, apa yang ada di dalam diri mereka berupa akidah yang rosak, serta hukum-hukum dan solusi-solusi yang rendah.
- Penjelasan akan tujuan-tujuan kaum kafir dan target-target mereka. Upaya mereka itu bertujuan menghancurkan institusi baru. Juga untuk menjadikan umat Islam tetap sebagai pengekor bagi politik mereka, rampasan untuk memajukan perdagangan dan industri mereka, serta menjadi pasar bagi produk-produk mereka.
Demikian juga penjelasan bahawa permusuhan mereka itu memancar dari kebencian mereka kepada umat Islam dan agamanya sebagai suatu umat yang mengemban agama ilahi samawi.
Berangkat dari titik tolak yang bersifat keyakinan itu, mereka iaitu kaum kafir, sangat ingin untuk menghancurkan umat Islam. Mereka sangat ingin agar cahaya ilahi ini tidak bersinar dan tidak muncul di muka bumi ini dalam bentuk institusi politik yang memiliki kekuatan dan kekuasaan.
Pada Bahagian terdahulu juga, kami telah sebutkan sejumlah ayat dan hadis yang membicarakan tentang kebencian kaum kafir tersebut.
- Memahami hakikat sejarah dari abad ke abad sejak masa Rasul SAW hingga masa kita kini. Juga menjelaskan dan menyingkapnya kepada umat Islam. Hal itu untuk menjelaskan hakikat praktikal yang dibenarkan oleh berita dan Allah. Pada waktu yang sama, memprovokasi umat untuk melawan kebuasan kaum kafir dan cara-cara hina mereka dalam merealisasikan tujuan-tujuannya yang hina melawan umat Islam.
- Memobilisasi secara aqliyah dan nafsiyah untuk mendorong umat agar mahu berkorban, lebih mengutamakan orang lain, saling membahu secara sosial di antara masyarakat dalam menghadapi embargo, dan mengatasi kurangnya sumber-sumber dalam negeri di dalam Daulah.
Inilah yang secara nyata dilakukan oleh Rasul SAW pada masa awal dakwah, juga pada waktu-waktu sulit serta terjadinya krisis ekonomi dan politik. Beliau mendorong untuk saling membahu (menanggung satu sama lain). Beliau juga menjelaskan besarnya pahala di sisi Allah SWT atas hal itu. Beliau mendorong untuk berkorban jiwa dan harta demi kemaslahatan masyarakat. Beliau menjelaskan balasannya yang baik di sisi Allah Taala.
Sumber: dr. Hamdan Fahmi, Khilafah Rasyidah.