[Khilafah Rasyidah] Mobilisasi secara Pemikiran dan Maknawi (Bahagian 2/2)
Penulis: dr. Hamdan Fahmi
(Sambungan dari Bahagian 1/2)
Jika terwujud keyakinan internal untuk tegar, melawan, dan beraktiviti demi kejayaan prestasi agung tersebut, hal itu akan menciptakan keadaan yang kondusif bagi negara dalam mewajibkan perundang-undangan untuk hidup sederhana dan dalam mewajibkan berbagai program. Hal itu kerana upaya mengatasi kekurangan akan terjadi di tengah masyarakat secara automatik yang berasal dari dorongan internal.
- Membangkitkan pemahaman terdalam—berhubungan dengan akidah Islamiah—di dalam hati masyarakat, khususnya masalah balasan di akhirat.
Pemahaman terdalam jika dibangunkan dan dibangkitkan di dalam diri seorang muslim, maka akan menjelma menjadi peribadi yang berkomitmen dan antusiasme, suka berinfak, memberi, dan berkorban. Dia tidak akan berkira-kira terhadap kesulitan dan kesukaran yang akan ditemuinya dalam melakukan semua itu.
- Mengukuhkan pemahaman tentang jemaah, komando, dan kepemimpinan di dalam minda masyarakat. Hal itu dengan jalan menjelaskan makna individu dan jemaah, serta ikatan di antara mereka.
Minda masyarakat di dalam Daulah hendaklah dikukuhkan pemahamannya tentang pentingnya menjaga kesatuan jemaah dengan menjaga institusi Daulah dan kepemimpinannya. Sebabnya, Daulah adalah ibarat kapal yang memuat putera-putera masyarakat di tengah gelombang permusuhan negara-negara kafir. Jika kapal tersebut karam, anak cucu umat ini akan kembali tenggelam di dalam lumpur kekufuran dan pengekoran.
Kesengsaraan akan kembali berkali ganda lebih dari sebelumnya. Oleh sebab itu, setiap muslim dituntut untuk mempertahankan perbatasan yang ia jaga. Setiap muslim juga dituntut untuk mempertahankan dan menjaga kapal milik umat, sekaligus menjaga pemimpinnya.
- Mengukuhkan persepsi kemuliaan dan kehormatan di dalam akal dan jiwa putera-putera umat.
Umat yang mengetahui jati diri mereka, tidak akan rela, kecuali menjadi umat yang mulia dan tinggi. Pengetahuan tersebut memerlukan adanya penjelasan dan pemangkin dalam diri putera-putera umat Islam.
Umat Islam telah melalui berbagai tahap, realiti sejarah, dan berbagai krisis yang silih berganti sehingga telah melupakan hakikat itu sendiri. Akhirnya sampai pada tahap di mana majoriti umat ini menjadi rela dengan realiti yang dipaksakan oleh penjajah di atas leher-leher mereka. Bahkan kadangkala mereka merasa “senang” dengan realiti tersebut.
Masalah mengukuhkan pemahaman kemuliaan dan kehormatan bagi umat yang mengemban akidah yang unik dan hukum-hukum yang lurus, bukanlah hal yang sukar. Sejarah yang bercahaya belum terlalu lama berlalu. Dengan demikian, umat diingatkan kembali dengan sejarah mereka ketika mereka berdiri di pintu-pintu Perancis di Gunung Prans.
Umat diingatkan akan sejarahnya ketika mereka memasuki pelosok-pelosok Eropah Timur dan Rusia hingga Moscow. India dan Punjab di pelosok Asia pun tunduk kepada mereka. Umat diingatkan bahawa mereka dalam sejarahnya adalah umat yang tidak mengenal, kecuali kemuliaan dan kekuatan. Sebaliknya, mereka tidak mengenal kehinaan dan kepasrahan.
Masalah ini merupakan perkara mobilisasi paling penting dalam diri umat kerana akan menjadikan individu-individu umat bertindak dalam menghadapi dan melawan. Hal ini seperti tindakan orang mulia yang menginginkan kemuliaan, kekuatan, dan kehormatan. Bukan sebaliknya, tindakan orang hina yang diliputi kehinaan dan rela terhadapnya bertahun-tahun yang panjang.
Inilah point-point praktikal terpenting dalam memobilisasi umat melawan upaya kaum kafir untuk menjauhkan dari jalan Allah dan menghancurkan institusi umat.
Masalah mobilisasi umum bukanlah masalah yang sulit. Akan tetapi memerlukan pendekatan yang baik, pengulangan, ketekunan, dan kerja keras. Dengan demikian, pemahaman keberanian, pengorbanan, dan sikap teguh akan menjadi karakter umat individu per individu.
Alhamdulillah, umat ini memiliki banyak potensi dari para ulama, para pencetus inovasi, dan para pendorong motivasi dalam bidang ini. Umat juga memiliki cara dan sarana yang banyak dan mencukupi untuk menyampaikan pemikiran ini ke akal dan hati umat.
Jika umat telah sampai pada darjat yang tinggi dari mobilisasi secara aqliyah dan nafsiah, umat ini seperti yang telah kami sebutkan, hal itu akan menjadi daya pendorong dan kekuatan untuk menghadapi segala upaya kaum kafir. Umat tetap kukuh meskipun menderita kelaparan, kurang pakaian, dan kehilangan kesenangan hidup pada saat awal.
Dengan demikian, umat akan menjadi tiang penopang bagi Daulah, bukan menjadi beban. Umat akan menjadi penjaga yang terpercaya, bukannya pecundang. Umat akan menjadi kekuatan yang terdorong maju, yang bersamanya setiap institusi Daulah pun terdorong maju, bukan menjadi penambah beban bagi institusi Daulah.
Sumber: dr. Hamdan Fahmi, Khilafah Rasyidah.